
Setelah membagikan sedekah kepada semua warga desa Rakhata, Alex dan Aisyah kembali ke rumah dengan wajah gembira. Bagi mereka berdua, kegiatan ini sangatlah menyenangkan.
Mereka datang mengetuk pintu semua rumah kemudian memberikan sejumlah uang dan meminta doa restu agar keluarga mereka selalu diberikan kesehatan dan juga kekuatan untuk menghadapi cobaan hidup kedepannya.
Semua orang bahagia, yang diberi dan yang memberi. Aisyah dan Alex jadi lebih banyak mengenal tetangga dan keluarga yang sudah jarang bertemu sejak ia menikah dan menetap di Moskow.
"Kamu cantik dan suamimu tampan, pasti hidupmu dipenuhi oleh kebahagiaan saja ya?" tanya seorang perempuan tua kepada Aisyah saat mereka mengunjungi rumahnya yang sederhana.
"Iya bibi Alhamdulillah. Nikmat Allah begitu banyak pada keluarga kami hingga kalaupun ada kesedihan itu bukanlah hal yang besar. Bahagia lebih banyak daripada sedih."
"MasyaAllah, semoga kebahagiaan dan kebaikan selalu menaungi keluarga kalian,"
"Aaamiin. Terimakasih bibi,"
"Saya yang harus berterimakasih karena kalian mengunjungi bibi yang hidup sebatang kara ini. Saya sangat senang sekali."
"Iya bibi, andaikan aku lama tinggal di desa ini, aku pasti selaku mengunjungi dan menemanimu sewaktu-waktu. Tapi sayangnya, beberapa hari lagi kami akan kembali ke Moskow."
"Kamu tidak rindu pada ayahmu? habiskan waktu yang banyak kepada orang tua seperti kami ini, karena itulah kebahagiaan kami. Anakku sendiri tak pernah pulang." Aisya memeluk perempuan itu yang ternyata sedang menangis.
"Iya Bibi aku akan melakukannya. Akan kupastikan selalu menyisihkan waktu yang sangat banyak untuk ayah," ujar Aisyah dengan senyum diwajahnya.
"Kami pergi dulu ya bibi, jaga kesehatanmu,'
"Terimakasih nak, Tuhan selalu bersamamu."
Sepanjang perjalanan pulang, Aisyah banyak merenungi kata-kata sang perempuan tua tadi.
"Alex, boleh aku tinggal lebih lama di sini? aku masih sangat rindu pada ayah," ujar Aisyah dengan pandangan mata memohon.
"Apa kamu saja yang akan tinggal di sini? enak saja, kita sendiri baru bertemu semalam sayang dan sekarang kamu ingin tinggal disini dan seolah-olah aku yang akan pergi."
Aisyah tersenyum kemudian berucap, "Kalau kamu mau tinggal lebih lama di sini, bagaimana dengan pekerjaanmu yang ada di Moskow, sayang?"
"Itu adalah tugas bawahanku Aisyah, mana kuat aku berjauhan denganmu hanya karena urusan pekerjaan."
"Baiklah tuan Smith, aku juga tak rela berpisah lagi denganmu," Alex tersenyum kemudian melangkah lebih cepat agar segera sampai di rumah.
Ia sudah sangat lapar dan haus.
Sesampainya mereka di rumah Mohammad Yusuf sang ayah, Bibi Sarah menyambut dua orang itu dengan banyak makanan yang sudah ia sediakan di atas meja makan.
"Bagaimana? sudah mau makan sekarang?" tanya Sarah pada mereka berdua.
"Iya bibi kami sudah sangat lapar." ujar Alex dan langsung duduk di kursi makan yang berdekatan dengan sang istri.
"Nikita dan Baby Danil ada dimana bibi?"
"Oh, mereka berdua sedang tidur di kamar bibi. Kurasa mereka itu sedang kelelahan bermain. Dan yah aku senang karena kamarku di isi oleh anak kecil."
"Alhamdulillah kalau mereka sedang tidur." ujar Alex kemudian memakan menu yang sudah disiapkan dengan penuh cinta dan rindu oleh sang bibi.
"Apakah ayah juga sudah makan bibi?" tanya Aisyah setelah suapan terakhir makan siang menjelang malam.
"Sudah sayang, ayahmu hanya mau makanan bubur " jawab Sarah sembari tersenyum senang.
"Aku ingin sekali melihat ia sedang beristirahat." ujar Aisyah dan meninggalkan meja makan terlebih dahulu. Ia datang untuk melihat ayahnya lagi.
"Panjang umur ayah," ujar Aisyah dengan hanya berdiri di depan pintu. Ia tak ingin mengganggu waktu istirahat Mohammad Yusuf sang ayah.
Alex menggandeng tangan sang istri ke kamarnya yang sudah dibersihkan oleh pelayan yang bertugas di rumah itu.
"MasyaAllah, kamar ini masih sama dan tidak ada perubahan samasekali sayang," ujar Alex sembari memandang keseluruhan ruangan.
"Iya, bibi pasti sangat menjaga kamar ini dengan baik." jawab Aisyah kemudian duduk di ranjangnya. Alex menghampiri sang istri dan mengambil kakinya yang sedang menggantung di sisi ranjang.
"Terimakasih Alex, ya aku sedikit lelah tapi aku suka. Sudah lama sekali aku tidak pernah berkeliling desa ini." jawab Aisyah sembari menikmati pijatan-pijatan suaminya dari telapak kaki sampai naik ke betisnya.
"Aisyah, bisa aku buka pakaianmu sayang? aku tidak suka memijat kalau ada penghalang seperti ini." pinta Alex sembari menyentuh celana panjang sang istri.
"Baiklah suamiku," ujar Aisyah kemudian membuka pakaiannya satu-satu dan menyisakan underwear saja. Alex langsung tersenyum senang.
Ia juga mulai membuka pakaiannya dan hanya menyisakan boksernya saja.
"Eh, kenapa kamu ikutan membuka pakaian juga, bukannya aku saja yang mau dipijat ya?" tanya Aisyah dengan wajah bingung. Alex hanya tersenyum.
"Rasanya tak adil kalau kamu memberiku pemandangan indah sedangkan aku tidak, lihatlah diriku sayang, tubuhku juga ingin ditatap seperti aku menatapmu sekarang."
"Astagfirullah Alex, perumpamaan apa itu?" Aisyah hanya tersenyum dengan tingkah suaminya. Dan ia tahu akan kemana kegiatan pijat-pijat plus ini akan berakhir.
"Baiklah, silahkan tuan Smith pijat aku sampai aku tertidur ya," ujar Aisyah dengan menyembunyikan senyumnya.
Perempuan cantik itu lantas berbaring di atas ranjang dengan posisi yang sangat indah di mata Alex yang sudah berkilat gairah.
Perlahan Alex menyentuh kaki jenjang sang istri, memberinya pijatan ringan di sana kemudian menjalar ke atas kebagian paha yang begitu sangat menggoda. Putih, mulus, dan kencang.
"Bagaimana Aisyah, apa pijatan tanganku enak sayang?" tanya Alex yang sudah mulai meraba daerah inti sang istri.
Aisyah hanya tersenyum dan memandang suaminya dengan penuh cinta.
"Alex, kamu tidak perlu memijat bagian yang itu sayang, kakiku saja yang lelah." jawab Aisyah sembari menggerakkan bagian bawahnya karena geli dan nikmat secara bersamaan.
"Benarkah? boleh aku memeriksanya sayang?" tanya Alex dengan tubuh sudah berada diatasnya.
"Aku ingin melihatnya dengan jelas sayang, apa benar ia tak lelah sehingga aku bisa berkunjung?" bisik Alex dengan suara parau. Aisyah hanya tersenyum kemudian mengangguk.
"Semua milikmu Alex, kamu bebas datang dari mana saja,"
"Apa ini undangan resmi, Aisyah? dan aku bebas datang darimana saja?" bisik Alex dengan suara bergetar.
Tubuhnya juga sudah merespon dengan sangat baik. Semuanya menegang hanya karena kata-kata ambigu sang istri.
Sekali lagi Aisyah mengangguk dan mulai meraba dada bidang sang suami.
"Dan ini Alex, ini milikku, aku tak mau ada orang lain yang melihatmu dengan keadaan seperti ini," bisik Aisyah kemudian menciumi dada bidang yang begitu liat itu.
Ia bahkan meraih pucuk dada sang suami dan menghisapnya lembut seperti yang sering dilakukan oleh suaminya padanya.
"Ya Allah, Aisyah ..."suara Alex bergetar hebat, perlakuan istrinya benar-benar membuatnya terbakar.
"Aku menginginkanmu sayang, dari arah yang berbeda, boleh?" Aisyah mengangguk dan mengikuti kemauan suaminya.
Ia juga ingin merasakan sensasi lain yang selalu diinginkan suaminya itu tapi tak berani ia lakukan.
Semuanya terjadi dengan sendirinya. Dimulai dari pijatan Hingga berakhir dengan dessahan tertahan dari mereka berdua disiang hari yang masih sangat dingin itu.
Cuaca di desa Rakhata yang sudah memasuki musim dingin membuat mereka saling menghangatkan dengan meraup pahala yang sebanyak-banyaknya.
Segala kebaikan yang dilakukan oleh pasangan suami istri itu akan bernilai pahala yang berlipat ganda dihadapan Tuhan.
Mereka berdua tak berhenti saling membahagiakan dan saling memuja agar hubungan mereka selalu erat dan juga awet.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍