Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 106 EMHD



Albert mengantar Anna pulang ke Apartemen orang tuanya siang itu.


"Terima kasih banyak Al, kamu sudah begitu baik padaku dan keluargaku." ujar Anna ketika Albert berpamitan.


"Jangan seperti itu, kita sudah jadi keluarga. Kamu tak perlu berterima kasih sebanyak itu." balas Albert karena setiap ia melakukan sesuatu Anna selalu mengucapkan terimakasih. Anna tersenyum.


"Baiklah. Kamu istirahat saja dulu, tuan Alex dan Maksim masih sangat sibuk jadi mereka belum sempat menjengukmu."


"Iya, Al aku maklum. Kamu sendiri pun sudah cukup buatku."


"Aku pamit Anna, sampaikan salamku pada ibu dan ayahmu." ujar Albert kemudian pergi dari hadapan Anna. Ia pun menutup pintunya dan berniat untuk menonton acara kartun favoritnya di layar televisi. Tetapi baru saja ia melanjutkan langkah menuju ruang keluarga di mana televisi berada. Pintu kembali diketuk dengan tak sabar dari luar.


"Ini mungkin Albert, apa ia melupakan sesuatu?" ia berjalan cepat kembali ke arah pintu dan membukanya.


"Hai Anna, boleh aku masuk?" tanya seseorang dengan tampilan yang sangat rapih dan juga keren. Anna sejenak memperhatikan pria itu dengan seksama mencoba mengingat dimana ia pernah bertemu dengan pria seperti ini.


"Pelip?" tanya Anna dengan nada tak percaya. Pria yang ia tahu dari dulu suka mabuk-mabukkan bersama ayahnya kini tiba-tiba ada di hadapannya dengan penampilan yang jauh berbeda.


"Baguslah ingatanmu masih sangat bagus meskipun kamu sudah dirawat beberapa hari." jawab Pelip santai. Ia langsung masuk ke apartemen itu sebelum Anna mempersilahkannya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Pelip sembari duduk di sofa single di dalam ruangan yang tidak begitu luas itu. Anna hanya diam. Ia masih menatap Pelip dengan pandangan waspada. Ia tidak pernah seakrab ini dengan pria pemabuk itu. Kenapa ia begitu bebas masuk ke sini. Itu yang ia pikirkan.


"Anna, kamu tuan rumah yang tidak sopan. Kemarilah." ujar Pelip dengan seringaian di wajahnya.


"Tahu darimana kamu kalau aku dari Rumah Sakit?" tanya Anna sembari ikut duduk tetapi agak berjauhan dengan pria aneh itu.


"Ibuku yang mengatakannya. Katanya ia mendengarnya dari ibumu."


"Oh."


"Kamu tidak menawari aku minum Anna?" tanya Pelip lagi yang membuat Anna gelagapan. Ia tidak ingin berlama-lama dengan pria sok akrab ini dan sekarang ia malah meminta minum.


"Baiklah, kamu minum apa?" tanya Anna sembari berdiri dan melangkah ke lemari pendingin.


"Kuharap tidak ada minuman di sini supaya kamu cepat pergi dari sini." ujar Anna dengan nada pelan.


"Aku mendengarmu Anna." ujar Pelip dengan suara yang sangat menyebalkan.


"Minumlah dan segera keluar dari sini." ujar Anna dengan nada ketus setelah memberikan sebotol minuman bersoda ke arah Pelip. Bertepatan dengan itu pintu terbuka dari luar, menampilkan Jenny bersama seorang yang Anna rindukan.


"Ada tamu rupanya." ujar Jenny sembari menyimpan tas belanjaannya di atas meja.


"Ibu." ujar Anna tersenyum senang.


"Aku bertemu dengan dokter Omar dibawah, katanya ia lupa memberimu resep obat. Dan aku menyuruhnya ke atas untuk menemuimu langsung Anna." jelas Jenny akan sebab ia datang bersama dokter Omar.


"Mari dokter silahkan duduk dulu." lanjut Jenny karena Omar hanya berdiri saja di depan pintu menyaksikan Anna yang sedang memberi minuman kepada seorang pria muda.


"Ah iya terima kasih banyak Nyonya." jawab Omar kemudian ikut duduk di dekat Pelip. Anna jadi merasa canggung karena sang dokter menatapnya dengan ekspresi berbeda.


"Dokter juga mau minum?" tanya Anna gelagapan. Ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Mata dokter Omar seolah-olah sedang menembus jantungnya.


"Boleh, seperti pria muda ini." jawab Omar datar.


"Ah ya senang berkenalan denganmu tuan Pelip. Aku dokter yang merawat nona Peminov."


"Anda baik sekali dokter sampai menyediakan waktu luang mengunjungi pasien anda padahal baru saja ia keluar dari Rumah Sakit." ujar Pelip dengan nada tak biasa.


"Ini dokter silahkan diminum." ujar Anna sembari menyerahkan sebotol minuman yang sama dengan yang ia berikan kepada Pelip.


"Aku tidak tahu kalau aku cukup mengganggu kalian, aku hanya membawa resep obat untuk luka nona Peminov agar bekasnya tidak terlalu jelas."


"Terima kasih banyak dokter. Anda baik sekali." jawab Pelip dengan wajah santai mendahului Anna yang mengucapkannya.


"Aku permisi kalau begitu." ujar Omar kemudian berdiri dari duduknya.


"Hey, kita belum bercerita banyak hal tentang pasien anda yang nakal ini. Kenapa anda cepat sekali pergi dokter." Anna semakin gerah dengan tingkah Pelip yang menyebalkan. Omar hanya tersenyum kemudian berujar,


"Mungkin lain kali kita akan ada waktu untuk berbicara lebih banyak." Omar pun melangkah keluar kearah pintu yang diikuti oleh Anna di belakangnya. Dokter muda itu memandang wajah Anna kemudian melangkah keluar tanpa mengucapkan sesuatu pun. Tetapi gadis berambut pendek itu langsung menarik ujung jas sang dokter dan menengadahkan tangannya.


"Apa?" tanya Omar tidak mengerti.


"Resep obat yang dokter bilang tadi. Anda belum memberikannya padaku." jawab Anna dengan tatapan tajam ke bola mata elang sang dokter.


"Oh, itu. Lepaskan saja tanganmu pada pakaianku." jawab Omar dengan sedikit gugup. Ia langsung merogoh sakunya kiri dan kanan tetapi resep yang ia maksud tak juga ia temukan.


"Apa resepnya tercecer?" tanya Anna dengan pandangan curiga.


"Iya, sepertinya begitu nona Peminov." jawab Omar dengan wajah gelisah.


"Kalau begitu tuliskan di tanganku." ujar Anna kemudian menyodorkan tangan kanannya kepada Omar. Dengan senyum samar. Ia langsung meraih tangan gadis cantik itu dengan tangan kirinya kemudian tangan kanannya merogoh pulpen di saku jasnya. Anna memandang Omar menulis resep itu di telapak tangannya. Hatinya berdebar keras.


"Apa tidak ada alasan lain selain ingin memberikan resep ini dokter?" tanya Anna dengan senyum di wajahnya.


"Tidak ada. Dan sekarang masuklah. Pelip pasti menunggumu di dalam." jawab Omar yang kembali berwajah datar.


"Sampaikan salamku pada ibumu. Aku pulang." Omar benar-benar pergi meninggalkan Anna yang tersenyum-senyum sendiri. Ia menatap telapak tangannya yang baru saja ditulisi resep oleh sang dokter.


"Anna, apa dokternya sudah pergi?" tanya Pelip dari dalam sana dengan suara yang sangat menyebalkan di telinga Anna.


"Sudah, dan sekarang waktunya kamu untuk pergi juga. Kami tidak menerima tamu." jawab Anna kemudian berlalu dari hadapan Pelip yang masih betah duduk di sana.


"Bibi, bujuk putrimu agar mau menemaniku disini." ujar Pelip dengan wajah memohon.


"Pergilah Pelip, Anna baru keluar dari Rumah Sakit. Ia butuh istirahat yang banyak agar segera pulih."


'Baiklah bibi aku pulang. Tetapi aku akan sering datang kemari."


"Pulanglah Pelip. Kamu dengar aku kan?" bentak Jenny dengan suara keras. Pria muda itu pun pergi dari sana. Sedangkan Anna di kamarnya menatap telapak tangannya seolah-olah sedang menatap sebuah maha karya yang luar biasa. Senyum bahagia terus menghiasi wajahnya.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍