Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 159 EMHD



Penumpang pesawat Garuda Airline itu tiba di Bandar Udara Internasional Sheremetyevo Alexander S Pushin dari Indonesia setelah sempat transit kembali di Singapore.


Mereka telah melakukan perjalanan yang cukup lama dan panjang dengan total di udara sekitar 12jam 20 menit dengan kecepatan 900 km / jam.


"Ya Allah, bokongku terasa panas Al, ini sangat melelahkan." ujar Reisya sembari meregangkan otot-ototnya. Albert hanya tersenyum kemudian meremas bokong sang istri dengan lembut.


"Aku akan memberimu terapi yang sangat nikmat setelah sampai di Rumah." ujar Albert dengan senyum mesum di wajahnya.


"Ya ampun Al, kamu ya..." ujar Reisya sembari menahan senyumnya. Ia sudah bisa membayangkan apa yang akan dilakukan suaminya itu nantinya setelah sampai di rumah.


"Ayo cepat turun." ajak Reisya sembari menarik tangan pria yang sangat dicintainya itu untuk turun dari pesawat.


"Wait a minute okey?, biarkan jalurnya kosong dulu. Macet di pintu. Kita akan turun setelah sepi dan hanya kita saja di sini." ujar Albert santai dan menarik tubuh istrinya untuk duduk kembali.


"Al, aku tidak menyangka kalau aku akan kembali lagi ke Kota ini."


"Hem..." jawab Albert sembari menutup matanya dan tiba-tiba merasakan kantuk datang menyerangnya.


"Al, kok tidur sih?"


"Penumpang masih banyak kan yang belum turun, biarkan aku tidur dulu ya sayang?"


"Ya ampun Al? kamu mau kita kembali lagi ke Indonesia?"


"Tidak mungkin Reisya, pilotnya juga pasti lelah, dan aku yakin ia juga ingin tidur terlebih dahulu." Reisya hanya menarik nafas panjang dengan jawaban suaminya.


Perempuan itu cukup maklum kalau suaminya baru merasakan kantuk sekarang karena sepanjang perjalanan berjam-jam tadi, pria itu tidak tidur seperti penumpang lainnya tetapi malah sibuk mengganggunya dan malah meminta untuk bermesraan terus dengannya.


"Al?"


"Hem,"


"Pramugari sudah meminta kita turun sayang."


"Apa?!"


"Iya Al, sisa kita berdua di sini." jawab Reisya dengan wajah malu pada sang pramugari cantik yang sedang berdiri di samping mereka berdua.


"Baiklah aku akan turun, tenang saja, aku tidak akan menginap disini." jawab Albert bersungut-sungut kemudian turun dari sana sembari mencangklong tas ranselnya di punggungnya.


Pria itu lantas menarik tangan istrinya dan melangkah ke arah tangga turun. Reisya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian tersenyum samar.


🍁


"Hati-hati sayang," ujar Maksim sembari menuntun tangan Maryam sang istri yang sedang melangkah menuruni tangga pesawat.


"Aku bisa sendiri Max, jangan berlebihan seperti itu. Aku kan malu," Maryam menatap tajam suaminya yang hanya dibalas senyum lebar oleh Maksim.


"Jangan cerewet sayang, pegang tanganku ya,"


"Astaga Max, kamu seperti baru kali ini menjadi calon Daddy."


"Ini memang pertama kalinya aku akan menjadi calon Daddy sayang, jadi aku sangat menjagamu,"


"Iya Max, iya..." Maryam pasrah pada apa saja yang dilakukan oleh suaminya tercinta.


"Daddy, aku bisa jalan sendiri tidak usah menggendongku." teriak Nikita dengan suara nyaring di belakang sana saat Alex ingin menggendong Nikita untuk menuruni tangga pesawat.


"Tapi janji jangan berlari, nanti kamu jatuh, okey?"


"Iya dad aku janji. Aku bisa jalan pelan-pelan. Memangnya ini pertama kalinya aku turun dari pesawat?!"


"Iya sayang, iya." jawab Alex mengalah. Kecelakaan yang hampir merenggut nyawa putrinya membuatnya jadi sangat protektif bahkan sangat berlebihan.


Omar yang melihat interaksi mereka berdua merasakan hatinya miris dan langsung menghampiri Alex.


"Aku akan pulang bersama Aisyah ke rumahku Alex," ujar Omar dengan wajah datar.


Omar dan Anna berencana untuk memisahkan pasangan ini untuk sementara waktu dengan mengambil sang adik ke rumahnya.


"Mana bisa seperti itu kak Omar, Aisyah adalah istriku dan Danil adalah tanggung jawabku. Jadi kamu jangan ikut campur urusan keluarga kami." jawab Alex dengan pandangan mata tak terbaca.


"Tapi Alex, hubungan kalian sedang tidak sehat sekarang ini. Aku ingin Aisyah ikut bersamaku."


"Tidak Kak, kamu tak punya hak untuk Aisyah selama aku masih hidup."


"Baiklah, tapi pastikan kamu tidak mengabaikan adikku." jawab Omar mengalah dan membawa Anna menuju terminal kargo Bandara untuk mengambil barang-barang bawaan mereka.


"Omar, sabar sayang." ujar Anna sembari mengelus lembut lengan sang suami.


"Entah kenapa aku ingin sekali memukul wajah Alex, Anna." ujar Omar sembari mengepalkan tangannya. Kekesalannya benar-benar sudah sampai di ubun-ubun.


"Sabar, ada saatnya aku juga akan membantumu memukul wajahnya yang menyebalkan itu." ujar Anna menghibur suaminya sembari tersenyum.


Perempuan itu jadi merasa lucu sendiri kalau ia berani memukul wajah mantan bosnya itu yang ia tahu Alex adalah mantan mafia yang ditakuti oleh banyak orang.


"Hei kenapa kamu tersenyum seperti itu Ann?" tanya Omar dengan kening mengernyit bingung.


"Aku cuma ingin mengidam untuk memukul wajah adik iparmu itu. Pastinya akan sangat menyenangkan, hihihi." jawab Anna dengan pandangan menerawang jauh sembari tertawa cekikikan.


"Kalau ngidam itu bisa direquest, aku akan mendukungmu, dan kurasa dengan alasan itu kita bisa memukulnya bersama." kedua orang itu tertawa bersama sampai langkah mereka tiba di Terminal Kargo Bandara.


Albert juga ada disana bersama dengan istrinya.


"Hai Reisya, bagaimana perjalananmu?" sapa Anna sembari memeluk tubuh Reisya yang sama-sama datang dari Indonesia tetapi tak saling menyapa selama belasan jam karena posisi kursi mereka saling berjauhan selama di atas pesawat.


"Alhamdulillah baik Anna, bagaimana denganmu?" tanya Reisya balik sembari menyentuh perut perempuan cantik itu yang katanya sedang hamil muda.


"Aku juga baik, Alhamdulillah tidak mual selama dalam perjalanan." jawab Anna tersenyum.


"Semoga aku cepat menyusul ya, Anna," Ujar Reisya sembari mengelus kembali perut Anna yang masih nampak rata itu.


"Insyaallah kalian pasti akan segera menyusul. Kalian berdua sangat sehat."


"Aamiin," jawab Reisya dan Albert bersamaan. Suami dari Reisya itu langsung merengkuh istrinya dan mengajaknya keluar setelah menemukan barang bawaan mereka. Mereka ingin segera pulang ke rumah dan berharap sopir keluarga Smith sudah menjemput mereka di Terminal kedatangan.


"Kita akan ikut ke Rumah Smith dulu Anna, ini sudah sangat larut."


"Dan ya aku ingin memastikan Aisyah dan Danil diperlakukan dengan baik oleh Alex setelah sampai di rumahnya." ujar Omar sembari mendorong troley yang berisikan beberapa tas pakaian mereka berdua.


"Iya, betul. Aku setuju. Kalau seandainya perilaku Alex belum juga baik sebaiknya kita bawa Danil dan mommynya pulang ke rumah kita," ujar Anna yang diangguki oleh sang suami.


Aisyah yang baru sampai dibantu oleh seorang pramugari untuk turun dari Pesawat tersenyum cerah.


"Hah Danil, akhirnya kita sampai sayang," ujar Aisyah sembari mendorong troley yang berisikan Danil ke arah Terminal Kargo Bandara. Ia juga ingin mengambil barang-barang bawaannya.


"Terimakasih nona," ujar Aisyah kepada pramugari cantik itu.


"Sama-sama nyonya, bayi anda tampan sekali, Pasti Daddynya juga sangat tampan, iya kan?" Aisyah hanya menjawab dengan senyum khasnya.


Setelah menemukan barangnya ia pun keluar dari terminal kedatangan dan menemui seorang pria yang sedang menjemputnya di depan.


"Kamu sopir baru ya?" tanya Aisyah sembari memandang pria asing yang meraih kopernya dari atas troley.


"Ia Nyonya, mari ikut saya," jawab pria itu dengan sopan.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?


Kalau othor khilaf, aku akan update lagi ya bentar, itu kalau khilaf dan mabuk hadiah bunga ya???


Hehehehe


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍