Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 238 EMHD



Aisyah memeluk putrinya sembari mengelus lembut punggung gadis itu. Putri pertama Alexander Smith itu belum juga berhenti menangis meskipun jenazah William Anderson sudah dimakamkan sehari yang lalu di pemakaman muslim Birmingham Inggris.


Dua lembar kertas sebagai pesan terakhir almarhum membuatnya merasakan perasaan aneh yang tak bisa ia lukiskan dengan kata-kata. Gadis cantik itu sudah membacanya dan sekarang ia ingin Daddynya menjelaskan banyak hal padanya.


"Nikita sayang, Mommy Paula Anderson adalah ibu kandungmu seperti yang tertera di dalam kertas itu. Mommymu meninggal karena kecelakaan saat usiamu sekitar 4 tahun. Dan setelah itu kamu memaksa mommy Aisyah untuk kamu jadikan mommy pengganti."


"Mommy," Nikita kembali memeluk Aisyah dengan tangis yang kembali pecah. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ada keinginan untuk melihat wajah dari ibu kandungnya tetapi ia merasa segan pada Aisyah yang selama ini merawatnya.


"Kenapa sayang? katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Tidak akan ada yang berubah diantara hubungan kita meskipun kamu sudah tahu yang sebenarnya." ujar Aisyah dengan rasa haru di dalam hatinya.


"Bolehkah aku melihat gambar mommy Pal?" tanya Nikita sembari menyusut airmatanya. Aisyah memandang wajah suaminya meminta pendapat dari laki-laki yang pernah hidup dengan almarhumah Paula Anderson.


"Tentu saja kamu bisa melihatnya sayang, dan maafkan Daddymu ini karena tidak memberitahu ini sebelumnya padamu Niki," Alex meraih Nikita dari pelukan Aisyah. Sekarang ia ingin memberi kekuatan pada putrinya itu.


"Tidak masalah Dad, aku hanya ingin melihat wajah mommy Pal, apa betul kata kakek William kalau aku sangat mirip dengannya." jawab Nikita tersenyum, kemudahan melanjutkan,


"Dan ya, aku berterima kasih pada kalian karena melimpahkan banyak kasih sayang padaku terutama untukmu mom,"


"Iya sayang, meskipun kamu tidak lahir dikandunganku tetapi cinta dan kasih sayangku sama dengan yang aku berikan pada Danil dan juga Asma,"


Percakapan mereka selesai karena Alex membawa Nikita ke dalam ruang kerjanya. Pria itu menyerahkan beberapa album foto yang berisikan foto Paula dan juga dirinya yang tampak sangat bahagia sampai Nikita lahir dan berusia 4 tahun.


Nikita kembali merasakan tenggorokannya tercekat dengan hati menghangat. Penampakan Paula Anderson benar-benar mirip dengannya kecuali rambut dan juga warna matanya.


"Dad, boleh aku menanyakan sesuatu?" tanyanya sembari mengelus foto kebersamaannya dengan sang mommy kandung.


"Tentu saja sayang, tanyakan saja apa yang mengganjal dihatimu."


"Lihat dad, sewaktu aku kecil warna mataku biru seperti matamu, tetapi sekarang kenapa warna mataku berubah jadi hitam seperti mommy?"


Deg


Alex tersentak kaget. Ia tak menyangka putrinya akan menemukan kejanggalan di dalam foto itu. Pria itu menarik nafas panjang kemudian menjelaskan apa yang selama ini terjadi. Tak ada lagi rahasia yang akan ia simpan untuk Putrinya itu.


"Sewaktu kecelakaan itu, kamu terluka cukup parah di bagian kornea matamu hingga menimbulkan kebutaan," Nikita langsung meraba kelopak matanya dengan hati berdebar.


"Dan sebelum meninggal, mommymu mendonorkan matanya padamu sayang," Alex tak sanggup lagi melanjutkan ceritanya. Ia merasakan kesedihan pada waktu itu kembali mencabik-cabik hatinya.


Bagaimana pengorbanan yang begitu banyak Paula berikan untuknya dan Nikita Putrinya sedangkan ia belum membalasnya dengan memberikan kebahagiaan yang diminta perempuan itu.


"Alex," Aisyah memeluk suaminya dengan hangat. Ia tahu kenangan lama itu akan menggangu kestabilan hati suaminya karena seringnya ia menyesali perbuatannya pada Paula.


Nikita kembali menangis dan mencium foto mommy kandungnya dengan perasaan rindu dihatinya.


"Kak Niki, berhentilah menangis, kamu jadi tidak cantik lagi," ujar Danil yang tiba-tiba sudah berada di dalam ruang kerja itu. Nikita tersenyum sembari menyusut air matanya yang tiada henti membobol pertahanan dirinya.


"Aku tidak menangis Danil, lihat aku tersenyum seperti ini," jawab Nikita dengan berusaha menampakkan giginya yang teratur dengan rapih.


"Hidungmu memerah seperti tomat dan kakak bilang tidak menangis, kamu bohong," Danil tetap berusaha mengganggu gadis cantik itu agar ia tidak larut dalam kesedihan yang berlarut-larut.


"Tidak Danil, aku tidak menangis. Lihatlah," kedua kakak beradik itu akhirnya saling bercanda sampai suasana di kamar itu tidak lagi menyedihkan seperti tadi.


Tok


Tok


Tok


"Permisi tuan, maaf saya mengganggu," ujar kepala pelayan itu setelah pintu itu terbuka.


"Masuklah!" Alex memerintahkan kepala pelayan itu untuk masuk.


"Ada tamu yang ingin bertemu dengan tuan dan juga nona muda," ujarnya mengutarakan maksudnya mengganggu kebersamaan keluarga itu


"Siapa? apa mereka ada dalam daftar tamu yang akan datang hari ini?" tanya Alex sembari merapikan pakaiannya dan bersiap untuk keluar dari ruangan itu.


"Mereka adalah pengacara tuan William Anderson dari Birmingham Inggris."


Alex berhenti melangkah dan menatap Nikita yang juga sedang menatapnya.


"Temui dulu tamunya sayang, tak enak membiarkan mereka menunggu terlalu lama." ujar Aisyah yang juga ikut melangkah mengikuti suaminya.


"Baiklah, kita lihat apa yang mereka ingin sampaikan," jawab Alex kemudian meminta Nikita juga ikut dengannya menemui pengacara dari Birmingham itu.


"Saya Robert Pattinson dan ini Andrew Dickinson. Selamat siang, tuan Smith," sapa dua orang yang mengaku sebagai pengacara atau kuasa hukum dari William Anderson itu.


"Selamat siang tuan-tuan. Silahkan duduk." jawab Alex sembari mempersilahkan kedua tamunya itu untuk duduk.


"Maafkan kami tuan Smith, karena tidak membuat janji sebelumnya dengan anda."


"Tidak apa tuan, aku yakin ini karena urusan anda pasti sangat penting, betulkan?" Kedua tamu itu tersenyum kemudian mengangguk.


"Baiklah tuan, kami ingin menyerahkan ini pada anda sebagai wali dari Nikita Smith." ujar salah satu pria yang memakai jas abu-abu itu. Ia adalah Robby Pattinson, seorang pengacara yang cukup terkenal dari Birmingham.


Alex menerima sebuah map yang berisi beberapa wasiat dari William Anderson. Dengan mata tak percaya ia memandang Nikita dan juga kedua pengacara itu secara bergantian.


"Mohon maaf, kami tidak menerima wasiat maupun warisan ini," ujar Alex dengan wajah berubah warna.


"Tolong dipertimbangkan lagi tuan Smith, anda tidak harus menjawabnya sekarang. Dan juga anda bisa memikirkan jumlahnya yang cukup banyak itu," ujar Andrew Dickinson berusaha memahami perasaan dan jalan pikiran dari Alexander Smith.


Mereka berdua tahu betul kekayaan yang dimiliki oleh pria dihadapannya ini. Dan mereka juga yakin bahwa kemungkinan besar pria kaya di Moskow ini tidak akan menerima warisan itu karena mereka sudah tidak membutuhkannya.


"Tuan William Anderson sangat mengharapkan cucunya menikmati juga hartanya sebagai permohonan maafnya untuk ibu nona Nikita Smith," ujar Robert Pattinson berusaha mempengaruhi pria itu dan juga putrinya.


Alex menatap Nikita yang tidak mengerti apa yang terjadi.


"Ada apa Dad?"


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍