Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 77 EMHD



Dagestan, Desa Rakhata.


Alexander Smith kembali menghirup udara segar di desa pegunungan ini. Setelah hampir 4 tahun ia baru menginjakan kaki kembali ke desa ini. Tempat ia mendapatkan hidayah dan juga cinta.


"Max apa menurutmu kita akan tinggal di rumah ayah mertuaku atau di rumahku sendiri?" tanya Alex ketika mobil yang mereka tumpangi sudah melewati perbatasan desa. Jalanan bebatuan dan juga menanjak membuat mereka merasakan waktu yang teramat lama sampai ke tempat tujuan.


"Aku sih berharap kita bisa tinggal di salah satunya. Tetapi kalau paman Yusuf marah padamu, aku sudah menyiapkan tenda di bagasi. Kita akan tinggal di tenda itu sampai keadaan membaik." jawab Maksim tanpa mengalihkan pandangannya ke arah jalanan di depannya.


Ciiiiit


Maksim menghentikan mobilnya mendadak ketika melihat seorang gadis yang selama ini bertahta di dalam hatinya sedang berjalan sendiri di pinggir jalan.


"Max, kenapa berhenti mendadak hah!" tanya Alex pada Maksim yang sedang menatap seseorang yang semakin lama semakin menjauh dari pandangannya. Arah mereka memang saling berlawanan.


"Max!" panggil Alex yang sepertinya tidak dihiraukan oleh Maksim. Pria itu terus menatap seseorang yang sedang berjalan menunduk dari kaca spion mobilnya.


"Baik boss. Kita lanjutkan perjalanan." ujar Maksim sambil menghidupkan kembali mesin mobilnya. Tanpa sadar ia tersenyum samar. Ada kuncup bunga kembali bermekaran di dalam hatinya. Seperti baru saja dapat siraman air segar dari pegunungan Rakhata, hanya karena melihat sosok cantik sang pencuri hatinya selama ini.


"Nah kita sampai." ujar Maksim saat memasuki pekarangan luas rumah Mohammad Yusuf sang kepala suku Avar dan juga rumah mertua dari seorang Alexander Smith.


Alex langsung turun dari mobil dengan semangat yang sangat tinggi. Ia ingin melepaskan rindunya yang teramat sangat pada dua perempuan kesayangannya di dalam sana. Sekali lagi ia periksa penampilannya yang datang dengan pakaian casual. Wajahnya kembali bersih dan terawat. Ia benar-benar telah mempersiapkan dirinya untuk bertemu sang kekasih hati.


Tok


Tok


"Assalamualaikum!" ujarnya memberi salam setelah mengetuk berkali-kali dan tidak mendapatkan jawaban. Lama ia berdiri di depan pintu sekaligus menunggu Maksim menurunkan berbagai macam hadiah dan oleh-oleh dari Moskow untuk orang-orang di rumah ini.


Sepi


"Ada apa bos?" tanya Maksim saat melihat Alex berjalan kembali ke arah mobil.


"Tidak ada orang. Mereka semua kemana ya?" tanya pada Maksim padahal pria itu juga tidak tahu kemana semua penghuni rumah.


"Assalamualaikum tuan Alex!" sapa Pasha yang sering lewat di depan rumah kepala suku Avar itu.


"Waalaikumussalam Pasha, wah apa kabarmu. Lama. kita tidak bertemu." ujar Alex sambil memeluk tubuh Pasha.


"Alhamdulillah sangat baik tuan. Anda baru saja datang ya dari kota?" tanya Pasha sambil menatap intens pada penampilan Alex yang nampak sangat tampan dan keren.


"Seperti yang kamu lihat. Perkenalkan ini adikku. Maksim Smith." ujar Alex kemudian memperkenalkan kedua pria muda itu." lama mereka berbincang tentang keadaan desa Rakhata selama beberapa tahun ini. Sampai akhirnya Alex menanyakan dimana semua penghuni rumah ayah mertuanya.


"Dimana ayah mertuaku dan bibi Sarah? siapa tahu kamu tahu karena dari tadi rumah ini sangat sepi." tanya Alex dengan hati penasaran. Ia membawa pandangannya ke arah rumah besar dan luas milik ayah mertuanya.


"Oh, anda belum tahu ya?, Aisyah dibawa ke rumah sakit kemarin. Aku dengar ia sakit parah." tubuh Alex membeku. Ada rasa sakit menyerang hatinya mendengar informasi dari Pasha sahabatnya.


Dengan kecepatan tinggi Maksim menyusuri jalan bebatuan itu tetapi sekali lagi ia masih melihat gadis manis yang bernama Maryam itu masih berjalan sendiri di pinggir jalan.


Ciiit


Sekali lagi Maksim menghentikan laju mobil itu mendadak.


"Ada apa Max! kamu semakin tak tahu cara mengemudi dengan baik." gerutu Alex kesal karena kepalanya sampai terbentur ke dashboard mobil. Ia lupa memasang sabuk pengamannya karena buru-buru.


"Maaf boss. Aku turun dulu." jawab Maksim kemudian turun dari mobil. Ia ingin menyapa Maryam yang ia lihat berjalan di pinggir jalan dan belum juga sampai pada tujuannya.


"Assalamualaikum Maryam?" sapa Maksim pada gadis berhijab itu yang nampak kusut dan tak ceria seperti saat pertama kali ia berjumpa dengannya.


"waalaikumussalam tuan." jawab Maryam Sembari menundukkan wajahnya. Ia tak berani menatap wajah pria asing di hadapannya.


"Maryam, kamu masih ingat padaku?" tanya Maksim hati-hati. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya hanya karena bertemu langsung dengan seseorang yang sudah lama ia rindukan. Gadis itu mendongak menatapnya dan tampak berpikir.


"Anda tuan Maksim? saudara tuan Alex suaminya Aisyah?" jawab Maryam pelan. Ada senyum lembut dan juga binar bahagia di bola mata indahnya saat bisa mengenali sosok pria tinggi besar di hadapannya.


"Aku senang sekali kamu masih mengingatku." jawab Maksim dengan kebahagiaan yang membuncah di hatinya.


Ding


Ding


Bunyi klakson mobil yang dipencet tak sabar oleh Alex membuat percakapan mereka berdua terhenti. Maksim langsung menarik tangan Maryam ke arah mobil. Gadis itu menatap tangannya yang sedang digenggam erat oleh Maksim dengan wajah kaget. Ia tak percaya pria yang masih asing di dalam kehidupannya itu berani menyentuhnya seperti itu.


"Naiklah!" titah Maksim sembari membuka pintu belakang pada mobil itu. Maryam menurut karena ia juga lelah berjalan di sepanjang jalan bebatuan itu. Pria itupun masuk kembali ke mobil setelah memastikan gadisnya sudah duduk nyaman di belakang. Ia kembali menghidupkan mesin mobil sambil bertanya kepada Maryam tujuan gadis itu.


"Kamu mau ke mana?" tanya Maksim dengan pandangan mata ia arahkan pada kaca kecil di atas kepalanya. Menunggu Maryam untuk menjawab pertanyaannya.


"Ke Rumah Sakit. Aku mau menjenguk Aisyah yang katanya sedang sakit." jawab Maryam tanpa mau membalas tatapan Maksim lewat pantulan kaca itu.


"Alhamdulillah. Kami juga mau kesana." jawab Maksim dengan senyum samar di wajahnya. Itu berarti ia akan punya waktu berlama-lama dengan gadis itu. Alex menatap Maksim dengan pandangan mata taj sabar.


"Bisa kamu tidak menghayal kalau mengemudi?" tegur Alex yang melihat Maksim selalu melihat ke kaca mengawasi terus gadis yang sedang duduk di jok belakang.


"Atau kita akan sampai ke Rumah Sakit lebih cepat dalam keadaan tidak sadar." sindir Alex agar Maksim serius memandang ke arah jalanan di depan agar mereka bisa selamat sampai di rumah sakit. Maksim hanya tersenyum mendengar sindiran Alex. Ia terlalu bahagia sekarang bisa berjumpa dan duduk sedekat ini dengan Maryam.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey???


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍