
Suriya dan putrinya pagi-pagi sekali sudah sibuk di dapur.
Mereka berdua akan memasak banyak makanan khas Indonesia untuk acara syukuran tujuh bulanan kandungan Reisya.
Kebahagiaan kedua orangtua perempuan cantik itu saat mendengar kalau akan mempunyai cucu dengan ingin langsung terbang Ke Moskow untuk melihat putri mereka.
Apalagi saat mereka mendengar kalau kondisi fisik Reisya begitu turun dan terganggu karena ngidam parah, ibunya sangatlah khawatir.
Karena jarak yang cukup jauh akhirnya mereka memutuskan untuk datang pada saat usia kandungan putrinya sudah tujuh bulan.
Sehingga mereka bisa membuat acara syukuran 7 bulanan sesuai dengan adat kebiasaan orang Indonesia.
Bagi suku Jawa di sebut sebagai Mitoni atau tingkepan sedangkan bagi suku Bugis Makasar namanya adalah Appasili.
Kehamilan di usia ke 7 bulan, bayi dalam kandungan mengalami banyak perubahan perkembangan yang lebih pesat dari pada usia 4 bulan.
Karena usia kandungan 7 bulan adalah usia persiapan awal menuju ke proses kelahiran.
Ukuran dan berat bayi bertambah dan perubahan tersebut berdampak terhadap kondisi sang ibu yang biasanya menjadi lebih sering merasakan nyeri di pinggang karena ukuran bayi yang dikandung semakin besar akan semakin memberikan tekanan pada organ dalam seperti sembelit dan jadi lebih sering buang air kecil.
Selain ukuran dan berat bayi dalam kandungan yang semakin membesar dan proporsional, kulit janin juga mulai dilapisi oleh sebuah zat lemak yang akan membuat bayi merasa lebih hangat saat berada di dalam kandungan.
Di usia kandungan ke 7 bulan ini jugalah darah mulai menglir di jaringan kulit bayi sehingga kulit yang tadinya keriput akan berangsur-angsur menjadi semakin halus.
Tak hanya itu, mata dan telinganya juga sudah mulai berfungsi bahkan mulai bisa menerima rangsangan yang kemudian dikirimkan ke otak karena pertumbuhan otak di usia kandungan ke 7 bulan ini juga sangat pesat.
Dengan banyaknya perkembangan dan pertumbuhan penting yang dialami bayi pada usia 7 bulan dalam kandungan, maka dilaksakanlah peringtan 7 bulanan supaya bersama-
Dalam agama Islam tidak ada syariat yang mewajibkan ataupun mengatur adanya peringatan 7 bulanan ini.
Pada masa Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak mengenal istilah peringtan 7 bulanan dan tidak ada perintah atau anjuran tentang hal tersebut.
Acara 7 bulanan ini memang mulai dilakukan oleh para umat dari sahabat-sahabat setelah Nabi Muhammad dan para wali yang saat itu merantau untuk menyebarkan agama Islam di berbagai daerah dengan berbagai adat istiadat serta agama yang dianut oleh masyakatnya.
Untuk menghormati adat yang sudah ada di daerah tersebut mereka menyatukan atau menyesuaikan antara adat istiadat yang ada dengan doa-doa, sholawatan dan surat dalam al-Qur’an.
"Ibu, kata Aisya dan Maryam, mereka tak pernah melakukan acara seperti ini saat kehamilan mereka berada diusia 7 bulan," ujar Reisya sembari memberi instruksi pada para pelayan untuk menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk masak besar siang ini.
"Tidak apa sayang, inikan bukan kewajiban dan setiap orang berbeda-beda dalam menyambut usia kehamilan seperti kamu ini." jawab Suriya dengan tangan cekatan mencampur gula dan putih telur untuk membuat adonan kue serikaya yang sangat ingin dimakan oleh Maryam.
"Mereka hanya memberi tahu kalau pada usia kandungan berada pada usia 4 bulan, saat itulah waktu yang tepat untuk melakukan banyak doa dan sedekah bagi kandungan mereka." lanjut Reisya sembari tangannya dengan lincah memotong-motong sayuran yang dibantu oleh para pelayan.
"Nah itu lebih bagus lagi, karena pada saat itu bayi sedang ditiupkan ruh pada sang janin, jadi semua orang ikut mendoakan supaya anak itu dikemudian hari akan menjadi anak yang soleh dan solehah." mereka saling berbalas pembahasan tentang acara 7 bulanan ini.
"Kita hanya melakukan ini karena kita bersyukur sayang, sejauh ini kandunganmu baik-baik saja," lanjut Suriya lagi.
"Dan bukankah semua orang di rumah ini ingin makan masakan dari negara kita, jadi inilah kesempatannya kita ubah hari ini menjadi Indonesia day di rumah ini," Suriya sudah mulai ikut-ikutan berbahasa Inggris yang disenyumin oleh Reisya.
"Dan juga kemarinkan hari kemerdekaan negara kita sayang, apa kamu lupa?"
"Ah iya ibu, karena berada di negara orang aku jadi lupa kalau sekarang ini masih suasana perayaan hari kemerdekaan kita,"
"Nah itu kan kalau sudah bahagia sama bule kamu lupa sama negaramu sendiri."
"Astagfirullah, tidak ibu. Aku kan akhir-akhir ini malas keluar rumah dan juga tidak membuka sosial media jadi lupa dengan berita-berita terkini."
"Eh iya Ibu, maafkan aku, hehehe," Reisya tersenyum malu, karena merasa terciduk lebih sering bersama Albert daripada melihat dunia luar.
"Ibu, bagaimana kalau kita membuat lomba di acara ini sekalian kita merayakan kemerdekaan disini," usul Reisya dengan segala macam ide di dalam kepalanya.
"Iya ibu setuju, tapi lomba apa dan siapa pesertanya?" Suriya nampak berpikir dengan keras.
"Lomba makan atau lomba berjoget dangdut!"
"Hahaha," Suriya tertawa dengan ide putrinya.
"Pesertanya semua pria dikeluarga Smith dan juga semua pelayan di sini yang jumlahnya 30 orang." jawab Reisya dengan mata berbinar senang.
"Setuju, kita akan rayakan dengan membuat orang-orang itu ikut terlibat, hahhaha," tak berhenti mereka tertawa-tawa sampai-sampai pelayan yang membantu mereka di dapur hanya bisa bengong karena tidak mengerti bahasa yang sedang mereka gunakan.
"Baiklah ibu, karena sepertinya makanan ini hampir beres, aku ke kamar dulu ya, aku ingin menyampaikan ini pada suamiku pasti ia akan senang sekali." ujar Reisya sembari membuka celemeknya dan mencuci kedua tangannya di wastafel.
"Lakukan semua perintah ibuku ya," titahnya pada semua pelayan di dapur itu.
"Baik nyonya," jawab para pelayan kompak sembari membungkukkan badannya.
"Ibu, aku tinggal ya," ujar Reisya kemudian melangkah ke arah kamarnya sendiri. Perlahan ia buka pintu kamar itu dan melihat kalau suaminya masih tidur berpelukan dengan bantal gulingnya.
"Al, bangun sayang, ini sudah siang," bisik Reisya dengan lembut sembari mengecup pipi suaminya lembut. Albert tak bergeming. Ia malah merapatkan pelukannya pada bantal guling itu.
"Al, aku ingin bilang sesuatu,.ayo cepat bangun," panggil perempuan itu lagi sembari menggoyang-goyangkan lengan suaminya. Albert membuka matanya pelan dan tersenyum.
"Mau bilang apa?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Kita akan buat lomba, di rumah ini, maukan?" Sekali lagi Albert tersenyum kemudian menarik tangan istrinya untuk ikut berbaring disampingnya. Tubuhnya ia geser ke tengah ranjang agar Reisya bisa nyaman dengan tempat yang luas.
"Aku hanya ingin berlomba denganmu sekarang," bisik Albert dikuping istrinya kemudian menggigitnya pelan.
"Awww, sakit Al," teriak Reisya pura-pura kesakitan. Padahal itu hanya rasa geli yang menyenangkan.
"Kita lomba disini dulu ya, sejak ibu dan ayahmu datang kamu tidak memperdulikan aku lagi," gerutu Albert manja dengan tangan mulai bergerilya mencari benda favorit sejuta umat yang sangat ia sukai.
"Aaaakh, tidak Al, aaaakh," Reisya mendessah karena jari-jari suaminya memilih lembut pucuk asetnya yang sangat disukai oleh suaminya itu.
"Aku mau berlomba denganmu sekarang Reisya, sudah siapkan?" tanya Albert dengan mata berkilat penuh hasrat.
Tangannya sudah lincah memeriksa landasan istrinya apakah sudah siap menyambut lomba ini atau belum.
Reisya mengangguk setuju kemudian mereka pun mengatur posisi yang sangat bagus yang pastinya akan mereka menangkan berdua.
---Bersambung--
Eh, kita cut dulu lombanya ya gaess, tunggu komentar para readers dulu ah, lomba apa yang bagus untuk keluarga Smith???
Tusuk jarum? atau tusuk yang lain? hehehe
Like dan komentarnya dong, Merdeka!!!
Eh, Vote dan hadiahnya juga ya, jangan lupa!