Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 173 EMHD



Mansion Antonio Cassano begitu ramai saat itu.


Para pelayan yang memiliki anak diminta oleh pemilik Mansion itu untuk membawa putra dan putri mereka ikut merayakan pesta ulang tahun anak laki-laki yang berusia 1 tahun itu.


Berbagai macam permainan dan juga makanan tersedia untuk anak-anak Itu agar mereka betah berlama-lama menghibur calon putra penguasa dunia narkoba Antonio Cassano.


Ya, Antonio sudah memperkenalkan dirinya sebagai Daddy untuk Danil, meskipun Aisyah tidak memberikan respon dengan cukup baik.


Pria itu tetap gigih berjuang mendapatkan hati Aisyah seperti malam ini.


Setelah pesta ulangtahun Danil usai, ia membawa perempuan berhijab itu untuk keluar makan malam romantis dan menyimpan Danil dijaga oleh Bibi Rossy.


Mereka berdua berangkat ke Restoran itu sudah sangat larut.


Aisyah sendiri sudah menolak mati-matian mengingat kondisi fisiknya yang tidak mengizinkannya untuk keluar malam-malam seperti ini.


"Ada seorang klien yang menunggu anda di tempat biasa bos," bisik seorang pria berpakaian serba hitam ditelinga Antonio Cassano.


"Kamu tidak tahu kalau aku sedang ada urusan yang sangat penting hah?!" geram pria itu dari sela-sela giginya.


Antonio Cassano saat ini sedang makan malam bersama di sebuah Restoran mewah dengan Aisyah.


Pria itu sedang merencanakan akan melamar perempuan cantik berhijab yang berbeda keyakinan dengannya itu dengan sebuah kejutan yang sangat romantis.


"Katakan padanya kalau aku sedang sibuk." jawab Antonio kesal.


"Tapi ia menjanjikan uang yang banyak bos." bisik pria berkostum itu lagi.


"Sudah kubilang kalau aku tidak mungkin pergi dari sini sebelum niatku tercapai, mengerti?" Aisyah hanya memandang percakapan dua orang itu dengan santai.


Meskipun hatinya sedang sangat buruk saat ini, ia tetap berusaha tenang dan menikmati apapun yang diberikan oleh Antonio.


"Pergilah, dan katakan pada orang itu kalau aku sedang tak ingin diganggu." ujar Pria itu masih bertahan dengan pendapatnya.


"Baiklah tuan, permisi." orang itu pun segera pergi dari tempat itu dan menghubungi seseorang.


"Aisyah, maafkan gangguan Pedro tadi, anak itu tidak pintar melihat keadaan," ujar Antonio Cassano dengan senyum tak nyaman di bibirnya. Aisyah hanya balas tersenyum.


Ia tak tahu harus mengatakan apa, jadi ia hanya mengangkat gelasnya untuk bersulang.


"Cheers tuan Cassano, anda sudah sangat baik mengajak aku keluar makan malam saat ini."


"Makan malam ini khusus untukmu Aisyah, kamu tidak lihat bahwa di sini tak ada orang lain selain kita berdua." ujar Antonio dengan wajah berbinar senang.


Aisyah hanya mengangguk dan sudah lama menyadari hal itu jadi ia tak punya kesempatan untuk meminta tolong kepada orang lain jika ingin lepas dari pria asing ini.


"Bisakah kita cepat pulang, tuan? Danil pasti sudah rewel sekarang ini, putraku tak bisa tidur kalau tidak bersamaku."


"Baiklah, kita akan pulang, tapi kamu harus menerima lamaranku terlebih dahulu, maukan Aisyah sayang?"


Deg


Aisyah merasakan dirinya ingin muntah saat itu juga mendengar kata sayang dari mulut laki-laki yang sangat tidak disukainya. Dengan berat hati ia tersenyum meskipun hatinya sangat tidak nyaman.


"Aku sedang hamil tuan Cassano, dan dalam keyakinan aku, haram hukumnya menerima lamaran dari pria lain jika sedang dalam keadaan seperti ini." jawab Aisyah cepat.


Perempuan itu sudah tak ingin berlama-lama menyembunyikan hal besar ini pada pria asing dihadapannya itu.


Antonio tersenyum kecut kemudian melanjutkan.


"Tidak apa, aku akan menunggu sampai bayi itu lahir, dan tetap akan menganggapnya sebagai bayiku sendiri." jawab Antonio dengan suara tegas tak ingin dibantah.


"Astagfirullah, terbuat dari apa hati anda tuan, anda tidak mengerti kalau aku sudah menolak anda? akan lebih baik kalau anda melepaskan aku sekarang juga." Aisyah menatap Antonio dengan pandangan tak terbaca.


"Ada banyak perempuan bebas di luar sana yang aku yakin pasti akan dengan senang hati menerima kemewahan yang anda berikan." ujar Aisyah yang berhasil membuat wajah pria itu berubah warna.


Antonio mengepalkan tangannya dibawah meja tetapi ia masih berusaha menahan agar tidak terpancing dan berakhir memperlihatkan karakternya yang buruk.


"Sudah kubilang aku akan tetap menunggumu sampai kamu mau, jadi berhentilah berpikir bahwa aku akan mencari perempuan lain."


Aisyah sudah tak punya kata-kata sekarang, ia terdiam sampai seseorang yang bernama Pedro itu kembali datang lagi berbisik.


"Markas kita diserang oleh orang yang tak bertanggung jawab, bos. Sebaiknya anda kesana atau semua barang kita akan habis dan tinggal nama saja."


"Kurang ajar! siapa yang berani melawanku di sini." ujarnya dengan suara menggelegar marah, membuat Aisyah sendiri tersentak kaget. Pria itu langsung berdiri dari duduknya lalu berujar,


"Aisyah, supir akan mengantarnu pulang, karena aku ada urusan yang sangat penting saat ini."


"Baik," jawab Aisyah singkat dengan hati bersorak nyaring luar biasa.


"Tapi ingat, jangan pernah berpikir bahwa aku akan membiarkanmu begitu saja, kamu harus jadi milikku, sampai kapanpun." ujar pria itu dengan penuh percaya diri meskipun hatinya sekarang ini sedang dilanda kecemasan.


Pedro sang asisten itu pun pergi dari tempat itu mengikuti bos besarnya yaitu Antonio Cassano.


Sedangkan Aisyah, ia berusaha mencari bantuan dengan mencari para karyawan di Restoran itu.


Ia ingin meminjam handphone orang-orang yang ada di sana sebelum sang sopir datang menjemputnya.


🍁


Sekitar satu jam kemudian. Antonio Cassano akhirnya sampai di Markasnya, gudangnya semua obat-obatan terlarang yang akan didistribusikan ke semua tempat di dunia ini untuk merusak kesehatan dan mental orang-orang yang sudah menjadikannya candu.


"Oh jadi anda tamu penting saya saat ini. Anda tahu tuan, kalau anda cukup mengganggu kesenangan saya malam ini." geram Antonio dengan wajah mengeras marah.


Ingin rasanya ia menarik pelatuk pistolnya dan melepaskannya pada kepala pria itu.


Antonio sudah tahu kalau Diego adalah seorang agen khusus yang selama ini mengikutinya selama di Meksiko.


"Apakah saya cukup mengganggu anda?" tanya Diego dengan sebelah alis terangkat mencemooh. Tak lupa juga senyum menyebalkan diwajahnya.


"Katakan apa maumu!?" tanya Antonio dengan nada suaranya yang tak sabar.


"Saya hanya ingin memperkenalkan seseorang padamu yang juga mungkin kamu kenal," ujar Diego sembari melambaikan tangannya kepada seorang pria kekar di balik pintu.


Ya pria itu adalah, Alexander Smith yang sudah cukup membantu agen FBI itu untuk menghabisi semua anggota Klan Antonio di gudang itu.


Deg


Seketika wajah Antonio Cassano berubah warna tetapi dengan cepat ia ubah menjadi datar dan dingin.


Antonio menatap mata Alexander Smith, seorang pria Rusia yang selama ini ia benci.


"Oh, Alexander Smith, sebuah kebetulan yang menyenangkan." sapa Antonio dengan pandangan mata tak suka.


"Hai, Cassano. Gudangmu ternyata sangat luas dan juga penuh." ujar Alexander Smith sembari melangkah mendekat.


"Kalian adalah tamu yang tidak sopan, memasuki daerah orang lain tanpa izin." ujar Antonio berusaha tenang meskipun ia tahu kalau ia sedang masuk perangkap dua orang ini.


"Lebih sopan mana dirimu yang mengambil istri orang lain, Cassano?" tanya Alexander Smith dengan ekspresi mengeras.


Diego hanya tersenyum. Ia akan memberikan waktu dua orang ini untuk saling berduel karena urusan pribadi sebelum pasukan resmi FBI datang meringkus Antonio Cassano.


"Istri yang kamu buat menderita? yang sepanjang waktu hanya menangis?" Antonio mencibir dan membuat Alex langsung melompat menyerangnya.


Bugh


Desss


Satu pukulan dan tendangan langsung mendarat di daerah vital Antonio Cassano.


Bugh


Antonio tidak tinggal diam, dengan cepat ia membalas pukulan tiba-tiba lawannya yang berhasil ditangkis dengan baik oleh Alex.


"Bajingan! serahkan istriku sekarang atau aku.."


Bugh


Serangan Antonio berhasil mengenai dada bidang Alex.


Akkhk


Tanpa sadar Alex mengerang.


"Itu untuk Paula Anderson yang sudah kamu rebut dariku!"


Desss


Hyaaaa


Alex semakin mendidih dan menyerang balik pria yang berani menyebut nama Paula Anderson mantan kekasihnya itu di hadapannya.


Dengan tendangan memutar ia berhasil melumpuhkan Antonio.


"Ayo bangun sialan! berani kamu menyebut orang-orang yang pernah dekat denganku hah!" teriak Alex dengan dada naik turun menahan emosi.


"Kamu yang terlalu rakus Alex, kamu mengambil Paula dariku dan sekarang Aisyah juga ingin kamu ambil kembali, jangan mimpi." Antonio berdiri dan kembali menyerang balik Alex.


Cukup lama mereka berduel hingga wajah dan tubuh mereka cukup lelah, dan terakhir mereka saling menodongkan pistol di kepala masing-masing.


"Apa maumu Cassano,?!" tanya Alex dengan nafas memburu karena lelah dan juga emosi di dadanya.


"Aku hanya ingin Aisyah, dan juga Danil,"


"Keparat! Aisyah istriku."


"Tapi sekarang ia sudah mengandung anakku, Istrimu itu lebih menyukai aku daripada dirimu yang sangat menyebalkan."


Bushhhh


Alex mengerang frustrasi sambil menarik pelatuk pistolnya lebih cepat daripada Antonio Cassano.


Mereka berdua sama-sama tumbang.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?


Bagi bunga dong hehehe ngarep🤭