Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 141 EMHD



Kediaman Keluarga Raditya di Jakarta.


"Mas, aku bingung nih mau ngasih kado apa ya sama Reisya." ujar Rara sembari membuka-buka layar handphonenya.


Perempuan berhijab itu sedang mencari inspirasi hal-hal yang menarik untuk diberikan kepada Reisya yang beberapa hari lagi akan menikah di kota Daeng di kampung halaman sang suami.


"Kasih apa saja yang menurutmu baik sayang," jawab Rama sang suami sembari menimang-nimang putranya Zydan.


"Bagi seorang sahabat, yang sederhana saja bisa menjadi hal yang luar biasa kalau diberikan dengan hati yang lapang," lanjutnya dengan senyum diwajahnya.


"Ih kamu kok selalu bikin aku gimana gitu.." ujar Rara gemas. Ia lalu mencium pipi Zydan bergantian dengan suaminya.


"Kalau aku sih, mau kasih bonus sampai beberapa hari untuk Reisya dan suaminya untuk mengadakan pesta pernikahan di sana sampai mereka berbulan madu."


"Wah itu bagus banget, jadi pengen cepat-cepat kesana mas," ujar Rara dengan mata berbinar senang.


"Boleh saja, pekerjaan di perusahaan juga lagi sepi gak ada hal yang buru-buru harus diselesaikan." jawab Rama dengan senyum diwajahnya.


"Jadi? kapan kita berangkat?" tanya Rara bersemangat. Sudah hampir 2 tahun ini mereka tak pernah lagi balik ke kota itu.


"Dua hari lagi, dan aku lihat Sarah juga antusias ingin ikut."


"Mereka mau bulan madu kedua?" tanya Rara dengan senyum diwajahnya, lalu ia melanjutkan.


"Mereka berdua kan baru tiba dari Mumbai, masak mau pergi lagi sih ninggalin Mama dan Papa di sini."


"Ya gak apa-apa sayang, Sarah kan juga mau kasih selamat untuk Reisya temannya."


"Iya tapi aku cemburu mas, mereka berbulan madu sampai berulang-ulang dalam waktu yang sangat dekat."


"Eh, kok marah di lapak sini sih? kenapa gak minta sama othornya supaya kita bulan madu ke Sukabumi aja sekalian, hihihi." Rama sampai tertawa lucu dengan kata-katanya yang diluar skenario.


"Ups, kisah kita kan sudah tamat ya? okelah aku pasrah aja bulan madu di resort kita sendiri." ujar Rara ikut merasa lucu.


"Nah gitu dong, sekarang siapkan saja semuanya. Kita akan berangkat besok. Tiket untuk semua keluarga Raditya sudah aku booking."


"Hah?! jadi kita semua mau berangkat ke pestanya Reisya? asyik dong bisa pulang kampung lagi."


Rama hanya tersenyum kemudian menggelitiki perut putra keduanya hingga Zydan Cekikikan karena geli.


( Bonus scene dari novel Gadis Pemimpi )


🍁


Acara yang dinanti-nanti pun tiba juga. Mempelai pria dari Rusia itu sibuk menghafalkan kalimat ijab kabulnya dengan peluh membanjiri tubuhnya.


Suhu dingin di dalam kamar hotel yang mereka tempati itu tidak serta-merta membuatnya adem, tetapi malah semakin menambah kegugupannya.


"Al, coba ulangi lagi," ujar Alex dengan penuh perhatian. Ia tak tahu harus bilang apa lagi, ia sendiri tak kalah gugup dengan calon pengantin itu yang ingin menggunakan bahasa Indonesia untuk proses ijab kabul nanti.


Alex dan juga Maksim masih setia mendampingi calon pengantin itu untuk belajar sejak semalam. Mereka berdua bahkan ikut tidur bersama dan meninggalkan istri-istri mereka berdua.


Sejak beberapa hari yang lalu keduanya menemani Albert untuk mengurus dokumen pernikahan Albert sang adik bungsu yang akan dibawa ke Kantor Urusan Agama dan sekaligus melaksanakan kursus calon pengantin.


"Aku bahkan baru mengenal huruf hijaiyah dan sekarang aku diminta menjadi imam, aduh aku tak kuat Alex," gerutu Albert sembari melemparkan tubuhnya yang tinggi besar itu ke atas ranjang.


"Jangan terlalu dipikirkan. Semalam kan Nikita sudah mengajarmu mengaji," ujar Alex masih dengan sisa tawa di bibirnya.


"Iya, tapi kan baru beberapa kali, aku belum bisa."


"Rasain kamu, dulu kalau ada guru spiritual yang datang ke rumah untuk mengajar kamu tidak pernah mau, nah sekarang kamu ambil hikmahnya hihihi," Maksim semakin tak bisa menahan rasa lucunya.


"Kalian, bukannya menghibur malah tambah membuatku tambah stress, ini sisa berapa jam lagi." Albert menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Sungguh ia ingin tidur dulu barang sekejap agar pikirannya kembali normal dan segar.


Alex dan Maksim perlahan meninggalkan kamar itu saat mendengar bunyi dengkuran halus Albert. Mereka berdua bisa memahami kegalauan hati pria itu.


Semua calon pengantin pria pasti akan merasakan gugup dan khawatir yang sangat ketika akan melakukan janji suci pernikahan apalagi dengan bahasa dan budaya yang sangat berbeda ini.


"Bangunkan uncle Al, sayang." pinta Aisyah pada Nikita saat mereka semua sudah akan berangkat ke Masjid Agung Takalar untuk melaksanakan ijab kabul.


"Baiklah mommy tapi aku harus mandi dan berpakaian yang cantik dulu." jawab Nikita dengan penuh semangat.


"Adek Danil tampan sekali pakai baju batik, mom." ujar Nikita sembari mencium pipi gembul adek Danil yang sudah sangat harum dan segar itu.


"Kamu juga cantik sayang," puji Aisyah dengan senyum cerah.


"Lihat, aku juga cantik," ujar Anna yang datang ke kamar mereka bersama dengan Omar. Mereka yang datang 2 hari yang lalu tak mau kalah penampilan. Heru mengantar mereka ke Mall di kota itu untuk mencari pakaian batik yang sama dengan yang The Smiths gunakan.


"Onty, kamu juga sangat cantik." puji gadis kecil itu kemudian segera ke kamar Albert untuk melaksanakan perintah sang mommy.


"Uncle Al, apakah kamu sudah siap?" tanya Nikita disertai ketukan panjang di pintu kamar Albert. Pintu kamar nomor 311 itu terbuka dengan menampilkan sosok tinggi tampan dengan setelan jas mahal di tubuhnya.


"Aku siap sayang, ayok kita berangkat." ujar Albert sembari meraih jari-jari mungil Nikita. Mereka berdua menuju lobby hotel dan menunggu rombongan keluarga yang lain untuk mengantarnya mengucapkan janji suci untuk Reisya Rachman tercinta.


🍁


The Smiths memasuki kawasan Masjid Agung Takalar dengan harapan acara yang sangat sakral ini bisa berlangsung dengan baik, lancar, dan mudah.


Keluarga pihak mempelai perempuan sudah menunggu di dalam Masjid.


Penghulu dari Kantor Urusan Agama sudah hadir bersama para saksi. Albert dituntun menuju tempat yang sudah disediakan oleh panitia acara.


"Bismillahirrahmanirrahim. AssAsyhadu Anlaailaha illallah Wa asyhadu Anna Muhammad Rasulullah." ucap Muhammad Badrul Himam selaku penghulu yang diamanahkan oleh Abdul Rachman untuk menikahkan putrinya itu.


Albert diminta mengikuti apa yang dikatakan oleh penghulu itu.


"Saudara Albert, Saya nikahkan Reisya Rachman binti Abdul Rachman dengan engkau yang mana walinya telah mewakilkan kepada saya dan engkau membayar mahar satu unit apartemen dibayar tunai karena Allah,"


"Saya terima nikahnya Reisya Rachman binti Abdul Rachman dengan mahar tersebut dibayar tunai karena Allah!"


"Sah!" teriak Nikita dengan suara nyaring mendahului semua saksi yang ada di dalam tempat itu.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍