Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 250 EMHD



Perasaan sedih masih terus menggelayut di wajah kedua perempuan cantik berhijab itu. Mereka yang begitu sangat dekat dengan pasien yang masih terbaring tak sadarkan diri di dalam ruangan Emergency Room rumah sakit itu, saling berpelukan.


Aisyah dan Anna tak berhenti menyusut airmatanya yang masih saja setia menemani sepinya ruang tunggu itu.


"Max, ceritakan padaku apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Anna pada Maksim yang sedang memberinya sebotol air mineral dan juga tissue. Maksim tidak menjawab.


Pria itu hanya memandang Alex, meminta agar kakak tertua Smith itu saja yang menceritakan kronologis kejadiannya.


"Alex, apakah kalian berada disana saat kejadian itu terjadi?" kali ini Aisyah yang bertanya pada suaminya.


"Ya, kami semua berada di sana saat kecelakaan itu terjadi, dan akulah penyebabnya Aisyee," jawab Alex yang langsung mendapat tatapan tajam dari Aisyah dan juga Anna.


Anna tidak tahu harus berkata apa, ia hanya bisa menangis dan menangis sembari terus berdoa semoga suaminya bisa lekas sadar dan kembali pulih.


"Tapi kenapa? apa salah kak Omar padamu, Alex?" tanya Aisyah dengan suara tercekat.


Seketika ia ingat bagaimana kakaknya yang telah mengatur pertemuan antara Nikita dan juga Crisstoffer Anderson. Apa mungkin gara-gara itu Alex sengaja mencelakai Omar, kakaknya?.


Alex menarik nafas panjang dan ingin menjawab tetapi Aisyah lebih dahulu membungkam mulutnya.


"Apa karena Kak Omar sudah menyetujui hubungan Nikita dan juga Crisstoffer, hingga kamu melakukan ini Alex?"


Deg


Alex balas menatap istrinya itu dengan pandangan tanya.


"Apa maksudmu Aisyee, tahu darimana kamu kalau kak Omar menyetujui perjodohan Nikita dengan pria itu?"


Aisyah dan Anna saling berpandangan dengan wajah khawatir.


"Keluarga dokter Omar?" tanya seorang dokter muda yang tiba-tiba menjeda percakapan keempat orang itu. Alex dan Aisyah langsung mendekat pintu ruangan Emergency Room itu diikuti oleh Anna dan Maksim.


"Ada apa dokter?" tanya Alex dengan dada berdebar. Berharap berita yang disampaikan oleh dokter itu adalah berita yang menggembirakan.


"Dokter Omar sudah bisa merespon rangsangan yang kami berikan. Dan anda bisa melihatnya sekarang," ujar Dokter itu yang disambut oleh tarikan nafas syukur dari semua orang.


"Alhamdulillah, ya Allah," Anna bersujud syukur mendengar kalau suaminya ternyata sudah mengalami masa krisisnya.


"Silahkan masuk," dokter itu mempersilahkan semuanya untuk masuk.


"Bagaimana dengan dokter Anderson, apakah ia baik-baik saja?" tanya Alex pada dokter itu sebelum masuk ke ruangan Emergency Room itu.


"Ia masih belum merespon semua rangsangan yang kami berikan. Berdoalah semoga ia segera menyusul dokter Omar." jawab dokter itu dan langsung membuat Aisyah menghentikan langkahnya.


"Ada yang ingin kalian jelaskan padaku?" tanyanya pada Maksim dan juga Alex, suaminya.


"Hum, kak Omar dan juga Crisstoffer sedang bersama pada saat kecelakaan itu sayang, dan kami juga ada disana untuk menyelamatkan mereka tetapi malah berakibat fatal seperti ini."


"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan Alex, aku masih menunggu penjelasanmu, okey?" Alex hanya mengangguk dan bagaikan harimau kehilangan taringnya hanya karena tatapan tajam dari perempuan yang sangat dicintainya itu.


"Sayang, apa kamu bisa mendengarku?" bisik Anna pada kuping suaminya yang masih betah menutup matanya itu.


"Kak Omar, Anna dan aku di sini, apa yang kamu rasakan kak?" tanya Aisyah dengan wajah sedihnya. Dengan perlahan Omar membuka kelopak matanya dan melihat dua perempuan yang sangat dicintainya itu sedang menatapnya dengan pandangan sedih dan juga khawatir.


"Criss, bagaimana kabarnya anak itu?" tanya Omar setelah lama terdiam. Ingatan terakhir kali saat ia bersama pria muda itu terguling dan terjepit di dalam mobil itu membuatnya ingin tahu keadaannya.


"Oh, no. Aku ingin membantunya," ujar Omar yang langsung ingin bangun dari ranjangnya tetapi ditahan oleh semua orang di ruangan itu termasuk oleh dokter yang sedang merawatnya.


"Dokter jangan terlalu bergerak. Benturan di kepala anda cukup riskan, jadi sebaiknya anda istirahat dan tidak melakukan hal-hal yang mungkin menghambat pengobatan anda, dokter."


"Aaaaargh, " Omar mengeluh bukan karena kesakitan tetapi ia menyesali dirinya yang tidak bisa berbuat banyak untuk pria muda itu.


"Istirahatlah sayang, jangan memikirkan Crisstoffer terlebih dahulu," bisik Anna dengan berusaha menghibur suaminya itu.


"Bawa Nikita padanya, Aku yakin kalau Nikita mau merawatnya, Crisstoffer pasti melawan penyakitnya dan bangun kembali," ujar Omar yang kemudian membuat semua orang saling bertatapan.


"Alex?" tanya Aisyah meminta persetujuan pria itu demi menyelamatkan nyawa seorang pria yang belum sadar juga sampai sekarang. Meskipun ia sangsi apakah putrinya itu bisa membuat Crisstoffer benar-benar melewati masa-masa kritisnya.


"Baiklah, aku yang akan menjemput Nikita di rumah," putus Maksim dengan cepat. Kali ini untuk pertama kalinya, pria itu bertindak tanpa izin dari Alex yang masih nampak tak percaya dengan kondisi yang sedang dialaminya.


Aisyah menatap kepergian Maksim kemudian menatap suaminya.


"Mari kita doakan Crisstoffer juga segera melalui masa-masa kritis ini," ujar Aisyah dengan hati menghangat.


"Kamu tahu Alex, anak itu sekarang dalam proses menjemput hidayah-Nya. Aku yakin ia bersungguh-sungguh pada putri kita," ujar Aisyah saat mereka sudah berada di luar ruangan perawatan Omar.


Dokter itu sudah dipindahkan dari Emergency Room sekarang ini.


Alex tidak menjawab. Ia hanya memandang Aisyah dengan pandangan tak terbaca.


"Apakah kamu mendengarku sayang?" tanya Aisyah lagi karena sepertinya suaminya belum juga rela membicarakan perjodohan Nikita dengan pria itu.


"Alex, Nikita sudah dewasa sayang, dan Crisstoffer itu bukanlah orang lain. Mereka punya hubungan yang sangat dekat." jelas Aisyah dengan maksud ingin memberikan suaminya pemahaman.


Alex menarik nafasnya berat. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Hingga mereka berdua tersentak karena Nikita tiba-tiba muncul dihadapan mereka berdua dengan wajah khawatir.


"Daddy, apa yang terjadi dengan uncle Omar?"


"Masuklah sayang, uncle Omar sudah agak baikan. Kamu bisa melihatnya," jawab Aisyah dengan senyum diwajahnya. Ia yakin Maksim pasti belum menceritakan maksud gadis itu dibawa ke rumah sakit ini.


"Iya mom, aku akan masuk," jawab Nikita dengan tersenyum lega. Aisyah kembali menatap suaminya dan mengelus tangannya lembut.


"Alex, aku percaya padamu kalau kamu adalah Daddy yang baik hati dan mau menyelamatkan nyawa orang lain."


"Ah ya, aku akan melakukannya, semoga saja Nikita juga bersemangat mengikut kemauan kalian semua," jawab Alex sembari menarik istrinya kedalam pelukannya.


Di dalam sana, Nikita dan Anna saling berbicara tentang kesehatan Omar yang sudah ada lebih baik.


"Nikita, bolehkah aku memohon sesuatu padamu sayang?" tanya Anna pada gadis itu yang sudah nampak lebih tenang karena melihat Omar sudah tertidur kembali setelah meminum obatnya.


"Tentu saja onty, katakan saja."


"Sebenarnya, uncle Omar mengalami kecelakaan bersama dengan Crisstoffer Anderson," ujar Anna dengan pandangan lurus kearah mata hitam Nikita. Gadis itu tampak sangat kaget dibuatnya tetapi ia segera bersikap santai.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍