
Akhirnya Albert bisa bernafas dengan lega, sang ibu mertua dengan penuh perhatian memintanya untuk beristirahat.
"Reisya, kamu bisa mengajak suamimu untuk beristirahat sayang, nampaknya ia sudah tidak nyaman dengan pakaiannya itu." bisik Suriya pada putri semata wayangnya.
"Iya ibu, kami ke kamar dulu ya, kalau ada temanku yang datang minta panggilkan aku sama Kak Heru atas Isma," ujar Reisya sembari memberi kode pada Heru dan juga Isma sang sepupu.
"Iya, kamu jangan pikirin itu, yang penting sekarang kamu istirahat dan juga sholat. Udah hampir dua waktu lho kamu lewatkan."
"Iya ibu, kami akan menggantinya kok," Reisya dan Albert pun berpamitan pada kedua orangtua mereka yang masih berada di lokasi pesta.
Albert dengan senang hati membantu mengangkat rok bagian belakang Reisya yang cukup panjang menjuntai dan mengganggu langkah sang istri.
Tim wardrobe mengikuti mereka berdua untuk membantu sang pengantin melepaskan segala pernak-pernik perhiasan yang mereka berdua pakai sebagai pelengkap pakaian adat pengantinnya.
Sesampainya di kamar pengantin, Reisya Rachman mengusap wajahnya penuh syukur karena acara yang sudah lama dinanti-nantikannya berlangsung dengan hikmat dan lancar tanpa kendala yang berarti.
"Kita ganti pakaiannya sekarang ya kak?" tanya gadis wardrobe itu dengan sopan. Reisya tersentak dari do'a penuh syukurnya kemudian tersenyum,
"Iya Tin, acara juga sudah selesai kan?" sekilas Reisya menatap mata sang suami yang juga sedang menatapnya penuh cinta. Mengantarkan banyak pesan memuja dan merindu pada sang istri. Tetapi tatapan mereka terganggu oleh suara si gadis wardrobe yang berada ditengah-tengah mereka berdua.
"Iya kak, undangan resepsi juga sudah lewat kok, kalaupun masih ada tamu yang datang kakak bisa memakai pakaian lain yang sudah kami siapkan untuk acara makan malam nanti." ujar gadis wardrobe yang bernama Tina itu.
"Eh iya, Tin maaf ya bentar, aku mau bicara sekejap dengan suamiku. Bisa gak kami berdua dulu di kamar ini, setelah itu aku panggil lagi ya?" pinta Reisya dengan sedikit malu, karena sedari tadi suaminya nampak tidak sabar ingin berdua dengannya.
Bahkan dengan tatapan dari mata biru suaminya saja sudah berhasil mengantarkan gelenyar aneh dalam tubuhnya.
Ia menginginkan hal yang sama yang diinginkan suaminya sekarang.
"Ah iya maaf kak, aku ada di depan kamar, kalau kak Reisya udah selesai bisa panggil aja." ujar gadis itu dengan sopan kemudian segera melangkah keluar dari kamar itu.
Dengan cepat Albert merengkuh pinggang ramping sang istri dan melabuhkan ciuman panas padanya sesaat setelah gadis wardrobe itu menutup pintu kamar dari luar.
"Ya ampun Reisya, kamu bisa bikin aku gila, aku mencintaimu sayang," ujar Albert mengerang frustrasi, bibir sang istri ia lumaat habis dengan tangan kanan menahan agar tubuh Reisya tidak jatuh karena serangannya yang secara tiba-tiba itu.
"Al, aku..." bisik Reisya dengan nafas memburu karena berusaha mengimbangi ciuman panas dari sang suami.
Reisya merasa kehabisan pasokan oksigen. Ia tak bisa berkata-kata lagi, bibirnya ia rasakan kebas karena pria yang dicintainya itu sepertinya sedang sangat lapar dan haus. Lidahnya bahkan dihisap habis hingga tubuhnya meleleh bagaikan jelly.
"Al, aku ganti pakaian dulu ya?" mohon Reisya dengan semburat merah diwajahnya. Ia merasa tidak nyaman dengan pakaiannya yang cukup mengganggu.
Sedangkan debaran didadanya tak bisa ia kendalikan karena bahagia.
Tangannya sendiri masih berada dileher sang suami untuk membantu menopang tubuhnya agar tidak lemas dengan keberingasan suaminya.
Albert Smith begitu menginginkannya saat ini tetapi kondisinya sekarang sangat tak memungkinkan.
Akhirnya, pria yang baru saja menikahinya itu mengalah meskipun dahaganya belum terobati. Ia melepaskan istrinya dengan satu lagi kecupan singkat dibibir yang sudah menjadi candu baginya itu.
"Randy?!" ujar Reisya dengan wajah kaget. Ia tak percaya laki-laki yang pernah menjadi teman dekatnya semasa di SMA itu tiba-tiba muncul dihadapannya.
Ia lupa kalau telah mengundang semua teman lamanya di grup chat alumni SMAnya dan sudah pasti termasuk Randy Martin.
"Kamu tega ya, padahal hubungan kita belum selesai lho Sya," ujar Randy dengan wajah yang tampak sangat kecewa. Reisya melipat bibirnya ke dalam karena masih sedikit aneh setelah pertautan panas tadi dengan suaminya.
Ia sungguh tak nyaman dengan kehadiran pria masa lalunya itu saat ini. Apalagi ini di depan kamar pengantinnya sendiri.
"Sya kamu kok diam saja sih, kalau kamu gak bahagia bersama cowok bule mu itu, aku masih setia sampai sekarang Sya,"
"Maaf ya Ran, aku sudah menikah sebaiknya jangan lagi membahas yang sudah terjadi dan ya kita tak ada lagi hubungan, okey?"
"Wah tega ya, ngomongnya lancar banget kayak gitu, padahal janjimu dulu akan menungguku sampai sukses dan sekarang apa? kamu lebih memilih laki-laki bule itu karena servisnya lebih bagus ke kamu? iyya? lebih kuat di ranjang daripada aku iyya?" Randy terus mencecar Reisya dengan kata-kata yang sangat menyakitkan ditelinganya.
"Astaghfirullah Randy, mulutmu tidak sopan ya. Sebaiknya kamu pergi dari sini. Kamu kurang ajar sekali!" ujar Reisya dengan emosi didadanya.
Ia mendorong pria itu dan berniat menutup pintu kamarnya itu tetapi pria yang mengaku sebagai mantan Reisya itu malah menangkap tangannya dengan seringaian diwajahnya.
"Aku doakan kamu tidak bahagia Reisya Rachman dan segera memohon untuk kembali kepadaku."
Bugh
Tiba-tiba pria itu terpelanting ke belakang dengan bibir pecah mengeluarkan cairan asin berwarna merah.
"Who are you?!" dengan rahang mengetat marah Albert sekali lagi memberikan pelajaran kepada pria tak tahu sopan santun itu.
"Saya kekasih dari istrimu itu!" tantang Randy dengan wajah yang sudah merah karena pukulan telak dari Albert.
"Hentikan Al, kamu bisa dapat masalah nantinya. Ayok kita masuk. Kita biarkan saja dia pergi." ujar Reisya membujuk dengan mencium pipi suaminya itu agar emosinya segera turun. Albert pun mengalah, ia baru sadar kalau mereka tidak sedang berada di Moskow.
Mereka berada di negara orang lain yang kemungkinan punya aturan yang berbeda.
Andaikan kejadian ini terjadi di daerah kekuasaannya maka bisa saja orang ini sudah tidak bisa lagi menghirup udara bebas. Ia akan mengirimnya jauh dari peradaban.
"Jangan pernah berani mengganggu istriku!" seru Albert masih dengan wajah marah. Ia dan Reisya masuk ke kamar mereka dan menutup pintu kamar itu.
"Aku akan membuatmu di hukum karena berani memukulku bule sialan!" teriak Randy dengan emosi. Ia segera pergi dari tempat itu dengan wajah malu.
---Bersambung--
Mana nih dukungannya untuk karya receh ini, Like dan komentarnya dong agar othor semangat lagi updatenya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
Eits, mampir sini dulu dong, di Novel temannya othor, dijamin oke punya lho.