Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 221 EMHD



"Dispatch to all passengers qu 375 to Moscow to gate 5 as soon as the plane takes off."


Pengumuman panggilan pada semua penumpang pesawat terbang yang akan menempuh perjalanan ke Moskow Rusia terdengar dari sumber suara di dalam bandara itu.


Semua anggota keluarga Smith yang berjumlah kurang lebih 12 orang itu langsung bersiap untuk naik ke pesawat.


Maksim dan Maryam mencari putra dan putrinya yang ternyata sibuk bermain di ruang tunggu Bandara begitupun anak-anak yang lainnya.


Albert dan juga Reisya membawa dua putra dan putri mereka beserta beberapa paket oleh-oleh yang sudah mereka beli di toko-toko Souvernir di kota itu.


"Ayok semuanya kita masuk," Maksim mulai membawa semua anak-anak ke arah sebuah ruangan untuk pemeriksaan tiket pesawat.


"Elif, kamu dan Nikita bawa Asma ya," ujar Aisyah sembari meraih tangan Danil yang suka memisahkam diri dari rombongan. Sedangkan Alex mengikut di belakang mereka dengan sibuk menelpon seseorang yang entah siapa.


Elif yang juga sedang sibuk berbalas pesan dengan Roman Subkhan segera menghentikan kegiatannya dan segera meraih tangan Asma kemudian berjalan bersama keluarga Smith dihadapannya.


Sesampainya mereka di atas pesawat, para orang dewasa itu sibuk mengurusi kursi dan juga barang bawaan para bocah, menyimpannya dibagian atas kursi-kursi mereka dan memastikan mereka semua duduk dengan tenang.


Elif baru sadar akan ketiadaan Nikita sahabatnya ketika pesawat sudah bergerak dan bersiap untuk take off meninggalkan Kazakhstan.


"Asma, dimana Kak Nikita?" tanya Elif kepada Asma yang sibuk membolak-balik sebuah majalah yang tersedia di setiap kursi penumpang.


Gadis itu sampai berdiri dari duduknya dan celingukan mencari keberadaan Nikita di kursi penumpang lainnya.


Gadis itu bahkan keluar dari kursinya padahal ia sudah mendapatkan teguran dari pramugari untuk tidak meninggalkan kursi dan juga harus memasang seatbeltnya karena pesawat akan segera lepas landas.


"Aku mencari sahabatku, Miss." jawab Elif dengan nada khawatir. Ia ingin menghubungi Nikita lewat handphonenya tetapi sekali lagi itu tak boleh dilakukannya, karena melanggar aturan dalam penerbangan.


"Kamu bisa mencarinya saat pesawat sudah berada pada posisi yang bagus, okey?" ujar sang pramugari dengan nada sopan. Ia terus memaksa gadis itu untuk duduk dengan tenang.


"Ah iya terimakasih banyak, Miss." Elif kembali duduk dan memandang wajah Asma disampingnya.


"Asma, apa kamu melihat kak Niki?" tanya Elif lagi pada gadis kecil berusia 6 tahun itu yang selalu ia bawa kemana-mana.


"Aku melihatnya waktu pergi ke Toilet tapi sekarang kak Nikita bahkan tidak menaiki pesawat ini." jawab Asma sembari membuka tutup botol minumannya.


Gadis kecil itu mulai minum dengan wajah serius.


Elif menarik nafas berusaha berprasangka baik, bahwa Nikita mungkin sedang duduk bersama dengan adiknya yang lain.


Kurang lebih 4 jam perjalanan mereka di Udara dan sudah sampai di bandara internasional Sheremetyevo Alexander S Pushin.


Mereka semuanya turun dan kembali menunggu di terminal bagasi untuk mendapatkan bagasi atau barang bawaan mereka.


"Elif, dimana Nikita? kenapa aku tidak melihatnya bersamamu?" tanya Alex dengan pandangan tanya pada sahabat putrinya itu. Elif langsung tersentak kaget. Ketakutan dan kekhawatiran nampak sekali diwajahnya yang cantik.


"Maafkan aku uncle, tapi sejak kita take off meninggalkan Kazakhstan, Nikita sepertinya tidak ikut naik ke pesawat."


"Apa maksudmu Elif?" teriak Alex dengan suara kerasnya. Aisyah dan yang lainnya segera menghampiri kedua orang itu.


"Ada apa Alex?" tanya Aisyah dengan suara tenangnya.


"Nikita tidak ikut bersama kita tadi. Ia tertinggal di bandara Kazakhstan!"


"Aku kira Nikita duduk bersama dengan kalian di pesawat. Aku sungguh tidak tahu kalau ia tidak ikut naik ke pesawat, maafkan aku onty, uncle, hiks." Elif menyusut airmatanya karena rasa takut dan juga khawatir.


"Kalian lanjutkan perjalanan ke rumah, aku akan kembali ke Kazakhtan untuk mencari Nikita. Ia pasti ketakutan di sana sendirian." geram Alex dengan emosi di dadanya. Pria itu langsung menuju bagian informasi bandara dan segera memesan tiket untuk kembali ke negara sebelumnya.


"Niki, semoga kamu baik-baik saja sayang," ujar Alex sembari menghubungi nomor handphone putrinya itu. Tetapi berkali-kali ia hubungi tetap saja tidak tersambung atau berada di luar jangkauan.


"Oh shi*t!" Alex meraup wajahnya kasar. Ia benar-benar sedang ingin mengamuk sekarang ini. Aisyah sendiri tidak bisa berbuat banyak. Mereka belum ada yang kembali ke rumah sebelum pesawat Alex lepas landas.


Drrrt


Drrrt


Handphone Aisyah bergetar tanda ada panggilan yang masuk. Perempuan cantik itu melihat kalau Omar yang sedang menghubunginya.


"Iya kak Omar, ada apa?"


"Kami sedang berada di Bandara sekarang ini. Kami akan berangkat ke Dagestan karena ayah baru saja meninggal dunia."


Aisyah jatuh terduduk dan menjatuhkan handphonenya ke lantai sampai menimbulkan suara yang cukup nyaring di antara ketegangan dan kekhawatiran semua orang.


"Aisyee ada apa sayang?" Alex segera meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Perempuan itu hanya bisa menangis dalam diam.


"Aisyee, katakan ada apa? jangan bikin aku bertambah panik sayangku " Alex terus membujuk istrinya agar menceritakan apa yang telah terjadi.


"Kak Omar baru saja menelpon kalau ayah Yusuf sudah meninggal, huaaa," pecah sudah tangis perempuan cantik itu.


"Innalilahi wa Inna ilaihi rojiun," semua anggota keluarga mengucapkan kalimat itu dengan wajah tak percaya. Alex hanya bisa memeluk tubuh istrinya yang sedang menangis karena sedih yang teramat sangat.


Di depan sana, Omar dan juga keluarga kecilnya memasuki tempat itu dan langsung mencari Aisyah.


"Kita akan langsung ke Dagestan sekarang juga." ujar Omar dengan mata memerah. Tampak sekali kalau pria itu juga telah menangisi kepergian ayah mereka.


"Max urus segera pesawat jet pribadi kita. Sekarang semuanya akan berangkat ke Dagestan." Alex melepaskan pelukan istrinya dan kembali menuju bagian informasi.


Ia akan membatalkan keberangkatannya ke Kazhakstan dengan menghubungi Roman Subkhan dan orangtuanya agar mencari Nikita di Bandara Internasional Al Maty sekarang juga.


Sedangkan ia dan keluarganya harus berada di Dagestan saat ini untuk menghadiri saat-saat terakhir ayah mertuanya sebelum di kuburkan.


Meskipun hatinya sedang dalam dilema, ia berharap apapun yang Tuhan berikan saat ini pastilah yang terbaik.


Harapannya adalah Nikita bersabar di Kazhakstan dan tidak bertindak macam-macam sebelum keluarga Subkhan menemukannya.


---Bersambung--


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini, Like dan komentarnya dong agar othor semangat updatenya.


Ada hadiah bunga juga okeh hehehe.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍