Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 118 EMHD



Maryam menggeliat pelan dibawah pelukan Maksim sang suami, azan subuh sudah berkumandang tetapi ia belum juga mau melepaskan diri dari rengkuhan pria yang beberapa bulan ini sebagai teman tidurnya.


"Sayang, bangun... sholatlah dulu baru tidur lagi." bisik Maksim dikuping istrinya sambil tak lupa mengecup bibir sang istri lembut.


Pria muda berstatus suami itu cukup maklum kalau Maryam masih sangat mengantuk. Sepanjang malam mereka berdua sibuk melakukan perjalanan ke nirwana sampai lupa pulang.


Ia sendiri tak pernah merasa cukup kalau hanya sekali mengunjungi tempat-tempat favoritnya ditengah-tengah perjalanan mereka, hingga sang istri mengaku kalah dan lemas tak bertenaga barulah ia menghentikan perjalanannya dan kembali ke bumi dengan perasaan nikmat yang tak terkira.


"Aku lelah Max, kalau aku bangun kepalaku pusing, semuanya terasa berputar." keluh Maryam tanpa membuka matanya. Ia merasakan tubuhnya gemetar. dan tak kuat untuk bangun.


"Baiklah sayang, aku yang akan ke masjid. Kamu tidurlah lagi. Nanti aku akan membawakanmu obat agar kamu bisa baikan lagi." ujar Maksim kemudian memindahkan tangan Maryam yang masih memeluknya ke arah samping agar ia bisa bangun dan mandi.


Setelah mandi dan memakai pakaian terbaiknya, ia pun berangkat ke Masjid di dalam kompleks rumah besar itu. Jamaahnya hanya mereka dan para pelayan yang sudah memeluk Islam.


Alex sendiri tidak pernah memaksakan keyakinannya pada semua pelayan dan pekerja di rumahnya. Ia memberikan kebebasan memilih keyakinan yang ingin mereka anut.


Setelah melaksanakan sholat subuh secara berjamaah yang dipimpin oleh Mohammad Yusuf. Albert dan Omar segera maju ke baris paling depan yang sejajar dengan sang imam.


"Ayah."


"Paman."


Ujar keduanya bersamaan.


"Paman."


"Ayah."


Sekali lagi mereka berdua Bersamaan berbicara. Sampai Alex dan Maksim saling berpandangan Kemudian sama-sama mengangkat bahu.


"Ada apa? siapa yang mau bicara terlebih dahulu?" tanya Mohammad Yusuf berusaha menengahi.


"Aku."


"Aku."


Keduanya untuk yang kesekian kalinya lagi-lagi bersamaan.


"Baiklah sekarang kalian berdua suit." ujar Alex ikut nimbrung. Ia jadi penasaran akan apa yang akan disampaikan kedua pria bujang yang tak laku-laku ini. Omar dan Albert saling pandang Kemudian mengangkat kedua tangannya untuk bersuit


"Gunting, batu, jari!" ucap keduanya bersamaan. Dan ternyata pemenangnya adalah Omar sang dokter karena tangannya membentuk batu sedangkan Albert membawa gunting.


"Aku duluan." ujar Omar senang. Semua tersenyum kecuali Albert.


"Katakan sekarang apa yang ingin kamu katakan!" titah Mohammad Yusuf dengan suara tegas.


"Aku ingin menikah sekarang ayah." ujar Omar dan langsung mendapatkan pelototan tajam dari semua orang.


"Sekarang?" tanya sang ayah dengan wajah tak percaya dengan pendengarannya.


"Iya ayah. Sekarang?"


"Aku tak perlu catatan sipil, aku mau sekarang ayah." kekeh Omar dengan ekspresi seperti anak kecil yang ngotot minta dibelikan mainan.


"Bukankah kamu orang berpendidikan Omar, kamu tahu pentingnya mencatat pernikahan di catatan sipil untuk melindungi hak-hak suami dan istri." jawab Mohammad Yusuf dengan suara tegas.


Omar langsung terdiam kemudian menunduk. Ia membenarkan perkataan sang ayah. Kalau begitu ia akan melamar Anna Peminov saja terlebih dahulu sambil mengurus beberapa dokumennya bersama Anna.


Lalu apakah gadis itu akan menerima lamaranku? Omar membatin.


"Albert sekarang giliranmu, apa yang ingin kamu katakan."


"Aku juga ingin menikah paman." jawab Albert dan langsung membuat ia yang jadi pusat perhatian sekarang.


"Bagus, aku bersyukur kalian berdua sudah meniatkan hal yang baik dan insyaallah diridhoi oleh Allah SWT. Dan sekarang aku ingin tahu siapakah perempuan itu? dan apakah mereka bersedia menikah dengan kalian juga."


"Aku yakin ia bersedia paman, ia yang memintaku menikahinya setelah apa yang aku lakukan padanya." jawab Albert cepat. Ia jadi teringat kejadian semalam, bagaimana ia melakukan pelepasan yang sangat nikmat hanya dengan memandang wajah Reisya saja.


"Apa yang kamu lakukan Albert?" tanya Mohammad Yusuf curiga.


"Aku..." Albert tidak melanjutkan perkataannya, ia tiba-tiba merasa malu.


"Apa kami sudah bersuci setelahnya Albert?" tanya Mohammad Yusuf lagi ingin memastikan kecurigaannya.


"Tidak paman, aku langsung tertidur setelah itu. Dan sekarang ada di sini." jawab Albert dengan wajah tak berdosa.


"Astaghfirullah hal adziim. Sekarang kamu harus kembali ke kamarmu untuk mandi besar kemudian ulangi sholat subuhmu. Kamu benar-benar harus menikah lebih cepat." ujar Mohammad Yusuf dengan tatapan tajam. Tanpa permisi Albert langsung kabur dari dalam Masjid.


"Ayo, aku ingin melihat cucuku. Pasti ia sudah bangun." ujar pria tua itu kemudian berdiri dari duduknya.


"Nikita maksud paman?" tanya Maksim ingin tahu.


"Kamu belum tahu ya Max dini hari tadi, Aisyah sudah melahirkan putraku yang sangat tampan."


"Hah? apakah itu benar paman? kenapa tidak ada yang memberitahu aku?" tanya Maksim masih dengan wajah tak percaya.


"Semalam kamu Sedang sibuk, aku tak ingin mengganggumu." timpal Alex tersenyum. Maksim langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lalu ikut berdiri.


Maksim akan memberi tahu kabar baik ini pada istrinya segera. Dan berharap ia juga bisa segera menjadi ayah. Kadang ia cemburu pada Alex yang sudah memiliki segalanya. Putri dan putra yang menggembirakan mata ketika memandang mereka.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍


Eh, tunggu dulu... mampir dong dikarya temannya othor nih, akak Tyatul judulnya ANISA, dijamin oke punya.