Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 85 EMHD



Mohammad Yusuf sudah tidak bisa berbuat banyak kecuali hanya bisa memasrahkan semua yang terjadi kepada Tuhan.


Aisyah yang baru saja mendengar kabar kalau suaminya kecelakaan kembali tak sadarkan diri. Akhirnya ia juga dibawa ke rumah sakit di mana Alex saat ini dirawat.


"Bibi, bagaimana keadaan Alex?" tanyanya saat mulai siuman. Ia ingin langsung bangun tetapi dilarang oleh bibi Sarah.


"Istirahatlah. Suamimu sedang ditangani oleh dokter terbaik di Dagestan."


"Kakakmu juga turun tangan membantu tim dokter di sini. Insyaallah, ia akan baik-baik saja." ujar Bibi Sarah sembari mengelus lembut kepala perempuan cantik itu.


"Bibi, aku tak bisa tenang kalau belum melihatnya. Bolehkah kamar kami disatukan saja?" tanya Aisyah penuh harap.


"Omar akan mengurusnya sayang. Sekarang minum susumu dulu. Seharian ini kamu bahkan belum makan sesuatu pun." bibi Sarah membantu Aisyah untuk bangun kemudian meminumkan segelas susu untuk ibu hamil untuknya.


"Sudah bibi. Aku sudah kenyang." ujar Aisyah menolak menghabiskan susu itu yang tersisa sedikit.


"Habiskan sayang, supaya kamu dan bayimu kuat." bujuk bibi Sarah dengan tanpa lelah membujuk agar perempuan itu mau memperhatikan kesehatannya, hingga ia pun menurut dan menghabiskan cairan putih berasa vanila itu sampai tandas.


"Sekarang biarkan aku ke kamar Alex bibi. Aku tidak akan tenang di sini." ujar Aisyah yang merasakan tubuhnya sudah kembali kuat. Bibi Sarah akhirnya menyetujui permintaan perempuan keras kepala ini. Jika menginginkan sesuatu maka harus segera dituruti.


Di lorong Rumah Sakit mereka berdua bertemu dengan Omar dan juga Maksim.


"Kak, bagaimana Alex?" tanya Aisyah dengan tak sabar.


"Sudah ditangani oleh tim dokter terbaik di sini. Kamu tenang saja." jawab Omar tersenyum. Ia ingin adik perempuannya itu tidak berpikir macam-macam dan juga tidak lagi terlalu khawatir.


"Apa ada cedera atau apa itu, kak. Tolong jelaskan padaku!" Aisyah menyentuh tangan Omar dan memaksanya menceritakan yang sebenarnya.


"Aisyah, tenanglah. Ada cedera di kepalanya hingga mengeluarkan banyak darah tapi Alhamdulillah tidak parah." jawab Omar dengan balas menggenggam tangan adik perempuannya itu.


"Apa aku boleh menemuinya kak?" tanya Aisyah lagi dengan pandangan mata memohon.


"Ia masih belum siuman adikku. Kamu istirahat saja di kamar mu. Dan yah kandunganmu masih sangat muda. Jangan terlalu banyak bergerak dan berpikir macam hingga membuatmu stress." jelas Omar sembari mendorong kembali kursi roda yang ia gunakan untuk melihat Alex.


Dokter itu mengambil alih dari pegangan bibi Sarah. Ia tak mau Aisyah terlalu khawatir.


"Apa tidak ada luka atau cedera lainnya? katakan padaku kak?" tanya Aisyah lagi. Ia tidak percaya sepenuhnya akan penjelasan kakak laki-lakinya itu.


"Aisyah, tenangkan dirimu ya? dari hasil foto ronsennya yang aku lihat, Alex mengalami Sternal fracture atau fraktur sternum dan juga Diskolasi sendi." jelas Omar dengan hati-hati.


"Sepertinya ia sedang tidak menggunakan sabuk pengamannya sewaktu terjadi kecelakaan hingga mendapatkan benturan yang cukup keras pada bagian kepala, dada, dan lututnya.


"Apakah itu parah kak?" tanya Aisyah khawatir.


"Sternal fracture atau fraktur sternum adalah keadaan di mana tulang dada patah. Penyebab paling umum dari hal ini adalah trauma benda tumpul, seperti kecelakaan kendaraan atau cedera olahraga. Beberapa gejala fraktur sternum meliputi: Nyeri dada, bisa bertambah parah saat batuk atau bernapas dalam-dalam. Memar. Pembengkakan."


"Sedangkan Pergeseran atau diskolasi sendi bisa saja terjadi terutama saat lutut mengalami hantaman kuat.


Kerusakan lutut jenis ini diketahui dapat menyebabkan kerusakan parah pada semua komponen penyusun lutut. Kerusakan juga bisa menimpa sistem saraf dan pembuluh darah pada lutut." jelas Omar sesuai dengan ilmu dan keahliannya.


"Bawa aku bertemu Alex kak, kumohon." air mata Aisyah kini kembali menetes. Ia sungguh ingin bertemu dengan suaminya sekarang.


Dalam hati Aisyah terus berdoa semoga apa yang disampaikan kakaknya itu tidak benar. Ia memang sering tidak percaya pada hasil pemeriksaan dokter ketika berhubungan dengan tulang. Ia selalu punya cara sendiri untuk membuktikan langsung dengan menyentuh bagian yang sakit atau cedera itu.


Entahlah, ia sendiri sering bingung dengan keahliannya itu. Hingga ia sering berbeda pendapat dengan kakaknya yang jelas-jelas ahli di bidang orthopedi.


Ketika pintu terbuka dan sosok pria yang sangat ia cintai itu nampak di pandangannya ia segera ingin berdiri dan segera berlari memeluknya. Tapi Omar segera menahannya.


"Aisyah ingat kondisimu." tegur Omar pada adiknya yang ia tahu sangat keras jika cinta dan begitu pun sebaliknya keras hati jika benci.


"Aku tinggal ya. Hubungi aku jika kamu ingin kembali ke kamarmu." ujar Omar dan berniat meninggalkan Aisyah berdua saja dengan Alex di ruangan itu.


"Aku tidak akan kemana-mana sampai Alex sembuh kak. Urus saja kepindahanku ke sini." jawab Aisyah tanpa mau melihat kakaknya. Ia tak ingin sedikitpun meninggalkan tatapan rindu dan sedihnya dari wajah suaminya.


"Hem." jawab Omar singkat. Ia lalu keluar dari ruangan itu dan menutup pintunya dari luar. Mengajak Bibi Sarah dan Maksim untuk beristirahat di kantin. Makan atau minum.


Sedangkan Aisyah di dalam sana, mulai menelisik wajah suaminya yang masih menutup matanya dengan nafas teratur. Kepalanya yang diperban dengan kain kasa putih itu membuatnya benar-benar tampak seperti seorang pasien.


Tangannya bergerak membuka selimut yang menutupi tubuh suaminya. Memeriksa dengan cekatan setiap cedera yang diceritakan oleh kakaknya. Jari-jarinya membuka pakaian pasien yah sedang dipakai suaminya itu, meraba tulang dadanya yang katanya ada cidera di sana. Ia tersenyum samar, yakin kalau suaminya ini masih akan sangat kuat mengangkat tubuhnya.


"Ini tidak parah." ujarnya pelan kemudian mencium dengan lembut dada bidang suaminya itu. Diantara senyumnya itu ia berbisik.


"Kamu sepertinya cuma butuh obat ini." ia lalu menutup pakaian itu kemudian mulai menyentuh lutut yang sedang diperban itu.


Ia berdiri ke arah lemari pendingin, mengambil air dingin di dalam sana. Aisyah berharap ia bisa membuka perban dari dokter yang menangani suaminya itu. Ia ingin mengompres lutut Alex dengan air es agar tidak mengalami pembengkakan saat sadar nanti.


Setelah ia mengompres dengan air es selama sekitar 20 menit ia kembali memasang perban itu dengan rapih kembali.


Kembali ia duduk dengan tenang di samping Alex, sang suami.


"Alex, kamu tidak mau melihatku lagi ya?" tanya Aisyah pada sosok yang masih betah menutup matanya itu.


"Sampai-sampai kamu sengaja tidak sadarkan diri seperti ini, iyya?" lanjutnya lagi dengan nada tanya, seolah pria tampan itu bisa mendengarnya. Ia ingin mengeluarkan uneg-unegnya selama ini meskipun Alex tidak mendengarkannya. Agar hatinya lebih tenang dari rasa bersalah.


"Kamu masih marah padaku? hanya karena aku cemburu pada perempuan-perempuan itu?" lanjut Aisyah kemudian menyusut air matanya.


Setiap ia mengingat bagaimana para perempuan partner ranjang suaminya di masa lalu itu bercerita tentang begitu hebatnya Alex memperlakukan mereka. Sungguh hatinya mendidih. Bukan ia tidak mau memaafkan suaminya. Tapi ia tidak bisa menghindari rasa cemburu di dalam hatinya.


"Salahkah kalau aku cemburu pada mereka? kalau salah biar aku saja perempuan di dunia ini yang menjadi keras hatinya karena cemburu dan tak mau berbagi." hijab yang ia gunakan akhirnya berubah fungsi menjadi penghapus ingus dan juga air mata.


"Ya ya, aku perempuan yang sudah sangat berdosa karena telah menolak suaminya. Maafkan aku untuk itu, Alex. Tapi, tolong biarkan hatiku bisa menerima apa yang sudah ditakdirkan untukku ini." Ia terus menangis mengeluarkan semuanya.


"Aku tidak sekuat mereka yang mau menerima begitu saja apa yang kamu lakukan di masa lalu, hiks. Karena aku hanya perempuan biasa, Alex..."


---Bersambung--


Aisyah, othor ikut nangis, hiks😭 cup cup...jangan nangis lagi dong...


Mana nih dukungannya untuk mbak Aisyah...Like dan komentar dong...


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍