Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 29 EMHD



POV Alexander Smith


Nikita dan Aisyah menyambut kami di depan pintu saat kami baru tiba. Senyum bahagia terlihat jelas di wajah dua perempuan beda usia itu.


"Daddy!" teriak Nikita saat aku baru turun dari mobil. Ia mulai berdiri sendiri dan melangkah pelan ke arahku. Tangannya memegang dinding rumah sebagai tumpuan, aku langsung berlari ke arah putri kecilku itu. Aku takut dia terjatuh. Ini pertama kalinya aku melihatnya meninggalkan kursi rodanya.


"Daddy!" sekali lagi ia berteriak sambil menggapai diriku yang sudah berjarak sangat dekat dengannya.


"Alhamdulillah. Kamu bisa berdiri sayang?" ucapku kemudian menghujani wajahnya dengan ciuman bahagia.


"Of course dad. As you see." ujar Nikita bangga. Bulir keringat memenuhi wajahnya. Aku mengalihkan pandangan khawatirku ke arah Aisyah yang sedang bersandar di depan bingkai pintu. Gadis itu terlihat sangat santai dengan melipat tangannya di dadanya.


"Tidak apa tuan, ia banyak berlatih hari ini. Dan lihat Nikita bisa kan." ujar gadis berhijab itu dengan senyum di bibirnya.


"Terima kasih." ujarku pelan dan aku berharap gadis itu mendengarnya.


🍁


Aku tersentak kaget saat Maksim memukul bahuku keras. Rupanya pandanganku tak lepas dari Aisyah Putri paman Yusuf yang sedang menata makanan dan minuman di atas meja di dalam dapurku. Gadis muda itu menyambut kami dengan berbagai macam suguhan yang sepertinya ia masak sendiri di dapur.


Pandangan kualihkan berkeliling melihat begitu kacaunya dapurku. Nampak seperti sedang ada Peperangan di dalam sini. Dalam hati aku berharap semoga masakannya tidak lebih hancur dari kondisi dapurku.


"Silahkkan dinikmati. Ini ungkapan syukur kami karena tuan Alex kembali ke rumah dalam keadaan sehat." ujar Aisyah dengan senyum yang tidak pernah luntur dari bibirnya. Nampak sekali kalau ia sangat senang hari ini.


"Daddy, ini aku yang masak bersama ibu Aisyah." Nikita menatapku dengan wajah bangga. Aku mengirimkan cium jauh untuk putriku itu karena ia duduk berjauhan denganku.


"Love you dad, hihihi." jawab Nikita sambil cekikikan. Ia menangkap ciumanku itu dan meletakkannya di atas piring di depannya. Semua orang ikut tertawa melihat tingkahnya itu. Kembali aku mengamati seluruh makanan yang tersedia di meja, ada blink, pelmeni, dan beef stroganof.


"Baiklah kami akan mencicipinya. Mari silahkan paman." aku mulai mencicipi masakan yang sepertinya dibuat dengan hati senang karena rasanya begitu nikmat.


"Ini lezat sekali." Maksim dan Albert memuji sambil mengacungkan kedua jempol mereka. Kulihat Aisyah tertawa senang.


"Putri paman ternyata pintar memasak. Lain kali undang kami makan malam di rumah paman." ucap Albert tak tahu malu. Ia paling suka makan.


"Tentu saja, kami akan mengundang kalian sebentar malam. Aisyah sedang ingin merayakan sesuatu, iyyakan putriku?"


"Ayah betul sekali. Kami berharap kalian semua bisa datang memenuhi undangan kami. Terutama Nikita."


"Yeay, aku suka pesta. Pasti akan ramai." Nikita memeluk tubuh gadis itu dengan wajah gembira.


"Apakah semua teman kelasku diundang bu?" lanjut gadis kecilku dengan mata berbinar. Aku tahu ia sangat suka bertemu banyak orang.


"Tentu saja sayang, semua temanmu akan datang karena ini hari spesial untukmu."


"Ini hari ulang tahun mu Niki." Maksim yang menjawab karena ia ingat betul hari kelahiran putriku itu.


"Maafkan Daddy sayang, aku lupa hehehe." jawab ku cepat takut Nikita merajuk.


"Selamat hari ulang tahun Nikita." ujar Maksim dan Albert bersamaan. Mereka berdua menghampiri putri kecilku itu dan memberikan ciuman dan pelukan hangat. Mau tidak mau aku juga berdiri dari dudukku dan memberinya selamat.


"Terima kasih uncle Max, uncle Al, I love you all." balas Nikita dengan senyum terkembang.


"Kamu minta hadiah apa dari kami sayang?" tanya Maksim sambil menggendong tubuh mungil Nikita.


"Aku minta uncle belajar bersama Daddy."


"Belajar apa?"


"Belajar memasak supaya daddy tidak capek memasak sendiri hihihi." jawab Nikita merasa lucu. semua orang kembali tertawa dengan jawaban putriku itu. Aku segera meraih Nikita dari gendongan Maksim. Kubawa gadis kecilku itu untuk duduk di atas meja.


"Daddy akan memberimu hadiah spesial."bisikku ditelinganya.


"Spesial?" tanyanya dengan mata berbinar. Ah bayangan Paula muncul lagi diantara kami.


"Iya spesial."


"Apa?" tanyanya penasaran. Aku membisikkan sesuatu dikupingnya dan ia langsung tertawa cekikikan.


"Itu bukan hadiah spesial dad." jawabnya lantang masih dengan senyum di bibirnya.


"Aku tidak mau yang itu aku maunya ini," jawab Nikita cepat dan langsung balas berbisik di telingaku. Jantungku kurasakan berhenti berdetak. Aku menatap semua orang yang ada di ruangan itu. Dan tatapanku berhenti pada netra tua paman Yusuf.


---Bersambung--


Dukung terus karya ini ya gaess, Like dan komentar sangat othor harapkan agar semakin semangat.


Sambil mencari tahu hadiah apa yang diinginkan Nikita yuk mampir di karya teman aku, bagus lho...


Dendam Cinta Sang Bodyguard by Uma _Bie.


Hati siapa yang tidak hancur, saat sebuah hari istimewa yang diharapkan akan berbuah kebahagiaan. Tapi apa yang di dapatkan oleh Amber Wilson sang wanita tangguh ini, sebuah kesedihan dan perasaan kecewa, ketika sang kekasih tak kunjung datang tepat dihari pernikahan mereka. Sang kekasih yang begitu ia cintai mendadak menghilang dan tanpa jejak.


Hari-hari Amber ia habiskan hanya untuk menunggu sang kekasih, ia masih sangat berharap kekasih hatinya itu datang dan kembali padanya, tapi lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan.