
"Sayang, kamu tidak kasihan sama Criss dan Nikita?" tanya Reisya pada Albert saat mereka baru saja mendarat setelah terbang ke Nirwana berkali-kali.
"Kasihan kenapa Sya?" Albert memandang wajah istrinya yang nampak kelelahan itu.
"Kita bersenang-senang diatas penderitaan mereka berdua sayang," jawab Reisya sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
"Ah tidak apa-apa, itu hanya pembalasan kecil dari kami untuk Nikita yang dulu suka menggangu Hem," jawab Albert kemudian meraih bibir Istrinya lagi.
"Al,"
"Hem,"
"Yang tadi itu sangat luar biasa sayang,"
"Yang mana?"
"Kamu sungguh hebat, Al," bisik Reisya tersenyum. Albert balas tersenyum. Ia sangat senang kalau istrinya bahagia dan memujinya seperti itu.
Tangannya dengan lincah menarik selimut yang menutupi tubuh mereka berdua dan kembali memberikan sentuhan yang memabukkan.
Reisya tahu akan kemana lagi kegiatan ini akan berakhir. Sekarang ia yang ingin memimpin permainan.
Sementara itu di kamar para bocah perempuan. Nikita yang diberikan tempat untuk berbaring di tengah-tengah memulai membuka mulutnya setelah semua anak sudah siap di dalam selimutnya.
"Ayo kak Niki, kita sudah siap mendengarkan ceritamu," ujar Sofya yang sudah mulai menguap. Nikita tersenyum. Itu berarti anak-anak ini akan segera tertidur dan ia akan terbebas dari mereka.
"Sebelum aku mulai, kalian harus baca do'a dulu sebelum tidur,"
"Iya kak, aku sudah membaca do'a tadi sebelum naik ke ranjang." jawab Elmira tersenyum.
"Baguslah kalau begitu, aku mulai ya, Bismillahirrahmanirrahim."
"Di dalam sebuah hutan, tinggallah seekor ibu kambing bersama anaknya. Pada suatu ketika, ibu kambing meninggalkan anak kambing di rumah. Ibu kambing hendak pergi mencari makan. Ibu kambing ingin sang anak tinggal di rumah yang aman, selama ia pergi mencari makan."
"Aku belum pernah melihat kambing kak Niki, apa dia seperti kucing?" Asma memotong cerita Nikita dengan menarik tangan kakaknya itu.
"Bayangkan kambing itu seperti seekor domba tetapi bulunya tidak seperti itu." Asma dan yang lainnya pun terdiam dan kembali menyimak cerita si kambing dan anak-anaknya.
"Anak kambing itu pun diberi pesan oleh ibunya agar tidak membukakan pintu kepada siapapun selama ibunya pergi mencari makan."
"Sebelum pergi, ibu kambing juga memberikan sebuah lagu yang jadi penanda jika sang ibu telah sampai di depan rumah setelah mencari makanan."
"Apa kak Niki tahu lagi seperti apa yang dinyanyikan oleh ibu kambing?" tanya Elmira dengan wajah serius.
"Ya, lagunya seperti ini, Ibu sudah tiba... Mencarikan mainan...dan seterusnya. Dan tanpa mereka sadari, tak jauh dari rumah ada seekor serigala yang menguping pembicaraan ibu dan anak kambing."
"Trus apa yang terjadi?" tanya Asma dengan wajah tegang.
"Serigala itu pun, jadi memiliki niat jahat untuk memangsa si anak kambing saat ibunya telah pergi dari rumah. Beberapa saat setelah ibu kambing pergi ke luar rumah untuk mencari makanan. Serigala pun mengendap-endap ke depan rumah, dan menyanyikan lagu yang telah diajarkan ibu kambing kepada anaknya."
"Wah serigalanya juga tahu lagu itu ya?"
"Iya, karena ia sudah mendengarnya adikku sayang, Si anak kambing pun heran, ia merasa bahwa ibunya belum lama meninggalkan rumah tapi kenapa ia mendengar lagu tersebut."
"Anak kambing tersebut, kemudian mengintip dari balik jendela dan terkejut karena yang dilihatnya bukan si ibu kambing melainkan seekor serigala."
"Meski takut dan merasa terancam, anak kambing itu pun dengan cerdik berteriak dan membuat suara gaduh dari dalam rumah. Teriakan anak kambing dan suara gaduh yang ia buat membuat binatang lain datang ke rumahnya dan membuat serigala pergi, berlari dari rumah tersebut."
"Wah anak kambing itu pintar sekali kak," ujar Elmira dengan pandangan takjub.
"Apa ya?" tanya Sofya yang kembali menguap dengan mata merah.
"Aku tahu kak Niki," seru Asma sambil bangun dari posisinya.
"Ayo katakan Asma katakan, apa pesan dari kisah serigala dan anak kambing ini?"
"Pesannya adalah supaya anak kambing tidak mudah percaya terhadap serigala."
"Hum, kamu betul Asma kita tidak boleh mudah percaya pada orang yang baru kita kenal. Kita harus berhati-hati sayang,"
"Iya kak, kami faham. Mommy juga sering bilang seperti itu," jawab Asma kemudian memeluk tubuh sang kakak.
"Kami sayang kak Niki, malam ini kita tidur sama-sama ya?" Nikita tidak menjawab. Ia teringat akan suaminya yang berada di kamar bocah-bocah laki-laki.
"Nah sekarang, aku akan menemani kalian tidur. Jadi tutup mata kalian secepatnya." ujar Nikita sembari menutup matanya juga, memberi contoh agar bocah-bocah itu tidak ada lagi yang berbicara.
Sementara itu Crisstoffer Anderson yang tidak tahu caranya mendongeng hanya bisa berbaring di samping bocah-bocah itu dalam diam. Ia merasa sedang dikerjain oleh keluarga Smith.
"Ayo kak Criss, mulailah bercerita," ujar ElRasyid tidak sabar.
"Baiklah, aku akan bercerita tentang mobil yang punya kecepatan tinggi," jawab Crisstoffer sembari membayangkan koleksi mobil-mobil mewahnya.
"Wah asyik, aku suka kalau kakak bicara tentang mobil dan juga senjata," timpal Danil dengan wajah berubah bersemangat.
Crisstoffer langsung menarik nafasnya berat. Bagaimana kalau anak-anak ini tidak tertidur? dan ia jadi tidak bisa mengunjungi Nikita, ia jadi pusing sendiri.
"Bagaimana kalau kalian tidur dulu, besok aku akan bawa kalian ke rumahku dan akan aku tunjukkan koleksi mobil-mobil dan senjataku bagaimana?" tanya Crisstoffer memberi ide.
"Okey siap kak." jawab mereka serentak. Pria itu pun tersenyum lebar.
"Nah sekarang masuklah ke dalam selimut. Dan aku akan menunggu kalian sampai tertidur." ketiga bocah itupun mengatur tidur mereka dan segera menutup mata. Crisstoffer tersenyum lebar. Ia yakin malam ini ia akan habiskan dengan sangat indah dengan istrinya.
Crisstoffer melambaikan tangannya di depan mata bocah-bocah yang sedang tertutup itu untuk memastikan mereka sudah benar-benar tertidur apa belum.
Dengan perasaan yang sangat bahagia ia pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu dan berniat mencari kamar kata bocah perempuan. Ia ingin menjemput istrinya di sana.
"Criss? apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Omar yang baru keluar dari kamarnya. Setiap malam dokter itu selalu memeriksa putra dan putrinya sebelum mereka tertidur.
"Aku baru saja menemani anak-anak untuk tidur uncle," jawab Pria itu tersenyum.
"Terimakasih banyak Criss, kami jadi mengganggu waktumu bersama Niki," ujar Omar berusaha menahan senyumnya.
"Iya uncle, tidak apa. Aku juga suka bermain dengan anak-anak."
"Nah sekarang kamu mau kemana?" tanya Omar lagi karena Crisstoffer masih berdiri di depan pintu kamar itu.
"Aku ingin menjemput Nikita, uncle. Ia sedang bersama dengan para bocah perempuan di dalam sana."
"Oh baiklah, Criss. Silakan. Dan selamat menikmati malam pertama kalian." ujar Omar tersenyum. Crisstoffer ikut tersenyum kemudian segera mengetuk pintu kamar itu.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍