
Antonio Cassano merasa Aisyah sudah bisa menerimanya dengan baik dan juga tidak menuntut macam-macam.
Perempuan berhijab itu lumayan bisa bekerjasama dan juga tidak pernah menunjukkan penolakan yang cukup berarti.
Aisyah juga sudah mulai terlibat di dalam pengaturan Mansionnya layaknya seorang nyonya besar pemilik asli tempat mewah itu.
"Siapkan dirimu dan Danil, kita akan keluar lagi untuk belanja persiapan ulang tahun pria tampan itu." ujar Antonio pagi itu saat mereka berdua sedang duduk dan sarapan bersama.
"Baik." jawab Aisyah singkat.
"Cuma itu?" tanya Antonio dengan mata serius memandang Aisyah yang sangat cantik pagi ini. Wajahnya sudah sangat cerah dan tidak pucat lagi. Nampak kalau ia sudah sangat senang tinggal bersamanya di sana.
Aisyah mendongak kemudian tersenyum manis.
"Ya cuma itu, memangnya jawaban apalagi yang anda harapkan tuan Cassano?"
"Aku ingin kamu banyak bicara seperti ini, aku sangat suka."
Aisyah kembali menunduk. Ia melanjutkan sarapannya dan tidak mengobrol lagi.
Antonio tersenyum dan kembali menghibur hatinya kalau perempuan ini pasti akan menerima lamarannya.
"Saya permisi tuan, dan Danil akan bersiap 15 menit lagi." Aisyah meninggalkan tempat itu dan bersiap membawa Danil untuk mengunjungi Pusat perbelanjaan di Kota itu. Kota yang sangat jauh dari kota kelahirannya.
Mexico City adalah salah satu tujuan belanja terkemuka di Amerika Selatan. Ibukota Meksiko ini memiliki banyak tempat perbelanjaan, mulai dari pusat perbelanjaan megah hingga pasar tradisional.
"Kamu ingin berbelanja dimana?" tanya Antonio saat mereka bertiga sudah keluar dari lokasi Mansion.
"Aku baru kali ini mengunjungi kota ini, jadi aku tidak tahu tempat mana saja yang bagus, tuan."
"Aku akan membawamu berkeliling, nikmati hari ini bersamaku ya," ujar Antonio lembut sembari tangannya bergerak ingin menyentuh tangan Aisyah yang ia taruh di atas paha Danil.
"Maaf tuan Antonio, kita belum resmi menikah, aku..."
"Aku yang minta maaf Aisyah, sungguh aku tak sabar menikahimu." ujar Antonio tak nyaman karena selalu mendapat penolakan seperti itu.
"Kita berbeda tuan, sangat berbeda. Maafkan aku." ujar Aisyah dengan menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Apakah ini tentang keyakinan?" Aisyah mengangguk dan membuang pandangannya ke luar jendela. Pemandangan kota Meksiko yang cukup ramai membuatnya sedikit terhibur.
"Aku bisa mengikuti keyakinanmu, Aisyah. Aku sungguh mencintaimu."
Deg
Aisyah merasakan dadanya berdebar. Ia tak ingin menjawab sekarang. Banyak hal yang ia pikirkan. Hampir 5 bulan berpisah dengan Alex membuatnya merasa gamang.
Apalagi ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan tubuhnya sekarang ini. Ia yakin ia sedang hamil anak keduanya dengan Alex. Cuma ia bisa menutupinya dengan sangat baik.
"Mommy, look!" suara Danil menyentak lamunannya.
"Ada apa sayang?" tanya Aisyah sembari mengikuti pandangan mata putranya.
Ada banyak badut lucu di pinggir jalan itu sedang membawa bunga untuk diserahkan kepada pengguna jalan yang memelankan laju kendaraannya.
Deg
Aisyah merasakan dadanya kembali berdebar keras. Matanya terus menatap kaca spion yang menunjukkan seseorang yang ia kenal.
Ia ingin meminta Antonio menghentikan mobil itu tetapi ia merasa takut dan juga disana bukan jalur berhenti. Bisa-bisa ia dipanggil oleh polisi yang berjaga di pinggir jalan karena melanggar.
"Danil, lihat kedepan sayang." bisik Aisyah dengan suara bergetar. Sebuah rasa haru dan juga rindu kembali menyeruak dari dalam hatinya.
"Apakah itu pusat perbelanjaan tuan?" tanya Aisyah untuk mengalihkan pembicaraan. Pandangannya menatap sebuah gedung yang sangat besar di depan sana. Di sisi jalan sebelah kirinya.
"Ya, itu adalah Paseo Arcos Bosques, kamu mau kita singgah di sana?" dengan cepat Aisyah mengangguk agar perasaan dan tingkah lakunya tidak terbaca.
Paseo Arcos Bosques adalah pusat perbelanjaan eksklusif yang menempati salah satu gedung pencakar langit paling ikonik di Mexico City. Mal ini berada di gedung menara yang saling terhubung, juga dikenal sebagai The Pants.
Mal ini memiliki hampir semua yang Anda dibutuhkan ketika berbelanja dan juga merupakan rumah bagi beberapa toko desainer paling mewah dari seluruh dunia.
Antonio membawa mobilnya masuk ke area Mall tersebut dengan rasa senang dihatinya.
Semua perempuan suka materi. Aku akan menarik hati Aisyah dengan semua kemewahan. batin Antonio dengan senyum cerah diwajahnya.
"Serahkan Danil padaku, aku yang akan menggendongnya." ujar pria itu dan segera meraih tubuh gembul Danil.
Aisyah hanya tersenyum dan menyerahkan putranya kepada pria yang selalu ingin menyampaikan niatnya untuk melamarnya.
"Lihat Aisyah, aku sangat cocok jadi Daddynya, apakah kamu belum juga mau menerimaku?" Aisyah tidak menjawab ia hanya melangkahkan kakinya kedalam Mall itu dengan perasaan campur aduk.
Bagaimana mungkin ia menerima lamaran pria lain sedangkan hati dan tubuhnya masih mengharapkan orang lain.
Alex, tidakkah kamu merindukanku? Aisyah membatin sembari melihat-lihat barang-barang yang terpajang di atalase toko-toko yang ada di hadapannya.
"Pilih saja apa yang kamu mau, Aisyah, semuanya." ujar Antonio pas dibelakangnya.
"Eh, iya tuan," jawab Aisyah singkat. Alex juga selalu memanjakannya dengan barang-barang mewah. Semua yang ia inginkan selalu disiapkan suaminya itu.
Tetapi kamu sekarang menganggapmu orang lain, Alex. Kamu tega padaku. Padahal aku tak pernah meminta kemewahan. Aku hanya ingin hati dan perhatianmu padaku.
"Cincin ini cocok dijarimu," kembali suara Antonio menyentak lamunannya.
"Tidak perlu tuan, aku masih mempunyai cincin ini." jawab Aisyah dengan menolak secara halus. Ia langsung menatap jari-jarinya dimana cincin pernikahannya dengan Alex masih ada di sana.
Antonio sekali lagi merasa kecewa. Ia lantas membawa Danil ke tempat bermain games untuk memperbaiki moodnya sendiri.
๐
Alexander Smith tiba di Bandara Udara Internasional Kota Meksiko (bahasa Spanyol: Aeropuerto Internacional de la Ciudad de Mรฉxico atau AICM) juga dikenal sebagai Bandar Udara Internasional Benito Juรกrez.
Beberapa jam setelah kedatangan putrinya Nikita Smith bersama rombongan teman-teman sekolahnya yang akan mengikuti sebuah festival seni dan pameran lukisan di negara yang terkenal dengan telenovelanya itu.
Kedatangan Alexander Smith karena sebuah bisnis dengan seorang kolega yang baru ditemuinya di sebuah Club di Rusia.
Alex menarik nafas panjang dan mengucapkan rasa syukur karena telah tiba dengan selamat di Kota itu. Kota yang berjarak 10.222 km itu dari Rusia.
Berada di udara selama 11 jam lebih membuatnya cukup lelah juga terapi saat berjumpa dengan seorang pria berwajah ceria di Terminal kedatangan, perasaannya kembali baik.
"Selamat datang tuan Smith, semoga anda nyaman di Negara kami." ujar pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Diego itu.
"Terimakasih Diego. Aku harap Negaramu ini memberikan aku apa yang aku cari."
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ๐๐๐๐๐