
POV Alexander Smith
Hari ini aku dan Maksim menghadiri rapat penting di Perusahaan Real Estate yang baru kami bangun. Begitu kami meninggalkan bisnis penjualan senjata api ilegal itu, aku mencoba peruntungan di bisnis real estate yang cukup menjanjikan bagi anggota Klan Smith.
Aku tak ingin para anggota organisasi kembali ke dunia hitam lagi. Beberapa swalayan pun kami bangun agar mereka bisa menjadi tenaga kerja di sana.
Setelah rapat selesai, aku masih harus mengunjungi para pendukungku yang akan membantu aku di parlemen. Dalam perjalanan kembali ke Perusahaan,
Albert tiba-tiba menghubungiku agar menjemput Nikita di kantor KBRI siang ini.
Karena perjalanan melawan arah akhirnya aku memutar kembali jalur perjalananku agar bisa kembali ke tempat dimana Nikita mengikuti kursus seninya.
Kulihat kembali jam tangan di pergelangan tanganku. Jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Pasti Nikita sudah bersiap memakan bekal yang ia bawa tadi pagi.
Setelah aku memarkirkan mobilku di tempat parkir. Aku segera melangkah masuk dengan terburu-buru karena aku khawatir jika tidak menemukan Albert di sana, Nikita pasti ketakutan karena ini adalah tempat baru baginya.
Aku begitu kaget ketika dari arah depan seorang perempuan berhijab berlari sambil menutupi wajahnya tiba-tiba menabrakku dan membuat tubuhnya yang kurus itu terjatuh ke lantai.
"Aisyah?" aku bisa merasakan dadaku bergemuruh hebat saat kulihat siapa perempuan yang sedang terduduk di lantai itu.
Ia menatapku dengan mata basah. Air mata mengalir semakin deras di pipinya yang nampak tirus dan pucat. Namun pun begitu ia tetap masih cantik dan bahkan sangat cantik di mataku.
"Aisyah?' sekali lagi nama itu keluar dari mulutku yang tiba-tiba kurasakan kelu.
"Tuan Alex." suara lembut itu keluar dari bibirnya bagaikan sebuah simfoni indah yang begitu sangat kurindukan.
Perlahan kuangkat tubuhnya yang masih terduduk di lantai. Lalu ku gendong ia ala bridal style ke arah tempat parkir dimana mobilku berada.
Aku tak perduli akan pandangan aneh orang-orang yang ada di sana. Yang aku tahu dunia terasa berhenti berputar. Dan hanya kami berdua yang saling menatap dengan penuh rindu. Oksigen ini pun serasa hanya milik kami berdua.
Perasaanku membuncah karena bahagia. Perutku kurasakan dipenuhi ribuan kupu-kupu yang sedang beterbangan.
Aku merasakan langkahku begitu ringan padahal aku sedang membawa seseorang di tanganku. Atau apakah tubuh Aisyahku memang sangat ringan sekarang.
Perlahan kualihkan pandanganku ke arah lain karena aku tak sanggup memandang wajah kekasih hatiku ini yang masih terus mengeluarkan air mata sedihnya.
Aku sadar aku sudah banyak membuatnya menderita. Setelah sampai di mobilku, tubuhnya perlahan kuletakkan di jok belakang yang lebih luas agar aku bisa lebih bebas bersamanya.
"Aisyah."
"Tuan Alex."
Kami sampai bersamaan menyebut nama kami masing-masing.
Aku memandangnya dengan tatapan penuh rindu, meminta ia saja yang duluan bicara. Aku terlalu gugup dengan pertemuan yang tak kusangka-sangka ini.
"Aku,..hiks." ia tak melanjutkan ucapannya. Ia hanya bisa menangis dan menutupi wajahnya. Perlahan kutarik ia ke dalam pelukanku.
Kubiarkan ia mengeluarkan rasa sesak di dadanya. Seperti aku yang juga ingin mengeluarkan semua yang sedang mengganjal di hatiku. Aku mengelus punggungnya yang masih bergetar karena emosi yang ia luapkan lewat tangisannya.
Setelah kurasakan dirinya sudah tenang, kulepaskan pelukanku dan ku tatap kembali wajahnya, aku menciumi kedua matanya yang tak berhenti mengeluarkan air mata. Sungguh aku tak kuat melihatnya seperti itu.
kusentuh dagunya agar ia mau menatapku.
"Maafkan aku, Aisyah. Maafkan aku sayang." bisikku dengan suara parau. Perlahan aku meraih bibirnya dan melumaatnya lembut menghantarkan begitu banyak cinta dan rindu yang aku punya untuknya.
Lama aku melakukannya sampai ia mulai membalas dengan tak kalah lembutnya. Kurapatkan tubuh kami agar aku bisa menyentuhnya semakin dalam.
"Aisyah, aku mencintaimu." bisikku disela-sela sentuhanku padanya.
"Sangat, jangan tinggalkan aku lagi." Sungguh aku sedang berada di atas puncak hasrat sekarang.
Tetapi perlahan ia melepaskan dirinya dan aku hanya bisa menatapnya frustasi.
"Nikita tak pernah melupakanmu. Ia selalu menyebutmu. Ia merindukanmu sayang, jangan pernah mengatakan itu sayang." ujarku lagi untuk menghiburnya. Rupanya ia sangat sedih karena Nikita.
"Nikita menunggumu di dalam sana, tuan."
"Astagfirullah." ujarku karena baru tersadar. Aku terlalu bahagia bertemu Aisyah sampai aku melupakan putriku sendiri.
Segera kukecup lagi bibirnya singkat kemudian aku turun dari mobil.
"Tunggu aku di sini. Aku akan menjemput Nikita. Kita akan pulang kembali ke rumah." kulihat istriku itu tersenyum malu.
Dengan langkah cepat aku kembali masuk di kantor KBRI dan mencari putri kecilku yang sedang duduk sendiri di ruang tunggu.
"Niki!, maafkan Daddy." ujarku dengan nafas memburu.
"Tak apa dad. Aku tadi juga habis makan dengan temanku di kantin. jadi, kumaafkan keterlambatanmu." jawab Nikita dengan gaya sok dewasanya.
"Bagaimana kursus hari ini sayang?" tanyaku padanya yang kelihatan sangat bersemangat meskipun ini sudah sore.
"Kursusnya sangat menyenangkan daddy. Aku suka." jawab Nikita sembari mengikuti langkahku ke arah mobil tempat dimana Aisyah ada di sana menunggu kami.
"Anda siapa?" tanya Nikita saat pintu mobil kubuka dan ia melihat Aisyah ada di sana sedang tersenyum padanya.
"Ia mommy Aisyah sayang." jawabku sembari menyalakan mesin mobil dan bersiap untuk pulang.
"Mommy?" tanya Nikita dengan ekspresi tak percaya. Ia kemudian melompat ke belakang. Agar ia bisa duduk berdekatan dengan mommynya.
"Iya, aku Mommy Aisyah, kamu lupa ya?" tanya Aisyah sembari mencolek hidung mancung putriku.
"Anda yang memanggilku tadi di depan kelas?" tanya Nikita lagi dengan wajah penasarannya.
"Iyya." jawab Aisyah singkat.
"Sini peluk mommy." lanjutnya sembari menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya.
"Kamu sudah percaya kalau aku mommymu?" tanya Aisyah sembari menatap dalam mata Nikita.
"Ah ya,. sepertinya aku tak punya pilihan lain." jawab Nikita sok melankolis. "Kalau Daddy yang mengatakannya aku percaya. Karena Daddy selalu bilang rindu padamu." jawab Nikita diplomatis.
"Kenapa mommy pergi lama sekali? sampai kami capek mencarimu di mana-mana." gerutu Nikita dengan tampang lucu.
"Jadi kalian mencariku?" tanya Aisyah untuk memperjelas pendengarannya.
"Tentu saja mommy, Daddy tidak bisa tidur akhir- akhir ini. Dan ia selalu menyebut nama mu." ujar Nikita sengaja memancingku agar aku ikut bicara.
"Ya itu betul sekali. Dan kurasa ada banyak penjelasan tentang ini semua, sayang." lewat kaca yang tergantung di atas kepalaku, kulihat Aisyah menatapku dengan pandangan lain.
"Kami menunggu ceritamu mommy." kudengar Kembali suara Nikita di belakang sana. Hari ini hari yang sangat indah buatku dan keluarga kecilku. Aku tidak tahu bagaimana lagi aku bersyukur kepada Tuhan atas banyaknya nikmat ya ia beri padaku.
"Oh No!" aku segera mengerem mendadak mobil yang aku kemudikan.
"Ada apa Aisyah?" tanyaku panik.
"Aku melupakan temanku Reisya di sana di kantor KBRI." jawab Aisyah tak enak hati.
"Hubungi lewat telpon kalau kamu ikut dengan kami." ujarku memberi solusi.
----Bersambung---
Gimana??? udah ketemu kan...jangan sedih lagi ya para readers. Tetap dukung karya ini ya gaess. Like dan komentar aku harapkan.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍