
Albert yang baru bangun tidur tak sengaja bertemu dengan Alex di lorong depan kamar yang ia tempati menginap malam tadi.
"Hai, uncle Al, apa kabarmu pagi ini?" sapa Nikita pada pria muda, tampan, dan masih jomblo itu.
"Sangar baik, sayang. Seperti yang kamu lihat. Aku sehat dan kuat." jawab Albert dengan tersenyum lebar.
"Kamu mau kemana pagi ini Al?" Alex menurunkan Nikita dari gendongannya karena sepertinya ia ingin digendong oleh Albert yang katanya kuat itu.
"Aku tidak kemana-mana, kan masih ada acara melukis pagi ini disini."
"Kalau begitu aku titip Nikita di kamarmu ya? aku ada urusan sedikit dengan nyonya Smith." Albert tersenyum dan mengangguk paham. Ia juga ingin tapi apalah daya, pasangannya masih sangat jauh di seberang ribuan pulau di sana.
"Niki, ayok ke kamar uncle, kita akan menelpon onty Reisya," ajak Albert dan langsung membawa gadis kecil itu untuk kembali ke kamarnya.
"Yeay, ketemu onty Reisya lagi." teriak Nikita dengan wajah gembira.
Sementara itu, Omar sedang mengunci pintu kamarnya dan mematikan lampu utama. Yang ia nyalakan adalah lampu hias di kamar itu yang daya terangnya hanya seperdua dari lampu utama tadi.
Omar membuka mantel panjang yang ia gunakan tadi untuk keluar rumah.
"Apa kita tidak jadi keluar dokter?" tanya Anna sembari memandang suaminya yang mulai melepaskan pakaiannya satu-satu.
"Tidak, kita di sini saja. Di kamar pengantin kita Anna." jawab Omar sembari memeluk tubuh istrinya yang sudah sangat ia inginkan. Anna setuju dengan pengaturan seperti ini. Ia juga lebih nyaman di dalam kamar ini. Kamar yang sudah lama ditempati sang suami, dimana isinya semua berbau Omar. Hingga ia merasa pria itu selalu merengkuhnya dengan sayang.
Omar meraih bibir Anna lembut, memaguttnya dengan penuh perasaan.
"Aku mencintaimu Anna," bisiknya lembut setelah melepaskan tautan bibir mereka.
"Aku juga Omar, sangat." jawab Anna dan mulai mencium balik bibir sang suami. Ia memainkan lidahnya di dalam rongga mulut sang dominan, hingga Omar dengan rasa yang tak bisa ia lukiskan, mengerang dan mengencangkan pelukannya pada sang istri.
Tangan kirinya menahan tengkuk Anna agar ia bisa lebih lama menikmati bibir sang pujaan hati. Anna menggeliat pelan menandakan ia sudah mulai terbakar.
"Dokter..." bisik Anna dengan suara bergetar menahan sesuatu. Sedangkan tangan Omar sudah sangat lincah melepaskan semua penutup kain yang membalut tubuh istrinya.
"Panggil namaku sayang," bisik Omar disela-sela cumbuannya pada tubuh sang istri yang sudah tak berpenghalang selembar benangpun. Ia mengecup lama bekas tembakan yang masih samar itu,
"Kamu benar-benar menyiapkan ini untukku sayang?" tangan Omar mengelus lembut bagian itu kemudian berpindah ke bagian sekitarnya yang sudah lama ia ingin sentuh sejak ia menjadikan perencanaan dibawah kungkungannya ini menjadi pasiennya.
Tangannya bergerak kesana dengan gerakan sensual dan ritme yang sangat teratur. Hingga Anna menutup matanya merasakan kenikmatan yang tak pernah ia dapatkan selama ini.
Omar tersenyum dan memulai mencari posisi yang pas.
"Here we go, my sweetie." ujar Omar dengan senyum diwajahnya. Anna menggigit bibir bawahnya ketika jarum tumpul dan sangat besar itu mulai memasuki tubuhnya. Ia bahkan menjerit tertahan karena tak menyangka rasanya akan sangat sakit seperti itu, melebihi peluru yang pernah menembus tubuhnya. Omar berhenti dan memandang sang istri yang nampak tak nyaman.
"Peluru kecil itu lebih sakit sayang dan membawa luka, kalau yang ini aku jamin tidak Anna, aku akan sangat lembut, Hem," ujar Omar menghibur. Ia tahu istrinya yang tangguh ini akan kuat dan mungkin bahkan akan meminta yang agak kasar kalau sudah merasakannya. Anna mengangguk sembari meremas sepreinya saat jarum beesar dan tumpul itu kembali didorong oleh sang pemilik dengan kuat dan berhasil merobek selaput daranya.
"Aaaaakh," jerit mereka berdua bersamaan. Omar dan dia sendiri merasakan rasa yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Hanya peluh yang membanjiri kedua insan yang sedang memadu kasih itu. Hingga Anna meminta suaminya untuk melakukannya lebih cepat,
"Faster Omar,"
"As you wish my sweetie."
Mereka berdua telah menyempurnakan ibadah mereka dipagi yang masih sangat dingin itu. Hanya kata-kata cinta yang menghiasi pergulatan mereka berdua di sana. Seakan tak akan ada waktu lain, melakukannya berulang-ulang hingga tenaga yang mereka miliki sudah terkuras habis.
Sementara itu di kamar yang lainnya, Alex dan Aisyah juga bagaikan pengantin baru. Mereka berdua baru bertemu setelah puluhan hari berpisah karena baru melahirkan baby boy Danil.
"Kamu sempit sekali Aisyah," bisik Alex dikuping sang istri saat ingin melakukan penyatuan, ia sampai tak bisa menembus milik sang istri.
"Itu kan yang kamu suka, Alex," jawab Aisyah dengan bisikan pula. Setelah itu ia berusaha menahan suara-suara yang akan keluar dari mulutnya. Karena ia tahu kamar ini bukanlah kamarnya yang sudah didesain khusus agar apapun yang ia lakukan bersama Alex tidak akan menimbulkan keributan yang berarti.
"Aisyah, I love you honey." ujar Alex saat sudah berhasil melepaskan dirinya didalam tubuh sang istri tercinta.
"I know Alex, I know." jawab Aisyah sembari menutup matanya menikmati apa yang dilakukan Alex padanya. Suaminya itu memperlakukannya dengan sangat lembut dan penuh cinta. Tubuhnya diurut hingga bisa kembali tidur dengan nyaman setelah aktivitas mereka yang menguras banyak tenaga dan energi.
Sementara di luar sana, suasana rumah itu sudah mulai ramai oleh panitia dari Event organizer yang masih akan melanjutkan acara selanjutnya.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar yang membangun dan memberikan semangat.
Adakah Vote untuk pengantin baru kita gaess?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
Eits sebelum itu, othor mau promo nih novel temannya othor nih, yuks mampir dan ramaikan.