
Dokter Omar tersenyum melihat Anna sudah mulai menggerakkan jari-jarinya, pertanda kalau gadis itu sudah siuman.
Beberapa menit berikutnya ia membuka matanya kemudian berkedip-kedip berusaha menyesuaikan pandangannya dengan cahaya lampu yang sangat terang di dalam ruangan itu.
"Anna kamu bisa mendengarkan suaraku?" tanya Omar dengan suara pelan. Gadis yang dimaksud mencoba mencari sumber suara dengan menggerakkan bola matanya ke arah samping kemudian tersenyum.
"Iya dokter, aku mendengarmu." jawab Anna dengan suara pelan pula.
"Alhamdulillah ya Allah. Apa yang kamu rasakan Anna? apa kepalamu pusing atau ada yang kamu rasakan sakit?" tanya Omar dengan penuh perhatian.
"Tidak dokter, aku merasa lebih baik sekarang." jawab Anna tersenyum kemudian melanjutkan,
"Aku cuma merasa lucu saja Dokter, kenapa kita bertemu disaat aku menjadi pasien dan sakit seperti sekarang. Ini sungguh tidak keren."
"Hey tak masalah kalau kita bertemu seperti ini, aku kan dokter. Pekerjaanku adalah bertemu pasien seperti dirimu." jawab Omar dengan wajah datar.
"Tapi aku kan jadi nampak tidak berguna. Aku lemah di depanmu." jawab Anna lagi.
"Bukankah dulu kamu juga pernah nampak lemah saat jadi korban pisaunya Maksim? dan aku tahu, saat itu kamu berpura-pura sakit kan, hem."
"Astaga dokter, jadi kamu tahu kalau waktu itu aku berpura-pura sakit? Tidak bisakah kamu berpura-pura tidak tahu saja, dokter?" Anna menutup matanya dengan wajah yang benar-benar malu karena ketahuan berpura-pura pada saat itu.
Dasar tak dokter dingin Tidak bisakah ia romantis sedikit saja, agar hatiku senang, Anna membatin.
"Baiklah Anna, aku senang karena kamu sudah melewati masa-masa kritismu. Dan aku yakin kamu akan segera sembuh." ujar Omar yang masih betah memandang gadis cantik yang sedang menutup rapat matanya itu. Gadis yang sedang berbaring di atas ranjang Rumah Sakit itu tidak bereaksi.
Anna tetap menutup matanya dan tak mau menatap Omar. Ia merasa kalau ia sedang diperhatikan oleh sang dokter.
"Istirahatlah kalau begitu, aku akan membawa Aisyah dan Maryam kemari. Mereka berdua sangat mengkhawatirkanmu." ujar Omar kemudian keluar dari ruangan itu meninggalkan Anna yang masih betah menutup matanya.
"Alhamdulillah, Tuhan masih memberi aku kesempatan untuk hidup." ujar Anna pelan saat ia menyadari kalau dokter Omar sudah tidak berada di ruangan itu. Ia ingin menggerakkan tangan kirinya tetapi masih terasa kaku dan juga sakit. Sedangkan tangan sebelah kanannya sedang tertusuk jarum infus.
"Anna!" panggil Aisyah dah Maryam bersamaan. Mereka berdua masuk ke ruangan itu dengan wajah penuh syukur. Omar baru saja memberinya kabar kalau agen cantik itu sudah sehat dan bisa dijenguk.
Anna membuka matanya kemudian tersenyum pelan.
"Terima kasih banyak Anna kamu sudah mempertaruhkan nyawamu untukku."ujar Aisyah dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan bilang seperti itu nyonya. Itu memang tugasku." jawab Anna dengan senyum diwajahnya yang masih tampak pucat.
"Anna, aku senang sekali kamu sudah melewati ini semua. Kamu tahu? kami berdua sangat takut." timpal Maryam sembari mengelus lembut kepala gadis itu.
"Iyya Anna, darahmu sangat banyak keluar, aku sampai berpikir kalau darahmu yang cuma 4 liter itu sudah habis dari tubuhmu." Aisyah ikut menimpali dengan wajah ngerinya. Anna tersenyum dengan kehebohan dan kekhawatiran dari dua perempuan penting dari klan Smith ini. Ia maklum pasti mereka berdua sangat ketakutan karena ini pertama kalinya mereka melihat kejadian seperti ini di depan matanya.
"Baik, Albert. Aku berterima kasih padamu. Matamu cukup jeli melihat bahaya." ujar Anna saat Albert sudah berada di samping ranjangnya.
"Ah, iya. Sniper itu sudah dibawa ke kantor Polisi." Albert sengaja tidak memberi tahu kalau pelaku penembakan itu sudah tewas ditangannya. Ia tak mau dua perempuan berhati lembut itu tahu dan malah semakin takut.
"Ceritakan padaku Albert, siapa yang berniat mencelakai aku!" tanya Aisyah dengan wajah meminta penjelasan pada Albert. Ia menatap Anna dan Albert bergantian.
"Itu cuma orang gila. Tidak usah kamu pikirkan. Orang-orang seperti itu sering berkeliaran di mana-mana. Kamu dengarkan beberapa hari yang lalu di Texas ada seorang gila yang menyerang Polisi di sana. Dan sudah tertangkap."
"Wah itu berbahaya sekali. Kalau ada orang gila bebas membawa senjata api kemanapun. Bisa membuat ketakutan pada rakyat sipil seperti kita ini." timpal Maryam yang merasa semakin takut dengan kejadian yang menimpa mereka dan benar-benar ia saksikan sendiri di depan mata kepalanya sendiri. Sedangkan Aisyah meskipun ia sudah pernah melihat klan Smith ini terlibat adu tembak-menembak, ia tetap merasa takut Apalagi kondisi perutnya yang sebentar lagi akan melahirkan.
"Baiklah Anna, istirahatlah dulu di sini. Aku akan mengantar nyonya Smith pulang ke rumah terlebih dahulu untuk beristirahat. Setelah itu aku akan kemari lagi menjagamu." ujar Albert yang merasa dua perempuan titipan Alex dan Maksim sudah waktunya kembali ke rumah untuk beristirahat.
"Iya Albert. Silahkan nyonya, istirahatlah yang tenang. Aku sudah baik dan jangan berpikir yang tidak-tidak." ujar Anna tersenyum.
"Baik Anna, aku sebenarnya ingin sekali menemanimu di sini sepanjang waktu. Tetapi kamu lihat kondisiku seperti ini. Pinggangku kurasakan sakit dan juga kakiku sangat lelah."
"Tidak apa nyonya, pulanglah sekarang. Akan ada perawat yang siap menjagaku di sini jika aku butuh sesuatu."
"Selamat malam Anna, kami pulang." kali ini Maryam yang berpamitan. Ia mencium pipi gadis itu lembut kemudian ikut keluar mengikuti langkah Albert dan Aisyah.
"Mereka semua baik padaku. Terima kasih Tuhan. Engkau memberiku keluarga yang utuh." ujarnya pelan dan bersiap untuk tidur.
"Anna apakah kamu tidur?" tanya Omar yang baru datang lagi setelah mengurus banyak hal di Rumah Sakit itu. Tak ada reaksi yang diberikan oleh gadis yang ia tanyai. Omar yakin Anna benar-benar tertidur.
"Oh, iya tidurlah. Aku akan menemanimu di sini." lanjutnya sembari memperbaiki letak selimut pada tubuh gadis tomboi yang sekarang menjadi pasiennya. Omar mulai membuka tablet yang selalu dibawanya kemana-mana. Berisi banyak data pekerjaan di dalamnya. Saat akan menjaga Anna ia berniat akan menyelesaikan pekerjaannya.
"Permisi dokter, ini makanan untuk nona Peminov." ujar seorang perawat yang membawa masuk semangkuk bubur saring dan juga sup untuk pasien spesial yang sedang berbaring di ranjang itu.
"Ah, iya letakkan di atas meja itu. Nona Peminov masih tidur. Ia akan makan kalau ia sudah bangun." ujar Omar sembari tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya lagi pada tablet ditangannya. Ia mempersilakan perawat itu melakukan apa yang ia tugaskan padanya.
"Aku permisi dokter." ujar sang perawat kemudian meninggalkan kepala Rumah Sakit itu di sana. Ia yakin kalau pasien ini pastilah spesial di mata sang dokter. Karena baru kali ini dokter Omar menyediakan banyak waktu untuk seorang pasien seperti ini.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya ya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?
Adakah yang mau kasih vote untuk Anna???
Aku tunggu yah.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍