Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 121 EMHD



Omar sampai kewalahan membawa segala perlengkapannya ke dalam rumah, untungnya ada Anna yang sedang lewat di tempat itu.


"Anna, bisa aku minta tolong padamu?" tanya Omar sembari mengangkat kedua tangannya yang membawa banyak barang. Dari obat, termometer digital, botol infus, dan satu perangkat tensi meter, serta benda lainnya yang tak bisa disebutkan satu persatu. Sedangkan sebuah stetoskop sudah terpasang diatas lehernya.


"Bisa dokter, yang mana yang harus aku bawa?" tanya Anna sembari menunggu Omar sang dokter untuk memberinya benda-benda di tangannya.


"Kamu bawa ini, aku yang membawa ini." ujar Omar membuat pengaturan.


"Uncle Omar, aku juga mau membantu. Berikan padaku juga." Nikita yang baru tiba dari taman bersama Alex sang Daddy.


"Kamu bawa ini saja." ujar Omar sembari menyerahkan sebuah termometer gun untuk mengukur suhu tubuh.


"Yeeyy terima kasih uncle, aku suka membantu orang lain." Nikita tersenyum dan melompat-lompat.


"Siapa yang ingin kamu periksa kak?" Alex penasaran dengan kesibukan dokter muda itu dengan beberapa perlengkapan kedokterannya.


"Maryam sakit dan butuh bantuanku."


"Oh, kasihan sekali. Aku kira kamu akan memeriksa kesehatan istriku yang baru melahirkan."


"Setelah dari kamar Maryam, aku akan ke kamarmu. Kita sampai lupa mengukur dan menimbang berat badan putramu bukan?"


"Ah Iya, kamu betul sekali kak." jawab Alex dan mengikuti langkah dokter Omar dan Anna memasuki kamar Maksim.


"Ada apa Max? apa istrimu muntah lagi?" tanya Omar saat sampai di dalam kamar Maksim dan mendapati dua orang itu sedang berjalan keluar dari kamar mandi.


"Iya dokter, tubuh Maryam sekarang sudah sangat lemas." jawab Maksim mengangkat tubuh istrinya ala bridal style ke atas tempat tidurnya.


"Onty kenapa? sakit ya?" tanya Nikita dengan pandangan sedihnya. Maryam tersenyum tipis kemudian mengangguk.


"Permisi Maryam aku akan memeriksa tekanan


darahmu terlebih dahulu." ujar Omar kemudian memasang tensi meter pada tubuh perempuan dari Dagestan itu dengan seksama.


"Tensimu memang rendah sekali Maryam, kamu pasti kurang tidur ya semalam?" ujar Omar yang langsung membuat Maksim tersedak dengan liurnya sendiri.


'Kamu tidak usah menjawabnya Max, aku paham, tapi ingat kesehatan istrimu jangan sampai kamu keterlaluan."


"Kamu belum pernah saja mencobanya dokter, kalau sudah kamu pasti ketagihan." gumam Maksim yang langsung mendapatkan pukulan di lengannya oleh sang dokter.


"Hum, Maryam aku akan memeriksa darahmu juga. Semoga saja semua perkiraanku salah, okey?"


"Anna, tolong berikan aku benda kecil yang berwarna biru itu."


"Yang ini dokter?"


"Iya, itu yang namanya blood Lancer."


Alat yang berguna untuk mengambil sampel darah ini terbukti sangat praktis dan efektif sebab ujung jarumnya memiliki tingkat akurasi yang tinggi dan sangat tajam.


Umumnya, alat ini pun bisa digunakan dalam waktu yang bersamaan dengan lancing device lain dan sangat berguna untuk mengecek asam urat, kadar gula, kolesterol, dan berbagai macam kondisi tubuh yang lain.


Blood lancet juga termasuk ke dalam alat alat kesehatan yang hanya bisa digunakan untuk sekali pakai saja, sehingga jarumnya harus segera dimusnahkan apabila sudah selesai menggunakannya.


Hal tersebut penting agar jarum tersebut tidak menimbulkan gangguan lain seperti terjadinya infeksi bakteri ketika digunakan untuk kedua kalinya pada kulit pasien lain.


Omar pun mengambil sampel darah dari ujung jemari Maryam dan menuggu beberapa saat alat itu bekerja. Ia juga meminta Anna untuk mengeluarkan lancing device lainnya agar hasilnya bisa dilihat dengan cepat seperti mereka sedang berada di sebuah laboratorium mini.


Semua yang ada di kamar itu menunggu sang dokter menyelesaikan tugasnya. Sementara itu Nikita merengek minta ia yang akan memeriksa suhu tubuh Maryam.


"Uncle Omar, boleh aku periksa suhu onty Maryam dengan alat ini?" tanya Nikita sembari mengayunkan termometer gun yang ia pegang sedari tadi.


"Siap uncle!" Nikita kembali mendekati Maryam dan mengarahkan termometer gun itu ke dahi istri dari Maksim itu.


"37 uncle."


"Bagus sayang, good job. terimakasih Niki." jawab Omar dan mengelus lembut kepala gadis kecil itu.


"Boleh aku juga memeriksa suhunya Daddy?"


"Tentu saja, semua boleh kamu periksa. Kali ini kamu bebas menjadi dokter atau perawat."


"Yeeyy!" teriak Nikita dengan ceria. Semua ikut tersenyum melihat kebahagiaan gadis kecil itu tak terkecuali Maryam.


"Nah inilah hasilnya," ujar Omar dan memberikan sebuah kertas yang sudah ia tanda-tangani kepada Maksim.


"Ini maksudnya apa dokter?" tanya Maksim yang tidak mengerti dengan istilah-istilah kesehatan yang terdapat dalam kertas itu.


"Maryam positif hamil, Max. Dan kamu sebentar lagi menjadi seorang ayah." jelas Omar yang membuat Maksim bersujud di lantai mengucapkan syukur. Ia benar-benar merasa bahagia dengan kabar gembira ini. Ia lantas bangun dan memeluk istrinya kemudian menciumnya bertubi-tubi.


"Terimakasih Maryam, kamu mau mengandung bayiku. Meskipun jadi tersiksa seperti ini."


"Jangan katakan itu Max, aku kan istrimu. Tempatmu menyimpan benihmu hasil cinta kita." jawab Maryam dengan suara pelan bagai bisikan diwajah sang suami yang sedang memeluknya.


"Selamat Max, keluarga Smith akan berkembang nantinya." ujar Alex kemudian meninggalkan tempat itu. Ia akan memberi tahu kabar bahagia ini pada keluarga yang lainnya di rumah itu. Ada dua kebahagiaan besar yang mereka terima, ia harus melakukan sedekah pada semua pelayan di rumah besar itu.


"Anna kenapa suhumu tinggi sekali?" tanya Nikita setelah mengarahkan termometer gun itu ke dahi Anna.


"Berapa Niki?" tanya Omar khawatir. Ia sampai menyentuh dahi dan leher Anna dengan punggung tangannya karena hasil pengukur suhu itu menunjukkan angka 40.


"Kamu demam Anna, sejak menolong Aisyah melahirkan kamu pasti belum beristirahat, iyya kan?" tanya Omar dengan pandangan khawatir. Gadis itu mengangguk.


"Baiklah tunggu aku sebentar saja, aku akan memberikan obat dulu pada Maryam setelah itu aku akan membawamu ke kamar agar kamu bisa istirahat." sekali lagi Anna mengangguk. Meskipun ia merasa ia mungkin akan sebentar lagi ikut tumbang seperti Maryam.


"Max, Maryam kalian pasti sudah tahu kan kalau aku bukan dokter obgyn, aku hanya dokter ortopedi. Jadi untuk sementara hanya obat ini yang aku berikan sebagai pereda mual dan juga nyeri pada kepalamu itu.


"Max, minta pelayan untuk membawa sarapan untuk Maryam ke kamar ini. Bubur dicampur sayuran dan juga daging agar Maryam cepat pulih."


"Baik dokter terima kasih banyak." Maksim menjabat tangan Omar dengan pandangan penuh syukur.


Bugh


"Anna! uncle Omar! Anna pingsan!" teriak Nikita tiba-tiba. Omar langsung menoleh dan mendapati Anna sudah terbaring di lantai dengan wajah pucat.


"Anna! bangun!" teriak Omar kemudian membawa tubuh lemas itu keluar dari kamar Maksim.


"Dokter baringkan di sofa saja di kamarku." ujar Maksim dari belakang punggung Omar.


"Jaga saja istrimu Max. Aku akan membawa Anna ke kamarku." jawab Omar dengan wajah khawatir. Nikita mengikuti kedua orang itu pergi.


"Ya ya aku mengerti dokter, sangat mengerti." ujar Maksim sembari tersenyum kemudian mengambil semua perlengkapan dokter Omar dan membawakannya ke sebelah. Karena pasti dokter muda itu membutuhkan alat-alat ini.


---Bersambung--


Hai readers yang sedang duduk sendiri atau lagi ngumpul bersama keluarga sambil baca novel ini terus dukung karya ini ya gaess? dengan cara klik like, ketik komentar, dan juga kirim hadiah yang super banyak agar othor semangat updatenya.


🍁


Mampir juga nih dikarya teman othor yang juga tak kalah oke ini,