Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 147 EMHD



"Kamu tahu Her, dimana rumahnya si Randy itu?" tanya Rama pada Heru yang sedang menyetir mobil yang mereka kendarai ke Kantor Polisi saat itu.


"Pas di belokan sana Kak," jawab Heru sembari menunjuk ke arah belokan sekitar 20 meter dari jarak mereka sekarang.


"Kalau begitu kita mampir dulu di sana sebelum ke kantor Polisi."


"Untuk apa mas?" Rara memandang suaminya dengan wajah penasaran.


"Aku hanya ingin bertemu dengan pria itu," jawab Rama dengan wajah tenang.


"Gak usah pak, orangnya temperamen. Suka merasa benar sendiri." timpal Reisya yang duduk berdampingan dengan Rara di jok belakang.


"Justru itu, aku ingin tahu apa maunya."


"Nah ini dia rumahnya si Randy itu." Heru menghentikan laju mobil pas di depan rumah Randy si pelapor insiden penganiayaan beberapa jam yang lalu.


"Aku ikut mas," ujar Rara sembari membuka pintu mobil. Ia dan Reisya ingin turun dan meminta Randy mencabut laporannya.


"Ini urusan laki-laki, kalian tunggu di sini saja." jawab Rama sembari mengangkat tangannya ke udara. Bos Reisya di resort itu pun turun dari mobil dan melangkah ke dalam rumah yang cukup besar dan mewah itu.


Lama ia berdiri di depan pintu hingga seorang pria muda membukakan pintu dengan wajah dan bibir terluka dan menampakkan warna keunguan. Rama bisa menebak kalau pria itu adalah Randy Martin.


"Assalamu'alaikum, ini Randy Martin?" tanya Rama dengan nada sopan.


"Ya betul, anda siapa?" tanya Randy balik.


"Saya Rama Putra Tama, kerabat dari Reisya Rachman. Bisa kita bicara sebentar?"


"Ada apa? mau meminta saya mencabut laporan di kantor polisi?" dengan angkuh Randy menatap Rama dari atas ke bawah.


"Anda benar sekali." jawab Rama singkat.


"Tidak akan kucabut laporan itu, sampai ia mau menyerahkan Reisya padaku."


"Wah berani sekali kamu mau mengambil istri orang lain. Kamu tidak malu mempunyai keinginan seperti itu? itu bukan budaya kita."


"Bule itu yang harusnya malu merebut kekasihku!" balas Randy dengan rahang mengetat emosi.


"Oh ya? Padahal kamu cukup tampan lho dan juga sukses. Aku kira kamu bisa mendapatkan perempuan lain yang mungkin lebih baik daripada Reisya." jelas Rama dengan berusaha menyebarkan diri menghadapi pria songong di hadapannya ini.


"Tetapi Reisya cinta pertamaku dan juga ia pernah bilang kalau akan menungguku." ujar Randy dengan ngotot.


"Tapi keadaannya sudah berubah sekarang. Anggap saja itu cerita masa lalu dan tidak usah diingat lagi."


"Dan ya perlu kamu ingat, sudah tidak punya hak untuk mengganggu hubungan mereka berdua."


"Tidak, aku tetap akan mengambil Reisya dari bule sialan itu."


"Oh begitu ya?" Rama mulai jengah dan kembali berujar, "Kamu mau berdamai atau saya akan balik menuntutmu!"


"Tidak!"


"Baiklah,Jangan salahkan aku kalau pada akhirnya kamulah yang akan dijemput oleh polisi menggantikan Albert."


"Hhhh, yang benar saja, aku yang jadi korban di sini. pergi saja sana! mengganggu istirahatku saja." usir Randy pada Rama dengan wajah angkuh.


Akhirnya Rama Putra Tama pergi dari rumah itu dengan senyum samar di wajahnya tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti karena dari arah depan ia disapa oleh seorang pria paruh baya yang ternyata sangat mengenalnya. Ia adalah relasi bisnis yang pernah bekerjasama dengan TGR Global Company.


"Pak Rama Putra? anda ada di sini? masuklah dulu. Kita minum-minum. Maaf kami baru sampai dari menghadiri pesta pernikahan putra kerabat kami." ujar Martin yang ternyata adalah ayah dari Randy Martin.


"Oh, Pak Rama kenal sama putra kami? baguslah, ia sedikit frustasi karena ditinggal kawin oleh kekasihnya."


"Gak usah ngomong kekasih deh Pa, Reisya itu gak cocok sama Randy." timpal perempuan di samping Martin yang merupakan Istrinya itu.


"Baiklah Pak Martin saya permisi, masih ada keperluan yang akan saya urus. dan kalau bisa berikan nasehat yang baik untuk putra anda atau ia akan menyesali perbuatannya pada Reisya. Permisi." Rama meninggalkan tempat itu dan segera naik ke atas mobil.


Martin dan Marta saling berpandangan dan mengangkat bahu mereka masing-masing. Mereka tidak mengerti akan apa yang dibicarakan oleh putra Presiden Direktur TGR Global Company itu.


"Jalan Her!"


"Baik Kak."


Beberapa menit kemudian mereka pun sampai ke Kantor Polisi.


"Kak Alex? bagaimana dengan Albert?" tanya Reisya saat mereka sudah berada di dalam ruang tunggu di kantor Polisi itu. Dua pria itu nampak sedang duduk santai di ruang tunggu bersama beberapa polisi yang berjaga malam itu.


"Tuan Alex, Max," ujar Rama menyapa mereka berdua. Kemudian ia pun mencari keberadaan Bripda Fadlan selaku petugas yang menjemput suami Reisya beberapa jam yang lalu. Ia ingin memberikan barang bukti.


"Silahkan duduk Pak Rama." ujar Bripda Fadlan mempersilahkan Rama untuk duduk.


"Terima kasih. Dan ya Silahkan dibuka ini," Rama menyerahkan sebuah flashdisk kepada polisi muda itu dan memintanya untuk memutarnya sekarang juga.


"Itu adalah bukti kalau Randy pantas untuk dihajar oleh Albert. Siapapun akan marah kalau istrinya diganggu oleh pria brengsek seperti itu." jelas Rama dengan suara tenang.


"Dan ini juga silahkan didengarkan." lanjut Rama sembari menyerahkan handphonenya yang berisi percakapannya dengan Randy tadi di rumahnya pria itu. Bripda Fadlan tersenyum.


"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?"


"Ah tidak, aku cuma merasa si Randy ini sedang menggali kuburannya sendiri. Dia tak tahu malu dan lumayan mempermalukan suku budaya kita di sini."


"Dan ini lagi." Rama menyerahkan indentitas dan juga amplop coklat kehadapan polisi itu.


"Apa ini?" tanya sang polisi dengan wajah khawatir. Jangan sampai Rama mau memberikan sogokan padanya yang justru akan merusak nama baik profesi dan institusinya.


"Aku menjaminkan diriku dengan identitas dan dokumen yang aku punya. Albert harus pulang dan tidur bersama istrinya malam ini. Dan aku minta jemput Randy sebagai gantinya karena telah melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan pada orang lain."


"Hahahhaha, itu ide yang bagus Pak Rama, aku akan merasa berdosa jika tidak membantu malam pengantin mereka." Rama tersenyum samar.


Ia bisa merasakan bagaimana frustasinya Albert saat ini kalau ia tidak bisa tidur dengan nyaman dengan istrinya malam ini.


"Baiklah Pak Rama, bawa pulang pengantin baru itu." ujar Bripda Fadhlan tersenyum.


Ia akan menyerahkan bukti-bukti itu pada Bapak Kapolsek besok pagi. Yang penting malam ini ia harus punya andil membantu pengantin baru itu melakukan malam pertamanya.


Reisya tanpa malu memeluk suaminya didepan orang banyak di Kantor Polisi itu.


Ia sangat bahagia karena malam ini ia bisa pulang bersama Albert sang suami.


---Bersambung--


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini, lIke dan komentarnya dong, supaya othor semangat unboxing Reisya, UPS. Albert maksudnya hehehehe


Nantikan proses MPnya mereka ya,


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍