Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 161 EMHD



Matahari sudah terbit dan berada pas lurus di atas kepala. Menandakan bahwa ciptaan Tuhan itu sedang melaksanakan tugasnya dengan baik menerangi bumi.


Sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah besar itu dengan laju pelan.


Alex dan Maksim turun dari sana setelah berjam-jam berkeliling kota Moskow mencari keberadaan mobil yang membawa Aisyah dan Danil.


Mereka berhasil mendapatkan rekaman kamera CCTV Bandara yang menayangkan seorang pria muda membawa istri dan anaknya itu ke dalam sebuah mobil mewah persis seperti mobilnya yang sedang dikendarainya sekarang.


Bugh


Tubuh loyo Alexander Smith terhuyung ke belakang ketika tanpa permisi, ia mendapat pukulan dari Omar yang sedang berdiri diambang pintu.


"Dimana Aisyah, sialan!" teriak Omar dengan emosi sudah berada di puncak kepalanya.


Alex hanya bisa diam sembari menghapus cairan merah yang keluar dari bibirnya dari pukulan sang kakak ipar yang begitu keras diwajahnya.


Bugh


Omar sekali lagi memberikan tendangan pada tubuh tinggi besar itu hingga terjatuh ke lantai.


Tubuh dan pikiran Alex sedang tak bisa merespon dengan baik.


Tenaga dan kekuatannya sudah pergi seiring kepergian Aisyah dari dirinya.


Ia lemah karena tak pernah beristirahat sedangkan pikiran dan hatinya sedang kosong karena rasa sesal dan sakit hati yang ia rasakan.


"Ayo jawab aku, dimana adikku sekarang!" teriak Omar dan berniat memberi lagi satu tendangan pada tubuh Alex yang sudah tak berdaya itu tetapi Maksim segera menahannya.


"Alex sudah sangat menderita. Kumohon biarkan dia," ujar Maksim sembari berusaha mengangkat tubuh tak berdaya itu ke dalam kamarnya. Ia paham kenapa Omar begitu marah pada Alex saat ini.


"Daddy! ada apa dengan Daddy uncle?" tanya Nikita sembari menatap tubuh Alex yang sedang diangkut oleh beberapa pelayan ke dalam kamarnya.


"Uncle katakan padaku kemana mommy, aku ingin merayakan ulang tahun bersama." Nikita menarik pakaian Maksim yang juga sudah nampak kacau saat itu.


Belasan jam dari udara kemudian dilanjutkan berkeliling kota Moskow selama hampir sepuluh jam tanpa istirahat membuatnya sangat kacau dan hampir tumbang.


"Nikita sayang, temani Daddy ya? uncle ingin mandi dulu. Dan juga aku sangat lapar." Nikita mengangguk kemudian menghampiri Daddynya yang nampak sangat menyedihkan.


"Maryam, siapkan makan untukku, aku akan mandi dulu." ujar Maksim pada istrinya yang juga ada disana dengan wajah sedihnya. Sepanjang malam perempuan itu berdoa semoga kedua pria yang mencari Aisyah itu juga pulang dengan selamat.


"Reisya, temani Nikita ya, jangan sampai ia mengganggu istirahat Daddynya," Reisya mengangguk. Ia juga bisa merasakan kesedihan semua orang akan musibah yang menimpa ini.


Omar berjalan hilir mudik di ruangan itu dengan emosi masih menguasai perasaannya.


"Anna, aku tak bisa membayangkan bagaimana Aisyah dan juga Danil saat ini. Oh Tuhan seandainya aku bisa memutar waktu, Oh ya Allah tolong lindungi mereka berdua."


"Sabarlah Omar, aku akan meminta teman-teman para agen untuk mencari Aisyah dan putranya."


"Sebaiknya kita pulang ke rumah saja dan melanjutkan pencarian sendiri." ujar Omar dan memutuskan meninggalkan rumah itu untuk kembali ke rumahnya sendiri.


Albert segera menghubungi orang-orang kepercayaan klan Smith untuk mengadakan rapat darurat.


"Perhatikan mobil dan pria ini!" seru Albert sembari menunjuk gambar mobil dan juga pria muda dari layar monitor. Beberapa orang kepercayaan yang juga merupakan sniper terbaik di dalam klan mereka mulai mencatat hal-hal penting dalam otak mereka.


"Temukan mereka dimanapun mereka berada dan pastikan nyonya besar dan putranya selamat."


Setelah semuanya siap mereka semua berangkat dengan bermodalkan rekaman CCTV sepanjang jalan yang dilewati oleh mobil itu dan juga identitas pria muda yang menjadi drivernya.


Albert mengusap wajahnya kasar. Ia tak menyangka kebahagiaan pernikahannya malah membuat kejadian naas ini terjadi.


🍁


"Daddy? kamu sudah sadar?" tanya Nikita pelan saat pria yang sangat dicintainya itu membuka matanya perlahan. Satu jam gadis kecil itu duduk disamping sang Daddy sembari membersikan luka bekas pukulan dari Omar pada wajahnya.


"Aisyah?" gumam Alex dengan suara pelan, tangannya bergerak pelan menyentuh tangan kecil Nikita.


"Mommy tidak ada Daddy, mommy belum pulang, apa mungkin ia tidak turun dari pesawat bersama adek Danil?" ujar Nikita memberi tahu sang Daddy yang memandang langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong.


Rasa sesal kembali menyerang hati Alex, pria itu mengeratkan rahangnya menahan emosi di dalam hatinya.


"Daddy, kenapa tidak membawa mommy pulang? katamu kita akan membuat kejutan padanya kan?" Alex masih diam.


"Daddy kamu suka melupakan janjimu, katamu mommy pasti akan senang dengan kejutan ini tapi mana? mommy malah marah dan tak mau kembali."


"Daddy? adek Danil pasti juga sedang rewel kan, lalu mommy akan menjaganya sendiri."


"Kamu menangis Dad?" tanya Nikita sembari menghapus cairan bening yang keluar dari sudut mata sang Daddy.


"Niki, biarkan Daddy makan dulu ya, nih lihat uncle bawakan apa untuk daddy." ujar Albert yang baru masuk ke kamar itu dengan membawa nampan berisi makanan dan juga susu segar. Bagaimanapun Alex harus makan agar kuat menghadapi semua ini.


"Ayo makan dulu, kak Alex." Albert berusaha membangunkan Alex yang nampak sangat menyedihkan itu.


"Tidak Al, aku tidak lapar." tolak Alex sembari mendorong semua makanan itu menjauh.


"Makanlah dulu dan kita akan ke Dagestan, pesawat sudah menunggu kita di pangkalan. Terakhir Aisyah marah padamu ia kembali ke rumah ayahnya kan?" Alex langsung menatap Albert dan mulai tersenyum.


Tangannya mulai bergerak meraih makanan itu dan memakannya lahap. Ia seperti mempunyai semangat baru setelah mendengar kata Dagestan. Sebuah tempat yang sangat bersejarah padanya.


Tempat pertama kalinya ia bertemu dengan Aisyah dan jatuh cinta pada perempuan itu meskipun terlambat ia sadari.


"Aku sudah kenyang Al, kita akan berangkat sekarang juga." ujar Alex dengan semangat baru diwajahnya.


"Aku mau ikut ke Dagestan Max," ujar Maryam saat mendengar kabar kalau suaminya akan berangkat ke kampung halamannya itu sore itu juga dengan menggunakan jet pribadi klan Smith. Mereka akan menemukan Aisyah di sana.


"Tidak usah sayang, kamu di sini saja ya," bujuk Maksim pada istrinya yang sedang hamil besar itu.


"Tapi aku ingin melahirkan di rumahku di Dagestan, Max, Aisyah tak ada di sini. Aku merasa sangat tidak nyaman di rumah ini tanpanya." rengek Maryam tak mau ditinggal.


"Okey baiklah sayang, persiapkan persiapan persalinanmu kalau begitu. Kita akan segera berangkat."


"Terimakasih Max, aku akan bersiap."


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍