Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 256 EMHD



"Well Miss Webber, maafkan aku karena aku tidak percaya padamu." jawab Nikita dengan wajah santai dan lumayan berhasil membuat Crisstoffer Anderson tersenyum senang karena jawaban itu yang ia inginkan.


"Apa?" mata abu-abu Julia Webber membola dengan jawaban Nikita. Gadis itu bukan saja kesal tetapi sangat marah karena Nikita Smith bahkan berani meraih tangan Crisstoffer Anderson untuk memperlihatkan kalau mereka berdua cukup akrab.


"Criss, katakan kalau kamu pernah melamarku dan rela mati untukku," ujar Julia meradang dengan pandangan mata tajam pada pria yang pernah dikhianatinya itu.


"Maafkan aku July tapi aku sekarang lebih memilih Nikita Smith daripada kamu," jawab Crisstoffer tanpa mau melihat wajah Julia Webber yang memerah karena marah.


Mata birunya hanya mau memandang Nikita Smith yang nampak berwajah datar dan tidak tersenyum sama sekali. Seketika perasaan gembiranya berubah menjadi sendu. Ia takut gadis berhijab itu hanya ingin menghibur hatinya untuk sementara waktu.


"Kalau anda punya malu, silahkan anda pergi dari kamar calon suami aku." ujar Nikita sembari memandang ke arah pintu.


"Anda tahu jalan keluar kan Miss Webber?" lanjut Nikita dengan tersenyum miring.


"Criss, tega kamu sama aku? Aku jauh-jauh dari Birmingham dan kamu memperlakukan aku seperti ini?" Julia menatap wajah Crisstoffer dengan emosi didadanya.


"Awas kamu Criss! akan aku tunjukkan kalau kamu tidak akan pernah bahagia dengan gadis yang tidak selevel denganmu ini. Gadis miskin yang tidak mengerti mode, lihat caranya berpakaian itu!"


"Kamu akan dipermalukannya Criss, gadis ini hanya ingin menumpang ketenaran karir dan keluarga padamu, dengarkan aku Criss!" Julia terus mengeluarkan kata-kata yang cukup mampu membuat kuping pria itu jadi panas.


"July diam kamu!" bentak Crisstoffer dengan suaranya berat.


"Kamu dari komunitas mana hah? tiba-tiba saja masuk ke dunia kami," Julia menunjuk wajah Nikita seakan ingin menunjukkan strata sosialnya pada gadis itu.


"Kamu tidak tahu siapa keluarga Webber di London?! bagaimana hubungan kami dengan Westminster Abbey?!" Nikita tersenyum miring lalu balas menatap gadis bermata abu-abu itu.


"Sesungguhnya kehormatan seseorang itu tidak dinilai dari harta maupun kedudukannya di masyarakat Miss Webber. Tetapi mampu tidaknya ia memanusiakan manusia. Dan ya, perlu anda tahu bahwa adab lebih penting daripada kedudukan sosial yang anda bangga-banggakan itu." tandas Nikita yang langsung berhasil membungkam mulut Julia Webber.


"July, kamu lihat calon istriku? ia yang paling pantas menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Sekarang pergilah dari sini dan berhentilah mempermalukan dirimu seperti itu," ujar Crisstoffer Anderson dengan wajah yang sangat bahagia.


"Criss, kapan kamu bertemu dengan gadis miskin yang sok tahu seperti ini? berapa lama kamu mengenalnya sampai kamu lupa cintamu padaku, hah?!" sepertinya Julia Webber belum sadar kalau semakin ia bicara maka ia semakin membuka kekurangannya sendiri.


"Apa yang sudah diberikannya padamu Criss, tubuhnya? iyya?"


"Dan apakah ia lebih memuaskan kamu daripada apa yang pernah aku berikan?"


"July!"


Plak


Nikita tanpa sadar mendaratkan satu telapak tangannya di pipi gadis itu. Ingin ia mencabik-cabik mulut gadis yang mengaku berpendidikan dan berstrata sosial itu.


"Nah benarkan? gadis miskin yang sok tahu, yang hanya punya tubuh yang bisa ia berikan akan segera tersinggung dan berani mengatakan tentang adab?" Julia meradang dan semakin menyerang Nikita dengan kata-kata yang sangat menyakitkan dan berhasil mendapatkan lagi satu tamparan keras dari gadis berhijab itu.


"Itu yang kamu bilang adab tanpa ilmu nona Smith?" sarkas Julia Webber dengan tangan siap menarik kerudung Nikita tetapi Crisstoffer Anderson dengan susah payah menghalau tangan gadis itu hingga tangannya yang sedang digift kembali retak.


"Awwww!" kedua gadis yang bertikai itu langsung menatap Crisstoffer Anderson yang mengeluh kesakitan dan bersiap menolong.


"July jangan sentuh aku, keluar sekarang juga!" teriak Crisstoffer Anderson dan tidak bersedia disentuh oleh gadis itu.


"Baiklah Criss, aku pergi dan ingatlah kalau kamu sudah menyakiti aku!" Julia Webber meninggalkan kamar perawatan itu dengan menghentakkan kakinya kesal.


"Maaf Pak Anderson, aku sudah membebaskanmu dari perempuan itu, aku kira tugas aku sudah cukup," ujar Nikita Smith dengan wajah tak terbaca.


"Niki? kamu tega padaku? tanganku kembali retak sayang," ujar Crisstoffer dengan suara memohon.


"Akan aku panggilkan dokter. permisi," jawab Nikita kemudian segera keluar dari kamar perawatan itu. Crisstoffer Anderson hanya bisa mengelus lengannya yang sakit sembari menarik nafas berat.


Nikita Smith menyusut air matanya dibalik pintu kamar perawatan itu. Ia tidak tahu kenapa hatinya sangat sakit dengan kata-kata mantan kekasih pria itu.


"Niki, ada apa? kenapa kamu menangis disini?" tanya Elif Kaya yang ternyata datang untuk membesuk pak Crisstoffer Anderson sang dosen.


"Elif?" Nikita menatap sahabatnya itu kemudian memeluknya erat.


"Ada apa Niki? apakah Pak Anderson meninggal?" tanya Elif dengan wajah bingung.


"Kalau ia meninggal mungkin itu lebih baik, setidaknya aibnya bersama mantannya itu tidak perlu aku tahu," jawab Nikita dengan wajah kesal.


"Aib dengan mantan? ya Ampun Niki apa yang sedang kamu bicarakan?"


Nikita tidak menjawab. Ia masih sangat kesal dengan kata-kata gadis itu kalau Crisstoffer pernah merasakan tubuhnya.


"Niki, jangan melamun, bawa aku masuk. Aku ingin melihat calon suamimu itu."


"Elif!"


"Maaf, jangan marah sayangku, bukan calon suamimu tapi calon saudara iparku hehehe," Elif tertawa renyah melihat wajah Nikita yang semakin cemberut.


"Elif!"


"Iya aku salah, aku minta maaf, bawa aku melihat kondisi Pak Anderson dosen tampan kita," ujar Elif dengan senyum diwajahnya.


Akhirnya mereka berdua pun kembali masuk ke kamar perawatan itu dan melihat Crisstoffer Anderson mengetatkan rahangnya karena sakit yang teramat sangat dilengannya yang patah kembali.


"Pak Anderson, apakah sakit sekali sampai keringat anda keluar seperti itu?" tanya Elif dengan wajah khawatir.


"Iya Elif, aku sangat kesakitan dan sahabatmu tidak percaya padaku." gerutu Crisstoffer sembari melirik wajah Nikita yang berpura-pura tidak mendengar. Gadis itu sengaja membuang wajahnya ke segala arah.


"Apa aku harus memanggil dokter anda, Pak?" tanya Elif lagi berusaha ingin membantu.


"Uncle Omar ahli bedah tulang, kurasa aku hanya ingin bertemu dengannya." jawab pria itu dengan berusaha menahan rasa sakit dilengannya.


"Maukah kamu membantuku Elif untuk turun dari ranjang ini?" tanyanya pada Elif tapi matanya menatap Nikita Smith.


Pria itu sangat berharap gadis pujaannya lah yang mau menawarkan bantuan. Elif juga menatap Nikita agar gadis itu saja yang membantu calon suaminya.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍