
"Aku saja yang mengangkat tubuh pasien kita Mr.Smith." ujar Maksim ketika Range Rover Vogue mereka sudah sampai di desa dan berhenti pas di depan rumah paman Yusuf yang sudah tampak sepi karena ini sudah hampir dinihari.
"Ada apa denganmu Max?" tanya Alex sedikit kesal, sedari tadi di perjalanan pulang untuk menghindari rasa kantuk, ia selalu membicarakan Aisyah dan memancingnya untuk menceritakan kejadian apa yang menimpa gadis itu saat di gudang, tetapi ia bertahan tidak ingin bercerita.
Alexander turun dari mobil sambil membanting pintunya dengan keras yang membuat Maksim semakin tersenyum lebar karena pancingannya cukup berhasil. Dan ternyata Aisyah pun jadi terbangun dari tidur panjangnya. Ia melenguh pelan kemudian perlahan membuka matanya dan berusaha mengenali tempat dimana ia berada sekarang.
Maksim membuka pintu bagian belakang dan melihat Aisyah sudah sadar.
"Anda sudah bangun, nona." ujar Maksim dan langsung membuka pintu lebar-lebar agar sewaktu-waktu Aisyah bisa turun sendiri jika keadaannya sudah mampu berjalan sendiri. Maksim kemudian berlalu dari sana dan menuju beranda depan di rumah paman Yusuf dimana Alexander sedang duduk berselonjor di sebuah kursi malas dengan posisi hampir berbaring.
"Gadis itu sudah sadar." lapor Maksim kemudian ikut duduk sembari meregangkan otot-ototnya karena cukup lelah dengan perjalanan panjang ini.
"Baguslah, itu artinya kamu tidak perlu mengangkatnya ke dalam." jawab Alex tanpa membuka matanya. Sekali lagi Maksim tersenyum kemudian menjawab,
"Anda sensitif sekali Mr. Smith."
"Max, sebaiknya kamu tidur atau aku akan merobek mulutmu." ucapan Alexander dibalas tawa oleh Maksim sampai Aisyah sudah berdiri di depan mereka barulah pria itu berhenti tertawa.
"Tapi aku lapar. Bisakah kita numpang makan di rumah ini Mr. Smith?"
"Kita punya rumah Max kenapa makan di rumah orang lain, apalagi yang punya rumah sudah tidur."
"Baiklah bikinkan aku pasta yang enak sebagai imbalanku menjadi sopirmu seharian ini."
"Hem." jawab Alex singkat. Ia kembali menutup matanya berharap rasa lelahnya sedikit berkurang. Tetapi kemudian telinganya menangkap langkah kaki pelan menuju mereka berdua.
"Terima kasih tuan-tuan, sudah menolongku kembali ke rumah ini."ujar Aisyah pelan dan langsung membuat Alex membuka matanya.
"Sama-sama. Masuklah dan lanjutkan tidurmu di kasurmu yang nyaman." jawab Alex datar.
"Bagaimana dengan keadaan ayahku tuan Alex?" tanya Aisyah setelah menyadari beberapa hal. Ia menghampiri pria itu dan berniat menyentuh tangannya. Tetapi Alex langsung menghindar kemudian berdiri dari duduknya dan mengajak Maksim untuk pulang.
"Paman Yusuf pasti baik-baik saja. Ia cuma tertembak di pahanya."
"Cuma?" tanya Aisyah panik dan takut. Bayangan darah yang mengucur tadi di depan tubuh ayahnya kembali berkelebatan.
"Hei, kalian tidak mau minum yang hangat-hangat dulu atau makan mungkin." tegur Aisyah pada mereka berdua yang pergi begitu saja.
"Tidak, Terimakasih. Lain kali saja." jawab Maksim tidak enak hati.
Langkah Alex terhenti kemudian ia memutar arah dan kembali menuju Aisyah yang masih berdiri disana.
"Aku tahu Nikita pasti bersama bibi Sarah, biarkan dia tidur di sini dulu. Terima kasih." ujar Alex kemudian betul-betul pergi dari hadapan Aisyah dengan ekspresi tak terbaca.
"Dasar laki-laki datar!" ujar Aisyah kemudian masuk ke dalam rumahnya.
🍁
Alexander dan Maksim berbaring di atas karpet bulu tebal di depan perapian setelah menyantap pasta hangat untuk mengganjal perut yang ternyata semakin lapar melilit di tengah malam itu. Mereka berdua merasakan capek yang luar biasa setelah seharian ini menumpas jaringan Black Shadow yang sudah lama jadi musuh bebuyutan mereka.
"Aku yakin ada yang menggerakkan black shadow untuk menyerang orang-orang tak bersalah itu." ujar Maksim diantara rasa lelah dan kantuknya.
"Tidurlah Max. Aku sudah tahu orangnya. Dan aku yakin ia akan menyesali perbuatannya itu." jawab Alex santai.
"Apa ini ada hubungannya dengan putri paman Yusuf?" tanya Maksim lagi yang membuat Alex kembali membuka matanya yang sudah dalam perjalanan menuju alam mimpi.
"Sudah kubilang jangan membicarakan gadis itu lagi." jawab Alex kesal. Karena setiap ia mengingat Aisyah maka bayangan tubuh polos gadis itu yang menari-nari di otaknya. Apalagi dengan rasa lelah dan dingin di saat seperti ini, ia ingin sekali mendapatkan yang hangat-hangat. Ia laki-laki normal. Melihat pemandangan yang indah seperti itu membuat hasratnya kembali mendidih.
"Okey, baiklah aku akan tidur. " jawab Maksim mengalah. Dan tak lama kemudian ia pun tertidur dengan dengkuran yang membuat Alex semakin kacau. Ia tak bisa lagi menutup matanya. Rasa kantuk tiba-tiba menguap entah kemana.
Dengan langkah gontai Alex menuju kamarnya dan mencari sebuah buku untuk dibaca agar bisa mengantarkannya untuk tidur. Sampai akhirnya ia baru bisa tertidur setelah waktu menunjukkan pukul 2 dini hari.
---Bersambung---
🍁🍁🍁
Mohon dukungannya untuk Babang Alex ya gaess. Like, komentar dan hadiah yang banyak agar othor rajin update.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍