
POV Alexander Smith
Tepat pukul 10 malam kami pamit pulang setelah menyelesaikan rangkaian acara makan malam bersama di rumah Mohammad Yusuf sang kepala suku Avar. Aku mengucapkan banyak terimakasih atas sambutan masyarakat yang menerima kami berempat di desa ini sebagai bagian dari mereka. Meskipun kami betul-betul adalah orang asing diantara mereka.
Sungguh tak ada yang bisa mengalahkan keramahan penduduk desa Rakhata ini. Aku diam-diam berterimakasih pada Maksim yang telah menemukan tempat ini untuk kami.
"Kenapa anda diam saja bos?" tanya Maksim padaku karena aku tak beranjak dari pintu rumah paman Yusuf padahal aku sudah berpamitan berkali-kali sehingga bibi Sarah pun kelihatan sudah lelah dengan ucapan terima kasihku.
"Ah, tidak. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu." ujar ku sedikit resah dan mengarahkan pandanganku ke seluruh penjuru rumah, mencari sosok cantik yang banyak berjasa pada kesembuhan kaki Nikita.
"Ada apa Daddy?" tanya Nikita yang ada digendonganku. Matanya kulihat sedikit memerah karena lelah dan mengantuk. Ia menguap berkali-kali.
"Hem, Daddy rasa tidak jadi, kamu sudah mengantuk sayang, sebaiknya besok saja." ujarku dengan kalimat yang sangat random. Aku sendiri bingung dengan apa yang aku ucapkan.
"Dad? kau menyembunyikan sesuatu?" tanya Nikita penuh selidik.
"Ah, tidak sayang. Ini sungguh tidak penting. Sebaiknya kita pulang. Assalamualaikum Bibi." Aku sudah tidak mau lagi menjadi perhatian semua orang di sana. Segera aku melangkahkan kakiku panjang-panjang untuk kembali ke rumah agar Nikita segera bisa tidur karena besok pagi ia akan ke sekolah. Kulihat dari ekor mataku Maksim dan Albert saling mengangkat bahu.
"Aku pamit sama Maryam bibi." kudengar Maksim berucap di belakang punggung ku. Aku lantas menoleh kembali dan berteriak.
"Max!"
"Iyya Bos."
"Hihihihihihi." Nikita tertawa renyah dalam gendonganku dan akhirnya membuat aku tersenyum juga.
🍁
Meskipun Aisyah berusaha menahan rasa sedih di hatinya tetapi akhirnya ia tak bisa juga menahan air matanya yang entah kenapa begitu bebas keluar dan semakin menganak sungai. Hatinya bagai diremas kuat sekarang, rasa kesal dan sedih tumpah ruah dalam dirinya.
Ia tahu kakaknya pasti akan mengirimkan seseorang yang baik untuknya karena ia juga tidak menyetujui Azzam sebagai suami dari adiknya. Pria muda itu kenal betul siapa Azzam dan bagaimana tabiatnya.
Pada waktu itu Aisyah setuju akan keinginan Omar sang kakak yang menjodohkan dirinya dengan dr.Sergey Abdullah. Karena saat itu hatinya masih belum terisi akan seseorang. Tetapi bagaimana dengan sekarang saat tuan Alexander Smith sudah hampir memenuhi semua relung hatinya. yang diam-diam ia harapkan menjadi suaminya kelak. Apakah yang akan ia lakukan selanjutnya.
"Aaaaaaa." teriaknya tertahan. Ia kesal pada dirinya sendiri. Kenapa bisa mengizinkan pesona duda beranak satu itu mengganggu pikirannya.
Seharusnya dari dulu aku sudah menghindarinya agar tidak berakhir seperti ini.
"Aisyah, sayang," panggil bibi Sarah pada gadis muda yang sedang menelungkupkan kepalanya di bantal. Ia sedang menangisi dirinya sendiri
"Aisyah?" bibi Sarah kembali menyentuh bahu putri dari Mohammad Yusuf itu yang bergetar tapi ternyata gadis itu tidak meresponnya.
"Para tamu akan berpamitan nak. Mereka semua menunggumu di luar."
"Biarkan saja bibi, bilang saja aku tidak enak badan."
"Tuan Alex dan keluarganya juga mau berpamitan nak." pancing bibi Sarah agar Aisyah cepat bangun. perempuan paruh baya itu tahu jika gadis ini sangat dekat dengan keluarga itu.
"Biarkan saja bibi. Kalau mereka mau pulang ya pulang saja." bibi Sarah kaget dengan ucapan ponakannya ini. Tak biasanya ia bersikap tak sopan seperti itu.
"Baiklah bibi akan menemui mereka." ujar bibi Sarah kemudian meninggalkan Aisyah dalam keadaan seperti tadi. Setelah kepergian bibi Sarah, Aisyah bangkit dari tidurnya dan mulai mengintip dari sela-sela jendela. Berharap ia bisa melihat sosok tinggi tampan dan dingin yang sudah mencuri pikiran dan hatinya.
"Benar kata ayah, jangan mengharapkan orang yang tidak mengharapkanmu." bisiknya dalam hati ketika melihat punggung Alex semakin menjauh dari rumahnya. Dengan menarik nafas ia segera mengambil air wudhu untuk bersuci. Ia ingin meminta pada Allah ketenangan hati dan sebuah keputusan terbaik.
🍁
Nikita bangun dari tidurnya pagi itu kemudian berjalan sendiri ke dapur sembari mencari Alexander yang sedang membuat isian roti untuk sarapan.
"Iyya dad selamat pagi," jawab Nikita singkat dan mulai menarik kursi kecil untuk duduk menunggu Daddy nya.
"Apa kamu sudah lapar?"
"Sedikit, tapi aku bisa menunggu."
"Baiklah sayang, Daddy akan menyelesaikan ini secepatnya." ujar Alex kemudian memasukkan irisan daging yang sudah dimarinasi ke dalam pemanggangan.
"Kenapa Daddy tidak juga meminta ibu Aisyah menjadi mommy ku?" tanya Nikita tiba-tiba dan membuat Alex menghentikan pekerjaannya. Ia membalikkan badannya dan menatap putrinya lembut. Mata mereka saling memandang.
"Kita sudah bahagia berdua sayang, kita tidak perlu orang lain lagi."
"Tapi aku maunya mommy Aisyah. Aku mau tidur bersamanya. Aku mau main bersamanya, dad." ujar Nikita dengan suara melengking keras. Ia mulai kesal karena Alexander tidak juga memenuhi permintaannya.
"Hey, selama ini Nikita kan sudah punya banyak waktu dengan ibu guru, lalu apalagi?"
"Ibu Aisyah tidak bisa tidur di sini karena dia bukan mommynya Nikita huaaaaa." Nikita menangis meraung, hatinya sedih karena di sekolah teman-temannya sering bercerita kalau mempunyai mommy itu enak karena mereka bisa melakukan apa saja sepanjang waktu bersama.
"Hey siapa yang mengatakan itu padamu sayang."
"Semua teman Nikita punya mommy dad, mereka senang saat menceritakan mommynya." suara Nikita bergetar karena tangisnya belum surut.
"Dimana mommy dad, kenapa aku tidak punya sedangkan mereka semua punya mommy!" teriak Nikita lagi semakin kencang, Alex tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa memeluk tubuh gadis kecil itu dengan perasaan sedih.
"Mommy sudah jauh dari sini, ia punya rumah baru jadi tidak bisa lagi kembali ke sini." jawab Alex sembari mengelus lembut rambut putrinya itu.
"Mommy jahat tidak sayang sama Niki." ujar Nikita sesenggukan.
"Mommy tidak jahat, Tuhan sudah memanggilnya lebih dulu sayang."
"Huaaaa pokoknya Nikita mau punya mommy Sekarang!" rajuknya lagi yang membuat kepala Alex semakin pusing.
"Kamu sarapan dulu ya, ini makanan kesukaanmu. Kamu bisa membawanya ke sekolah. Bisa berbagi sama teman-temanmu. Daddy akan buatkan yang banyak." ujar Alex berusaha menghibur putrinya.
"Aku tidak mau makan.!"
"Astaga Nikita. Jangan membuat Daddy marah." jawab Alex berusaha menahan emosinya. Maksim yang melihat mereka berdebat hanya bisa menarik nafas. Ia segera bergabung di meja itu menjadi penengah.
"Nikita sayang, kita makan sama-sama ya." ujar Maksim sambil menyuapi gadis cilik itu.
"Uncle bisa jadi mommy mu." lanjut Maksim sambil tersenyum dan mengedipkan matanya sebelah pada Nikita.
---Bersambung---
Mana nih dukungan untuk Babang Alex, Like dan komentar ya gaess.
Sambil menunggu update berikutnya, yuk mampir di karya teman othor. Dijamin asyik punya.
Judul ; Istri kecil Dosen Muda
By: Susi Similikity