Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 157 EMHD



Reisya memeluk ayah dan ibunya dengan tangis tertahan. Keputusannya untuk mengikuti suaminya yang sudah ia pertimbangan masak-masak tetap saja membuatnya bersedih.


"Ibu ayah, jaga kesehatan kalian ya," ujar Reisya sembari menghapus airmatanya dengan selembar tissue yang diberikan oleh Albert sang suami.


"Iya, sayang. Kamu juga jaga kesehatan dan ingat untuk mematuhi perintah suamimu." ujar Suriya kemudian meraih kembali tubuh putri semata wayangnya kedalam pelukannya.


Sungguh berat hatinya berpisah dengan putrinya ini tetapi apa boleh buat demi kebahagiaan Reisya, mereka berdua harus mengalah.


"Ayah, maafkan Reisya kalau selama ini belum juga berhasil membanggakanmu."


"Kamu sudah menjadi anak yang berbakti pada orang tua dan suami saja itu sudah merupakan kebanggaan bagi semua orang tua di dunia ini nak,"


"Dan ya semoga keluargamu selalu bahagia dan juga cepat berikan ayah dan ibumu ini cucu." mendengar itu Albert langsung tersenyum lebar.


"Kalau yang itu jangan khawatir ayah, bulan depan aku yakin akan memberikan kabar baik tentang keinginanmu itu." ujarnya dengan jumawa.


Albert yakin diantara ribuan kecebong yang ia telah transfer pada sang istri pasti sudah ada satu yang berhasil singgah di dalam sel ovum Reisya tercinta.


"Hahahaha, kamu terlalu percaya diri Al, pastikan saja putriku ini sehat dan juga jaga perasaannya agar selalu bahagia. Karena kalau tidak, aku dan ibunya akan datang ke Moskow untuk menjemputnya pulang."


"Waduh ayah, jangan bilang seperti itu dong, mana mau aku menyerahkan istriku pada kalian sebelum ia bisa kubahagiakan dan kubuat hidupnya bagai di Surga." Abdul Rachman dan Suriya tertawa dengan ucapan menantunya.


Mereka berdua berharap apa yang dikatakan oleh sang menantu benar-benar menjadi kenyataan.


Kedua orang tua Reisya itu hanya ingin mendengar kabar bahagia saja dari pasangan pengantin baru ini.


"Baiklah ayah, kami pamit. Dan kami akan pulang ke sini kalau kalian meminta kami datang," ujar Albert kemungkinan memeluk tubuh ayah mertuanya.


Ayah ibu, kami pergi ya, do'akan kami semua selamat sampai di tujuan."


"Iya sayang, do'a ibu dan ayah akan selalu menyertai kalian semua." ujar Suriya dan kembali memeluk tubuh Reisya.


Entah kenapa mulut gampang untuk mengatakan perpisahan tetapi hati seorang ibu tetap merasa sangat berat.


Anggota keluarga Smith juga ikut berpamitan siang itu.


"Padahal aku berharap sekali kamu melahirkan di kota ini Maryam," ujar Suriya saat istri dari Maksim itu datang padanya untuk berpamitan.


"Aku juga berharap yang sama ibu, aku sangat menyukai udara di kota ini, tetapi kami harus pulang, ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh para suami kami." jawab Reisya sembari mencium punggung tangan Suriya, ibu mertua Albert.


"Semoga kamu melahirkan dengan lancar dan mudah."


"Terimakasih banyak ibu," ujar Maryam dengan perasaan haru, ia sudah lama kehilangan seorang ibu dan ia merasa nyaman dengan ibu Reisya yang sangat baik hati itu.


"Aisyah sayang, aku harap keluargamu bahagia nak," ujar Suriya ketika istri dari Alexander Smith itu tiba gilirannya untuk berpamitan.


Entah kenapa perempuan cantik itu langsung merasakan kesedihan yang teramat sangat akan kata-kata dari perempuan paruh baya itu.


Hatinya merasa disentil karena keadaan emosinya sedang tidak stabil. Ia langsung memeluk Suriya dan menangis tersedu-sedu.


"Doakan aku kuat ibu," ujar Aisyah dengan tangisnya yang semakin pecah.


"Sabar yah, setiap hubungan pasti akan mengalami masa pasang surut, bersabarlah dan tetap berprasangka baik. Aku tahu kalian bisa melewati semua ini,"


"Iya ibu terima kasih banyak." jawab Aisyah kemudian melepaskan pelukannya pada perempuan yang telah melahirkan Reisya itu.


Kacamata hitam kembali ia pakai. Andai ia bisa menghilang dari dunia ini saja akan ia lakukan. Ia tak pernah diabaikan dan dianggap orang lain seperti ini oleh keluarganya sendiri.


"Nyonya, ikut di mobil saya saja, kita hanya bertiga di sana." ajak Heru dengan senyum diwajahnya.


"Terimakasih Her, kamu selalu bisa diandalkan." jawab Aisyah dan segera membawa Danil untuk naik ke mobil Heru.


Dari arah mobil di belakangnya, Alex hanya bisa menarik nafas panjang melihat istri dan putranya itu ikut di mobil Heru.


Pria itu kemudian membawa Nikita menaiki mobil yang lainnya dengan perasaan tak terbaca.


🍁


Siang itu the Smiths berangkat menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin untuk bertolak ke Bandara Soekarno Hatta Jakarta kemudian akan melanjutkan perjalanan panjang mereka ke Moskow, Rusia.


Sepanjang waktu ketika mereka semua beristirahat di Bandara sewaktu pesawat transit di Jakarta, Alex hanya menyapa Danil seadanya.


Pria itu menghampiri Danil dan menyentuhnya singkat tanpa menegur Aisyah sama sekali. Mereka benar-benar seperti orang lain.


Tak seperti biasanya hal itu ia lakukan sedangkan ia sendiri tak pernah lepas dan berjauhan dengan Nikita putri pertamanya.


"Dad ddy," panggil Danil dengan suara yang lucu. Anak laki-laki itu menggapai sang Daddy yang sengaja melangkah menjauh setelah menyapanya sekilas.


Nampak sekali Danil masih ingin berdekatan dengan sang daddy. Ia bahkan menangis dan terus menggapaikan tangannya.


Rasa sedih dan kecewa kembali menyerang perasaan Aisyah. Dengan sekuat tenaga ia menahan tangisnya agar tidak pecah di tempat umum itu. Kaca mata dan masker adalah penolongnya sehingga tak banyak yang tahu bagaimana wajahnya yang menampakkan malu dan kecewa.


"Sama Mommy saja sayang, atau sama uncle Omar mau ya?" tanya Aisyah dengan suara bergetar menahan emosi didadanya. Ia sungguh ingin memakai Alex tapi tak mau membuat suasana perjalanan mereka terganggu.


"Dadadady," celoteh Danil dengan wajah senang setelah tubuhnya digendong oleh Omar. Kakak Aisyah itu hanya bisa menarik nafas berat.


Pria itu ikut kecewa dengan sikap Alex yang berubah sangat buruk seperti itu. Tetapi ia berusaha menahannya.


Untuk pengaturan kursi di Pesawat pun seperti itu. Aisyah dan Danil berdampingan sedangkan Alex bersama dengan Nikita.


5 pasang kursi berjauhan diatur oleh Alex sendiri agar mereka berdua tidak terlalu banyak berkomunikasi selama dalam perjalanan pulang.


Omar sebagai kakak dari Aisyah sangat mengerti kesedihan adik perempuannya itu.


Sekali lagi ia merasa harus mengalah dan hanya bisa menepuk bahu sang adik agar bersabar.


Ia memutuskan untuk diam saja terlebih dahulu, nanti setelah sampai di Moskow barulah ia ingin menegur Alex karena mengabaikan istrinya dengan sebegitu rupa.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


Eits, jangan lupa di favoritkan ya trus cek bab sebelumnya yang belum dilike, plis ya readers tersayang.


Biarkan othor juga senang ya meskipun Aisyah lagi bersedih 😭