
Alex dan Maksim saling berburu informasi tentang Crisstoffer Anderson di laman pencarian. Mereka saling berpandangan dengan wajah marah dan kesal.
Setiap mengetik nama pria sialan itu tidak ada hasil yang muncul samasekali. Bahkan mereka berselancar dengan menggunakan fotonya pun, mereka tidak menemukan hasil.
Rupanya pria itu sangat cerdas dan juga licin.
"Kurang ajar! si Anderson itu sengaja menghapus semua jejaknya di laman pencarian. Apa yang harus kita lakukan Max?"
Maksim menarik nafas dalam-dalam. Ia juga heran dengan kecerdikan pria ini. Tidak ada jejak samasekali yang mereka bisa temukan di dalam sana.
"Birmingham adalah kota yang luas, Alex." jawab Maksim mengerti akan kegalauan kakaknya itu.
Birmingham adalah sebuah kota dan distrik metropolitan di West Midlands, Inggris. Birmingham adalah kota terbesar kedua di Britania Raya dengan populasi 1,001,200 jiwa.
"Apa kita akan mencari pria brengsek itu ditengah tumpukan populasi sebanyak itu tanpa ada data yang kita pegang?" ujarnya balik bertanya.
Nampak sekali kalau saat ini ia ingin menghancurkan kepala Crisstoffer Anderson dengan raging blue andalannya.
"Kurasa 3 peluru kesayanganku ini sudah cukup untuk meledakkan kepalanya yang cerdik itu," geramnya dengan rahang mengetat emosi. Pria itu kemudian memeriksa kesiapan senjata api yang selalu mengikutinya kemanapun.
"Ya, dan aku tambah dengan satu peluru di jantungnya." timpal Alex dengan ekspresi yang sama.
"Apa sebenarnya yang diinginkan si brengsek itu. Kalau ia minta tebusan atau apapun itu akan aku berikan, tapi sampai sekarang ia menutup semua informasi tentang dirinya." lanjutnya sembari meraup wajahnya kasar. Ia berusaha menarik nafas dalam-dalam untuk meringankan sesak di dadanya.
"Apa mungkin ia mencintai Nikita dan ingin memilikinya?" tanya Albert dengan segala pikiran buruknya.
"Oh tidak, aku tidak akan mengizinkannya Al. Nikita harus kembali ke rumah kita dan pria itu harus mati ditanganku." Alex menggeleng-gelengkan kepalanya tak rela.
"Aku punya teman di Birmingham, semoga ia bisa membantu," timpal Albert sembari mengingat-ingat kalau ia pernah punya kenalan dengan seorang perempuan yang sekarang tinggal di kota itu.
"Cepat cari bantuan di sana. Atau kita harus mencari data si brengsek itu lewat kantor catatan sipil di negara itu."
"Hmm, itu adalah ide yang bagus. Aku pikir pria itu tak akan lari lagi dari kita." jawab Albert dengan seringaian di wajahnya.
"Tapi apakah kamu tidak ingin kembali ke Dagestan dulu Alex? kurasa istrimu juga sangat membutuhkanmu sekarang ini." saran Maksim dengan mata memandang wajah Alex.
"Ah, ya. Kamu betul sekali. Aisyah dan keluarga kita disana masih dalam suasana berkabung. Kurasa kita akan kembali ke Dagestan meskipun hanya sehari atau dua hari." jawab Alex menyetujui usul dari Maksim.
"Dan Al, cepat berikan informasi secepatnya jika temanmu itu bisa membantu kita."
"Iya kak." jawab Albert sembari terus mencari jaringan atau koneksi di Birmingham Inggris agar mereka bisa menggunakan waktu dengan seefisien mungkin.
Waktu mereka tidak banyak untuk hanya sekedar berkeliaran Birmingham dengan tujuan yang tidak jelas.
🍁
"Uncle, kamu pasti tahu bagaimana posisiku sekarang." ujar Nikita pada Andreas, asisten pribadi William Anderson.
Nikita sengaja mendekati pria paruh baya itu untuk mengobrol secara pribadi setelah melihat William Anderson sudah jatuh tertidur setelah diberikan obat oleh dokter.
"Iya nona," jawab Andreas dengan kepala menunduk.
"Aku sedang dalam tekanan sekarang ini oleh si Crisstoffer sialan itu. Dan aku harap uncle mau membantuku." pria paruh baya itu langsung mendongak, menatap wajah gadis yang sangat mirip dengan Paula Anderson putri kedua tuannya.
"Jangan katakan kalau anda ingin lari dari sini nona, tuan muda pasti akan membunuhku dan menyerahkan tubuhku pada anjingnya." Andreas bergidik ngeri. Ia sangat tahu sifat pria muda itu yang sangat kejam dan juga keras kepala.
"Tidak uncle, mana mungkin aku mau membuatmu menderita. Lagipula aku sudah berjanji untuk merawat tuan William Anderson di sini sampai ia sehat dan kuat kembali." jawab Nikita tersenyum. Pilihannya menjadi dokter kelak adalah karena ingin merawat orang-orang yang sedang membutuhkan dan mungkin tidak punya keluarga yang bisa menemaninya disaat seperti ini.
"Lalu apa yang anda inginkan nona?" tanya Andreas penasaran.
"Uncle tahu Islam? kepercayaan yang dibawa oleh seorang laki-laki pilihan yang sangat berpengaruh nomor satu di dunia?" Andreas mengangguk. Ia juga mempunyai tetangga baik hati yang memiliki kepercayaan atau keyakinan seperti yang disebutkan oleh gadis itu.
"Aku punya permintaan uncle, maukah kamu membelikan aku alat ibadah seperti kerudung dan pakaian tertutup di toko? aku sungguh tidak nyaman dengan pakaian seperti ini." ujar Nikita sembari melipat tangannya memohon. Pria paruh baya itu tersenyum. Dan sekarang ia tahu kalau nona cantik dan baik hati ini adalah seorang muslimah.
"Tentu saja, pakaian seperti itu sudah banyak dijual di toko. Di Birmingham ini ada yang dinamakan Muslim Market. Di sana tersedia banyak produk dari berbagai negara."
"Oh, terimakasih banyak uncle, aku senang sekali mendengarnya dan mungkin saat aku bebas dari si pria brengsek itu aku akan mendatangi tempat itu sendiri." ujar Nikita dengan senyum bahagia diwajahnya.
"Ah ya, baiklah nona, aku akan segera membelikan semua yang kamu mau," ujar Andreas sembari memandang tubuh Nikita bermaksud mengetahui ukuran pakaian gadis itu.
Nikita kembali tersenyum senang saat melihat Andreas telah pergi dari ruangan perawatan itu untuk membelikannya pakaian muslimah yang akan menutup auratnya.
Crisstoffer Anderson masuk ke dalam ruangan itu dengan sudah berpakaian lengkap ala dokter. Rupanya beberapa jam pria itu menghilang karena menghadiri meeting penting bersama para dokter di kota Birmingham.
"Apa kamu tidak membuka rahasia kita nona Smith?" tanya Crisstoffer Anderson sembari melonggarkan dasinya.
Pria muda itu nampak sangat lelah saat ini hingga ia langsung membuang tubuhnya di atas sofa di samping pintu ruangan itu.
Nikita tidak menjawab. Ia sedang sibuk membersihkan sisa makan pasiennya, yaitu William Anderson. Dan juga ia lebih senang kalau pria menyebalkan itu tidak pernah muncul dihadapannya.
"Apa kamu tuli hah?" tanya Crisstoffer mulai emosi karena gadis itu sengaja mengabaikannya. Ia segera berdiri dari duduknya dan menghampiri gadis itu kemudian menarik tubuh Nikita ke dalam kuasanya.
"Aku tidak suka diabaikan, kamu mengerti?!" bisik Crisstoffer Anderson sembari meremas pinggang gadis cantik itu.
"Kau menyakitiku brengsek!" teriak Nikita tertahan. Ia sampai menahan nafasnya karena jarak mereka berdua begitu sangat dekat.
"Kamu tidak membocorkan identitasmu kan?" tanya Crisstoffer lagi dengan tangan semakin merapatkan pinggang gadis itu padanya.
Dan entah dorongan darimana ia langsung melabuhkan satu ciuman panjang pada bibir gadis yang nampak sangat menggoda itu.
Nikita merasakan dadanya mendidih karena marah dan benci. Dengan sekuat tenaga ia langsung menggerakkan tangannya untuk menampar pria bajingan itu dengan keras.
Plak
"Dasar laki-laki brengsek! aku benci padamu!" teriak Nikita dengan emosi didadanya. Ia sampai merasakan nafasnya turun naik karena sangat marah.
"Keluar kamu dari sini sialan!" teriak gadis itu lagi dengan suaranya yang melengking keras. Airmatanya bahkan sudah tumpah ruah dipipinya yang kemerahan.
Crisstoffer Anderson melepaskan gadis yang sedang berteriak sejadi-jadinya itu hingga berhasil membangunkan William Anderson.
"Ada apa? siapa yang menyakitimu nak?" tanya William Anderson saat melihat Nikita menyusut airmatanya dan memberikan tatapan membunuh pada Crisstoffer yang nampak salah tingkah.
Gadis itu tidak menjawab. Ia malah lari ke dalam kamar mandi dan mencuci wajah dan bibirnya. Ia merasa sangat jijik dan benci pada pria yang suka melecehkannya itu.
"Criss, apa yang kamu lakukan padanya?!" seru William Anderson dengan wajah marah. Ia tahu cucunya itu pasti melakukan sesuatu yang membuat Nikita menangis.
"Ah tidak kakek, aku tidak melakukan apa-apa." jawabnya dengan wajah pias. Pria tua itu tahu, pasti cucunya yang nakal itu melakukan hal yang menyakiti hati Nikita.
"Tugasmu sudah selesai Criss, kamu bisa melanjutkan aktivitasmu lagi. Dan biarkan Paula yang menemaniku. Aku lihat bibimu itu tidak nyaman denganmu."
"Kakek? kamu mengusirku?" tanya Crisstoffer dengan wajah tanya dan sedikit kesal.
"Menurutmu?"
"Dasar! aku pergi!" Pria itu langsung meraih perlengkapannya dan segera pergi dari ruangan itu. Ia keluar dari sana dengan menyempatkan diri melirik ke arah kamar mandi berharap gadis ingusan itu keluar dari sana.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍