Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 78 EMHD



POV Alexander Smith


Aku memasuki area Rumah Sakit dengan langkah cepat. Aku ingin segera menemukan kamar dimana Aisyah istriku sedang dirawat. Maryam, sahabatnya yang memberi tahu letak kamar istriku itu berada. Rupanya gadis manis incaran Maksim itu sudah sering menjenguk Aisyah kemari.


Langkahku tiba-tiba terhenti saat melihat Mohammad Yusuf dan bibi Sarah menatapku dengan pandangan mata marah tak bersahabat. Mereka berdua sedang duduk di sebuah kursi panjang di depan sebuah kamar yang aku yakini adalah kamar tempat Aisyah di rawat.


Aku segera menghampiri mereka berdua dengan tubuhku yang tiba-tiba gemetar takut. Aku tahu mereka sangat marah dan benci padaku. Yah aku akui aku telah menyakiti hati putri kesayangan mereka.


Aku langsung bersimpuh di kaki pria tua yang telah merawat dan membesarkan istriku dengan limpahan kasih dan cinta.


"Maafkan aku Ayah." ujarku sembari meraih tangannya dan menciumnya penuh perasaan. Aku menyesali segala perbuatanku dimasa lalu dan berharap ayah mertuaku dan juga bibi Sarah mau memaafkanku.


"Minta maaflah pada istrimu." jawab Mohammad Yusuf tanpa mau memandang wajahku yang masih bersimpuh di kakinya itu. Aku tahu ia berusaha keras menahan emosi di dadanya. Tangan keriputnya mengepal sampai urat-uratnya nampak menonjol. Aku sadar sekarang kalau kesalahanku sangatlah fatal.


Aku menatap bibi Sarah yang juga membuang wajahnya dariku. Hatiku hancur sehancur-hancurnya.


Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Aisyah dan Nikita di dalam sana nantinya. Kalau mereka mau menghukumku dan mungkin memukulku aku terima, asalkan mereka mau menerimaku bersama mereka.


Aku perlahan berdiri dan melangkahkan kakiku yang kurasakan sangat berat dan seakan lengket dengan lantai. Hanya rindu dan cintaku yang besar yang memberiku kekuatan untuk masuk dan menemui Aisyahku yang terbaring sakit di dalam sana.


Tok


Tok


Tok


Kuketuk pintu itu pelan Hingga Anna Peminov muncul dan membukakan pintu untukku. Ia muncul dihadapanku dengan wajah takut dan gelisah. Aku tahu ia takut padaku karena telah membawa Aisyah dariku tanpa seizinku. Aku tidak menghiraukannya. Aku terus melangkah masuk ke kamar itu. Maksim yang akan menanganinya nanti.


"Daddy?" ujar Nikita yang menatapku dengan pandangan tak percaya. Ia langsung menghampiriku dan memelukku.


"Nikita sayang, aku rindu padamu." ujarku sembari menciumi seluruh wajahnya.


"Aku benci Daddy, hiks." Nikita melepaskan pelukannya padaku kemudian menangis histeris.


"Aku benci Daddy. Huaaaa."


"Gara-gara daddy mommy jadi sakit, huaaaa." Ia terus menangis dengan suara keras sampai membangunkan Aisyah yang sedang terlelap di atas ranjang putih Rumah Sakit itu.


"Maafkan Daddy sayang." ujarku lembut dan menghapus air matanya. Anna segera meraihnya dan membawanya keluar dari kamar itu.


Setelah Nikita dan Anna Peminov keluar aku menghampiri ranjang tempat Aisyah berbaring. Kulihat ia memandangku dengan air mata berlinang, kemudian membuang pandangannya ke arah lain. Aku tahu ia sangat marah dan benci padaku.


"Aisyah, maafkan aku ya. Itu adalah masa laluku yang sangat buruk. Tolong katakan sesuatu." ujarku lagi dengan hati sedih. Sungguh aku mau ia memakiku dengan kata-kata kasar sekalipun. Tapi aku tak kuat kalau ia mendiamkan aku seperti itu.


"Keluar kau dari sini! aku membencimu Alex!" akhirnya suaranya keluar juga setelah hanya tangisan yang kudengar dalam ruangan sepi dan sunyi itu. Aisyah mengusirku dan merasa jijik padaku.


Aku berusaha menyentuh tangannya lagi tapi sekali lagi ia mengibaskan tangannya dan berteriak histeris hingga ayah mertuaku dan bibi Sarah masuk dan menyuruhku untuk keluar.


Aku pasrah. Aku akan menunggu di luar sampai Aisyah mau menerimaku lagi.


Dua hari ini aku hanya duduk dan tidur di ruang tunggu tanpa bisa bertemu dengan Aisyah maupun Nikita. Mereka semua mengabaikanku. Tapi satu yang membuatku bersyukur adalah karena Aisyah sedang mengandung anakku. Dan meskipun ia sangat membenciku ia tetap mempertahankan bayi itu di dalam kandungannya.


Sampai waktunya Aisyah sudah bisa pulang, aku hanya menjadi penonton saja tak bisa berbuat banyak. Maksim yang mengantar mereka pulang ke rumah dengan mobilku sementara akupun tidak diperbolehkan ikut oleh Aisyah dan Nikita. Akhirnya aku menunggu di Rumah Sakit itu sampai Maksim kembali menjemputku.


🍁


Berdua aku dan Maksim membersihkan rumah yang sudah lama aku tinggalkan ini. Rumah ini akan aku tempati berdua bersama Maksim selama Aisyah belum juga mau menerimaku untuk tinggal bersamanya.


Hidupku kurasakan lebih menderita dari pada Maksim yang masih single. Antara menikah dan tidak menikah. Setiap pagi aku akan membawakan buah-buahan segar hasil dari belanja di pasar atau dari para tetangga yang dengan senang hati selalu membawakannya untukku. Mereka sangat gembira dan antusias ketika aku menceritakan kalau istriku sedang hamil.


"Tapi kenapa anda tidak tinggal bersama, tuan Alex?" tanya seorang tetangga ketika membawakan buah dan sayuran segar ke rumahku. Ia meminta bertemu dengan Aisyah istriku. Aku hanya bisa menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku tidak tahu apa jawaban yang cocok untuk pertanyaannya. Aku takut ketika kujawab dengan jujur. Nama baik keluarga Mohammad Yusuf sang mertua akan tercoreng.


"Oh, iya. sebenarnya itu biasa bagi istri yang sedang hamil. Saat trimester pertama kehamilannya. Ia kadang sangat membenci suaminya." jawab tetangga itu dengan tersenyum menjawab pertanyaan yang ia ajukan sendiri.


"Oh iya mungkin seperti itu. Istriku tidak mau melihat wajahku. Tapi aku berharap itu benar-benar hanya sampai di trimester pertama dan bukan selamanya." ujarku untuk menghibur diriku sendiri.


"Dan biasanya bayi yang lahir nanti akan sangat mirip dengan ayahnya." ujar Maksim ikut nimbrung di percakapan kami. Aku langsung menatapnya tajam.


"Apakah itu mitos atau fakta, Max?" Ia tersenyum cengengesan kemudian menjawab.


"Mitos yang sebentar lagi akan jadi fakta, boss."


"Kalau nanti nyonya muda melahirkan, kita akan buktikan sendiri. Ia akan mirip daddynya atau mommynya." jelas Maksim berusaha memberi alasan yang masuk akal. Aku mengangguk setuju.


Lalu kumasukkan semua buah dan sayur itu ke dalam keranjang dan kubawa ke rumah ayah mertuaku. Maksim ikut serta bersamaku dan aku tahu ia sangat berharap Maryam ada di sana, agar mereka berdua bisa bertemu.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍