Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 71 EMHD



Bandara Syeremetyevo.


Albert mengantar Reisya dan kedua orangtuanya ke bandara pagi ini. Sungguh ia sangat tak ingin berpisah dengan gadis manis yang telah mencuri hatinya itu.


"Se la mat ja lan ibu ba pak." ujar Albert terbata-bata dengan mengunakan bahasa. Ia sudah banyak belajar bahasa asing itu agar ia bisa berkomunikasi dengan orang tua Reisya selama di Moskow.


"Terima kasih banyak nak Albert karena sudah banyak membantu dan juga mengurus kami selama di sini." ujar Abdul Rachman dengan senyum teduh di wajahnya. Ia sungguh bersyukur ada orang asing di negara asing baginya mau menyambut dan mengurusnya dengan sangat baik di sini.


"Ja ngan bi lang se perti itu Pak.Kita memang ha rus sa ling mem bantu kan." jawab Albert tersenyum.


"Baiklah nak Albert, kami akan check in dulu. Semoga kita bisa berjumpa lagi." ujar Abdul Rachman lagi kemudian mendongak troley tempat koper dan barang bawaan mereka ke dalam terminal keberangkatan.


Reisya tidak mengikuti langkah kedua orangtuanya. Ia ingin mengucapkan terimakasih secara khusus untuk Albert yang sudah baik padanya selama ini.


"Terima kasih banyak Al." ujar Reisya sembari menyentuh tangan pria berkebangsaan Rusia itu. Albert tersentak karena ini pertama kalinya gadis berhijab ini berinisiatif menyentuh tangannya. Ia lantas membalas dan menggenggamnya erat.


"Kalau kamu tak keberatan, aku akan menunggumu di negaraku." ujar Reisya pelan sambil menatap tangannya yang digenggam oleh pria baik hati itu.


"Tentu saja Reisya, aku akan datang. Aku tak sabar menanti waktu itu tiba." jawab Albert dengan debaran bahagia di dadanya. Ia yakin ini adalah jawaban dari penantiannya selama ini.


"Ingat, jangan membuatku menunggu terlalu lama. Karena aku pasti akan merindukanmu." ujar Reisya lagi kemudian berusaha melepas genggaman tangan besar Albert. Ia terlalu gugup dan malu. Ia sendiri sudah tak sanggup menahan debaran di dadanya. Begitu meletup-letup dan rasanya ingin meledak.


Jiwa Cassanova Albert rasanya kembali muncul ke permukaan. Ia rasanya ingin memeluk dan membenamkan bibirnya pada bibir gadis manis di hadapannya itu. Tetapi ia tiba-tiba sadar kalau ia harus bersabar sedikit saja, karena pasti Reisya akan menolaknya apalagi ini di tempat umum.


"Reisya, kamu sengaja membuatku tidak tenang. Kamu justru memberiku harapan saat kamu akan kembali ke negaramu." ujar Albert memandang dalam ke bola mata Reisya yang hitam bening itu.


"Karena aku ingin menguji kesungguhanmu padaku Al. Dan aku juga ingin tahu, apakah aku akan merindukanmu nantinya." jawab Reisya tersenyum. Dan itu semakin membuat Albert merasa senang luar biasa.


"Aku pastikan kamu akan merindukanku Reisya, ingat itu." ujar Albert kemudian dengan berani ia mencium sekilas pipi gadis itu.


'Masuklah. Itu sebagai tanda kalau kamu akan jadi milikku segera." ujar Albert kemudian meninggalkan Reisya yang diam terpaku atas perlakuan Albert barusan di pintu masuk terminal. Gadis itu menatap punggung lebar Albert yang semakin menjauh sembari menyentuh pipinya yang masih terasa hangat.


"Astaga Albert. Sepertinya aku yang akan tersiksa nanti di sana." ujar Reisya pada dirinya sendiri. Ia segera berbalik dan melangkah mengikuti ayah dan ibunya ke dalam. Berharap Albert akan memenuhi janjinya padanya.


🍁


Aisyah sudah merasa sangat bosan tinggal di rumah mewah dan luas itu karena Alex sang suami belum juga kembali dari kunjungan bisnisnya. Ini sudah hari ke 14. Meskipun suaminya itu selalu memberi kabar lewat panggilan suara maupun panggilan video tetapi rasanya sangat tak cukup. Ia begitu merindukan sang suami.


Rumah semakin terasa sepi dan membosankan. Nikita yang sibuk dengan sekolah dan kursus seninya di kantor KBRI justru membuatnya semakin merasa sendiri dan tak bisa melakukan apapun. Reisya juga sudah lama berada di negaranya. Hanya sekali-sekali mereka bertukar kabar lewat email atau telepon.


Hari ini ia memutuskan akan ke rumah Omar sang kakak. Ia telah mengirimkan pesan berupa permintaan izin dan juga foto sebagai bukti kalau ia akan menemui sang kakak pada suaminya. Setelah ia mendapatkan izin ia pun berangkat dengan diantar oleh seorang sopir pribadi keluarga Smith. Biasanya Albert lah yang selalu siap sedia mengantar tetapi kali ini pria itu juga sedang banyak kesibukan.


Dengan wajah berseri bahagia ia berangkat ke rumah kakaknya yang kebetulan sedang tidak masuk bekerja. Ia sedang mengambil cuti dengan bersantai di rumah bersama seorang tamu yang sangat cantik.


"Assalamualaikum kak Omar?" serunya dengan wajah bahagia.


"Halo Aisyah. Lama kita tidak berjumpa." ujar Miss Gazeeta dengan wajah yang tak kalah cerahnya.


"Halo Miss. Apa kabarmu?"


"Alhamdulillah, sangat baik." jawab Miss Gazeeta sembari menghampiri adik perempuan Omar itu.


"Apa aku melewatkan sesuatu kak Omar?" tanya Aisyah dengan suara agak keras, karena jarak mereka berdua sedikit berjauhan dan karena melihat kakaknya begitu sibuk membuat sesuatu di dapurnya. Ia bahkan tidak terlalu memperdulikan keberadaan adiknya itu.


"Apa?" tanya Omar dengan wajah bingung. Ia tidak mengerti ucapan adiknya itu.


"Miss, aku ke dalam dulu. Silahkan dinikmati minuman buatan kakakku." ujar Aisyah bermaksud pamit ke dapur melihat apa saja kesibukan kakaknya itu.


"Kak Omar, apa kamu ada hubungan khusus dengan Miss.Gazeeta?" bisik Aisyah pelan. Ia takut suaranya akan terdengar oleh mantan dosennya itu.


"Menurutmu?" tanya Omar balik. Ia tersenyum samar dengan praduga adiknya itu.


"Aku menyukainya kak, dia perempuan yang baik dan juga cantik. Tapi aku sudah berjanji pada Anna untuk membantunya mendapatkanmu." bisik Aisyah lagi.


"Aaaw." Aisyah tiba-tiba menjerit karena kepalanya tiba-tiba dapat sentilan dari kakaknya.


"Memangnya aku ini apa, sampai kamu mau membantu Anna, gadis aneh dan jadi-jadian seperti itu." ujar Omar dengan pandangan tajam ke arah adiknya.


"Ya ampun kak. Kalau suamiku tahu kamu menyakitiku seperti ini, aku yakin ia akan menghancurkan dapurmu ini." gerutu Aisyah sembari mengusap pelan kepalanya yang telah disentil oleh Omar.


"Tapi aku suka Miss.Gazeeta. Aku rasa akan mengkhianati Anna kak." ujar Aisyah dengan mengedipkan matanya sebelah, bermaksud menggoda kakaknya itu.


"Awwww." Aisyah berteriak lagi lebih kencang karena Omar sekali lagi menyentil kepalanya.


"Ada apa Aisyah?" tanya Miss.Gazeeta dengan wajah khawatir. Ia bahkan melangkah cepat ke arah dapur dimana dua kakak beradik itu berada.


"Tidak ada apa-apa Miss. Aku hanya sedang dapat hadiah dari seorang kakak yang aneh." jawab Aisyah cengengesan.


"Duduklah di sini Gezy dan nikmati makanan buatanku." ujar Omar mengalihkan pembicaraan. Aisyah langsung menatap kakaknya sambil tersenyum menggoda, kemudian menggerakkan mulutnya sebagai kode.


"Gezy, so sweet Hem." Omar melotot dan kembali ingin menyentil kepala adiknya tapi tatapan bingung seorang Gazeeta menghemat gerakan tangannya yang sudah siap mendarat cantik di kepala adiknya itu.


---Bersambung--


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini, like dan komentarnya dong...


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍