
Alex baru saja keluar dari tubuh Aisyah dengan wajah yang sangat puas. Ia sampai mengecup bibir istrinya itu berkali-kali, mengucapkan ungkapan terima kasih sampai ribuan kali.
"Terima kasih sayang, kamu begitu sempurna." ujar Alex dengan peluh masih membanjiri tubuhnya. Aisyah hanya tersenyum meringis karena ada sesuatu yang beda yang ia rasakan setelah proses penyatuan mereka berdua.
Sejak bagian dari tubuh Alex keluar dari tubuh Aisyah, perempuan itu kemudian merasakan sebuah ledakan cairan putih bening menyusul terus menerus setiap beberapa menit sekali dari jalan lahirnya.
"Alex, ini apa?" tanya Aisyah khawatir. Ia sudah membersihkan diri setelah kegiatan menyenangkan mereka tetapi kemudian cairan itu keluar lagi dan lagi. Alex yang juga sudah membersihkan diri menatap telapak tangan Istrinya itu dengan pandangan khawatir.
"Apa yang kamu rasakan sayang? apakah sakit?" tanya Alex dengan wajah panik. Aisyah menggeleng, tapi detik berikutnya sebuah rasa yang sangat nyeri di bagian belakang pinggangnya tiba-tiba menyerang.
"Aaaaakh, Alex sakit." Aisyah menjerit kesakitan dengan tangan meremas pinggang belakangnya histeris.
"Aisyah, maafkan aku sayang kalau aku menyakitimu." Alex panik, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya bisa memijat kaki istrinya lembut.
"Alex, ini sakit sekali. Aku tidak kuat, Hhhh." Aisyah meringis lagi saat rasa sakit itu kembali datang, ia sampai mencengkram lengan Alex sampai berdarah. Pria tampan itu ikutan meringis perih, dari cengkeraman tangan istrinya.
"Aawwww Alex, ini sakit lagi, rasanya ini hampir putus Alex, tolong panggilkan bibi Sarah atau kak Omar. Aku tak kuat Alex huuuuuh Aaakh!" teriak Aisyah sembari berusaha menarik nafas dan membuangnya pelan.
"Kamu pakai bajumu dulu sayang." ujar Alex pada Aisyah yang memang belum memakai pakaiannya. Ia hanya mengenal handuk biasa.
Alex segera memakaikan piyamanya yang ia lemparkan tadi di lantai terus menutup bagian bawah istrinya dengan selimut.
"Tunggu aku Aisyah, aku akan segera kembali sayang." bisik Alex kemudian mengecup lembut bibir istrinya dan menghapus keringat dari dahi sang istri. Ia sendiri langsung memakai celananya dan memakai kaos yang tersampir di dalam lemari.
Dengan terburu-buru ia berlari ke arah kamar bibi Sarah kemudian mengetuknya dengan tak sabar.
"Bibi, Aisyah merasakan pinggangnya sakit sekali." ujar Alex saat bibi Sarah baru saja membuka pintu kamarnya. Perempuan itu hanya terdiam karena merasa kaget dengan berita yang tiba-tiba ini. Nyawanya saja belum terkumpul penuh karena baru bangun dari tidurnya.
"Mungkin ia akan segera melahirkan, Alex." jawab bibi Sarah kemudian kembali masuk ke dalam kamarnya dan memakai baju hangatnya. Ia pun mengikuti langkah Alex menuju sebuah kamar yang sedikit berjauhan dengan kamarnya sendiri tadi.
"Kenapa bibi mengikuti aku kesini?" tanya Alex pada bibi Sarah yang ikut melangkah kemanapun ia berjalan.
"Karena aku ingin melihat Aisyah." jawab bibi Sarah dengan wajah tanpa ekspresi.
"Astaghfirullah. Aisyah ada di kamarku bibi. Aku kesini karena ingin memanggil kak Omar dan juga ayah."
"Kenapa kamu tidak bilang Alex? kakiku kan jadi capek berjalan." gerutu bibi Sarah dengan suara sedikit kesal.
"Bibi kan tidak bertanya." jawab Alex yang ikut kesal.
"Ya sudah sekarang aku harus mengarah kemana? rumah ini terlalu besar. Aku takut kesasar." ujar bibi Sarah dengan tangan menyentuh kepalanya yang sedikit pusing karena dibangunkan secara tiba-tiba disaat ia sedang terlelap nyenyak. Alex menarik nafas kemudian melanjutkan,
"Putar tubuh bibi kearah timur kemudian sekitar 10 meter, bibi belok ke kanan. Dan cari kamar yang paling besar dengan pintu bercat putih. Ada namaku di daun pintunya bibi." jelas Alex dengan sabar.
Pria itu mencoba mengerti keadaan darurat ini yang membuat panik semua orang apalagi orang yang sudah tertidur seperti bibi Sarah yang mungkin belum mengumpulkan nyawanya dengan baik.
"Baiklah Alex, bibi akan mencarinya sendiri. Kamu cepat panggil Omar. Dan jangan bangunkan kak Yusuf. Ia tak boleh kaget dan khawatir."
Omar sedari tadi membolak-balikkan badannya tak bisa tidur. Rasa bahagia begitu memenuhi hatinya, mendengar kalau Anna ternyata sudah muallaf.
Ingin ia memeluk gadis itu sekarang dan melamarnya tetapi apa daya ini sudah sangat larut, Anna Peminov pasti sudah tidur.
Dan dengan tekad bulat ia akan segera menikahi gadis itu secepatnya.
Tok
Tok
Omar tersentak kaget dari lamunannya oleh suara ketukan di pintu itu. Ia melihat jam dinding di dalam kamar itu dengan pandangan mengernyit.
Jam 02 dini hari
"Siapa yang belum tidur ditengah malam seperti ini?" ujarnya pelan sembari memakai piyama dan memakai sendalnya. Tetapi ia memukul kepalanya pelan, ia kan juga belum bisa tidur diwaktu dini hari ini.
"Ada apa Alex?" tanyanya saat pintu ia buka dan yang nampak disana adalah Alex sang adik Ipar. Wajah pria itu tampak khawatir dan juga tegang.
"Aisyah mungkin akan melahirkan, ia sangat kesakitan dibagian pinggangnya. Cepatlah kak." jawab Alex sembari menarik tangan Omar sang kakak ipar.
"Tunggu sebentar. Aku tutup pintunya dulu." Omar pun dengan langkah cepat mengikuti Alex yang sudah berlari di hadapannya.
"Itu mungkin kontraksi Alex. Apa sudah sering terjadi?" tanya Omar sambil berlari mengiringi Alex. Dokter muda itu biasa seperti ini jika menemui pasien yang sedang gawat.
"Aku tidak tahu kak. Yang jelasnya aku tidak tega melihat Aisyah kesakitan seperti itu." jawab Alex kemudian berhenti berlari karena mereka sudah sampai di depan pintu kamarnya.
"Atau apakah aku terlalu kelewatan melakukannya kak?" tanya Alex dengan suara takut.
"Melakukan apa Alex?" tanya Omar penasaran.
"Aku baru saja mengunjunginya kak. Dan tiba-tiba ia kesakitan." jawab Alex dengan tangan meremas tengkuknya. Antara malu dan takut terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan calon bayinya.
"Itu justru bagus, diakhir-akhir bulan seperti itu bagus untuk sering berkunjung karena akan membuka jalan lahir untuk bayinya. InsyaAllah istrimu baik-baik saja." jawab Omar menenangkan seolah-olah ia pernah melakukannya.
Mereka berdua pun masuk ke kamar itu dengan rasa was-was dihati mereka. Tetapi yang mereka lihat justru sesuatu yang sangat luar biasa.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
Bagi sedekah votenya dong para readers yang caem dan ganteng, aku sudah update 3 bab lho hari iniπ, jariku kecemutan, hehehe.
Nikmati alurnya dan happy reading πππππ