Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 163 EMHD



Alexander Smith langsung berlari kedalam rumah Mohammad Yusuf dengan langkah gembira.


Tubuhnya terasa sangat ringan melangkah karena yakin Aisyah dan Danil putranya ada di dalam sana.


"Assalamualaikum ayah," sapanya sebelum masuk ke dalam rumah yang pintunya terbuka dengan lebar itu.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, Alex? kamu datang nak?" jawab Mohammad Yusuf yang diikuti oleh rentetan pertanyaan bingung sang mertua.


Senyum gembira dari bibirnya berubah menjadi senyum kecewa.


Mata tua itu memandang ke arah belakang punggung menantunya berharap ada seseorang yang sangat ia rindukan juga berada di sana tetapi ternyata tidak ada.


Aisyah dan Baby Danil yang ia rindukan tak ada disana.


"Iya ayah, aku datang ingin menjemput Aisyah dan Danil." jawab Alex dengan senyum lebar diwajahnya.


Seketika Mohammad Yusuf tercengang dengan kata-kata menantunya itu.


"Apa maksudmu Alex? kamu datang tidak bersama putri dan cucuku?" tanya Mohammad Yusuf sembari menggeleng-gelengkan kepalanya khawatir.


Pikirannya sudah bisa menebak kalau ada masalah lagi diantara pasangan suami istri itu.


"Maafkan aku ayah, aku kira Aisyah ada di sini, ia meninggalkan rumah bersama Danil sejak kemarin."


"Apa?!" mata tua itu memandang Alex tajam dengan mulut sedikit terbuka karena kaget dengan pendengarannya.


"Aku tidak sengaja membuatnya bersedih ayah, maafkan aku," ujar Alex kemudian meraih tangan tua mertuanya dan menciumnya.


Pria itu bahkan bersujud dibawah kaki Mohammad Yusuf seperti yang ia lakukan pada saat ia meminta untuk kembali kepada Aisyah dulu.


Plak


Untuk pertama kalinya Mohammad Yusuf yang selama ini pandai menahan emosinya kini berada di dimensi lain.


Tangan tuanya menampar wajah Alex dengan keras sampai ia merasakan gemetar hebat pada tubuhnya yang sudah tua.


Bayangan putrinya pergi dari rumah bersama seorang bayi kecil membuatnya merinding takut.


Moskow adalah kota besar yang terkadang ganas. Ada banyak mafia dan orang jahat di sana.


Dan belum lagi suasana konflik antara Rusia dan Ukraina yang sekarang sedang memanas membuatnya berpikir macam-macam.


Jangan sampai putri dan cucunya menjadi tawanan perang antar dua negara itu.


"Pukul aku lagi ayah, Aku sudah membuat putrimu menangis lagi!" Alex mengambil tangan tua yang tak bertenaga itu ke arah kepalanya, agar ayah mertuanya memukulnya dan menghukumnya yang seberat-beratnya.


Mohammad Yusuf tidak bereaksi. Ia hanya mengepalkan tangannya dan menarik nafas dalam-dalam agar ia tidak mengulangi kembali memukul menantunya itu.


"Aku sudah bilang padamu dulu, kalau seandainya Aisyah sudah tidak bisa menyenangkan hatimu dan memberimu kedamaian, bawa putriku kembali padaku Alex," ujar sang ayah mertua setelah lama terdiam.


"Aku akan menerima putriku kembali, tak ada yang berubah sampai kapanpun karena ia adalah putri kesayanganku yang tak pernah aku sakiti sedikitpun." lanjutnya dengan pandangan menerawang jauh.


Mohammad Yusuf terduduk karena tak mampu menahan bobot tubuhnya yang terasa berat dan lemah. Rasa sedih akibat berita buruk yang dibawakan Alex untuknya membuatnya merasa lebih tua dari usianya.


"Maafkan Aku ayah, Aku tidak sengaja melakukannya, sungguh aku cuma bercanda," jawab Alex sembari mengangkat tubuh tua itu keatas kursi.


"Pergilah dari sini dan bawa putriku kembali, aku tidak tahu apa aku bisa memaafkanmu Alex," ujar Mohammad Yusuf sembari menghapus air mata yang tiba-tiba saja memaksa keluar dari pelupuk mata tuanya.


Pria tua itu beristighfar berkali-kali untuk meredam emosi di dadanya. Memohon ampunan pada Tuhan karena telah mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas pada pria yang telah mengambil putrinya sebagai isteri.


"Ayah," Alex mendekat dan kembali meraih tangan ayah mertuanya. Hukuman ini terlalu berat baginya kalau sang ayah menyuruhnya pergi tanpa mau menatap wajahnya lagi.


Mohammad Yusuf mengangkat tangannya di udara. Meminta Alex untuk tidak mendekatinya.


Alex merasakan tubuhnya merinding. Kata-kata dari ayah mertuanya bagaikan aliran listrik dengan kekuatan jutaan Volt yang menyengat tubuhnya.


"Ayah, kumohon jangan bicara seperti itu. Aku tidak bisa hidup tanpa Aisyah. kamu tahu kan aku bisa gila kalau tak bersama putrimu."


"Pergilah Alex jangan buang-buang waktumu disini. Temukan putriku atau aku tidak akan pernah melihat wajahmu lagi." Alex pun berdiri dengan gontai. Kepalanya terasa sangat berat sampai ia bahkan tak sanggup untuk menatap jalan di depannya. Semuanya tampak kabur seiring cairan bening menggenangi kelopak matanya.


"Aisyah kamu dimana sayang? apakah berita kematianku saja yang ingin kamu dengar hah!?" jangan menghukumku kejam seperti ini." ujarnya tak sadarkan diri.


Maksim yang melihat semuanya hanya bisa menarik nafas panjang.


Rekaman terpuruknya Alex saat kematian Paula rasanya belumlah sebanding dengan hari ini. semua keluarga Aisyah membencinya.


Pria itu kembali memeluk tubuh tegap Alex dan menepuknnya pelan.


"Ingat Tuhan, Alex. Istighfarlah. Kita akan mencari istri dan putramu Danil. Kamu harus hidup dan kuat." Alex hanya bisa diam dan melangkah meninggalkan rumah itu.


"Hem," Alex menarik nafas panjang dan menatap kembali rumah ayah mertuanya.


Aku akan membawa Aisyah pulang ayah, aku janji.


ujarnya membatin dengan tekad kuat di dalam hatinya.


Drrrt


Drrrt


Drrrt


Maksim mengangkat panggilan telepon itu yang ternyata dari seseorang yang mengaku sebagai keluarga Maryam.


"Ya Halo,"


"Aku sepupu kak Maryam. Saat ini ia akan melahirkan, tolong segera kemari kak, karena ia perlu dibawa ke Rumah Sakit sekarang." ujar gadis itu dengan suara panik.


"Iya tunggu sebentar, aku akan bawa mobil ke sana. Minta Maryam untuk bertahan ya," jawab Maksim kemudian mengajak Alex untuk segera naik ke mobil itu. Mereka akan menjemput Maryam di rumah Paman Salim. Rumah ayah mertua Maksim.


"Rupanya bayimu memang ingin lahir di kampung ibunya." ujar Alex sembari melihat jejeran pohon-pohon besar di sepanjang jalan menuju rumah Maryam.


Bayangan wajah Aisyah kembali terbayang saat akan melahirkan Danil, putranya dulu. Begitu kesakitan, hingga ia mengernyit. Rasa rindunya kembali memuncak untuk sang istri.


"Semoga istrimu melahirkan dengan mudah seperti Aisyah dulu,"


"Iya terima kasih, Alex." Maksim tersenyum dan berharap Maryam bertahan dan selamat dalam proses melahirkannya ini.


Drrrt


Drrrt


Drrrt


Alexander Smith mengangkat handphonenya dan melihat kalau itu adalah panggilan dari Albert.


"Halo kak Alex, mobil yang digunakan oleh istrimu sudah kami temukan. Mobil itu baru saja dijual di sebuah showroom mobil khusus barang second dengan harga yang sangat mahal."


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍