
Nikita merasa mengenali orang yang sedang ada dalam mobil yang baru saja lewat di hadapannya. Untuk beberapa menit ia sempat tertegun dan kemudian memburu mobil itu dengan terus memanggil agar mobil itu berhenti. Gadis itu sampai ingin menyebrangi jalan yang cukup ramai saat itu.
"Adek Danil?!"
"Mommy? Hey stop!"
"Niki! tunggu! awas! ada mobil di belakangmu!" teriak Elif Kaya, sahabatnya yang berdarah Turki.
Gadis berusia 10 tahun itu menghentikan larinya dan mulai berjongkok di trotoar yang lumayan luas itu. Ia kelelahan dan mulai mengatur nafasnya.
"Kamu membuatku khawatir Niki!" Elif ikut berjongkok dan mengatur nafasnya juga. Mereka berdua ternyata sudah lumayan jauh berlari tanpa mereka sadari dan meninggalkan rombongan teman-temannya di dalam Bus.
"Ayo kembali, Miss. Annete dan Mr. Juan pasti sangat khawatir."
"Tidak, aku tidak mau kembali. Mobil itu membawa Mommy dan adek Danil, hiks." jawab Nikita dan melanjutkan langkahnya ingin mengikuti kembali mobil itu yang masih nampak dari kejauhan.
"Hey, mana mungkin. lihat! mobil itu sudah sangat jauh.''
"Tapi aku melihat mommy dan Adek Danil di mobil itu,"
"Apa kamu yakin?"
"Iya aku yakin sekali, Elif. Yang aku lihat itu Mommy sedang bersama dengan Adek Danil. Mommy sedang memakai hijab hitam favoritnya."
"Tunggu sebentar aku akan menghubungi Daddyku." ujar Nikita yang tiba-tiba mendaftarkan ide.
Tuuut
Tuuut
"Daddy angkat teleponnya, please!" Nikita menatap handphonenya kesal karena pria kesayangannya itu tidak mengangkat panggilannya itu meskipun sedang aktif.
Sungguh ia memberitahu Daddynya kalau ia sudah menemukan mommy Aisyah dan adek Danil.
"Sudahlah Niki, daddymu mungkin sedang sibuk sekarang, ayok bergabung dengan teman-teman di sana, karena kita akan kembali ke hotel." ajak Elif Kaya sembari menarik tangan sahabatnya itu.
Mereka berdua pun kembali kearah jalan dimana Bus mereka sedang menunggu.
"Ada apa Niki? kenapa tadi kamu berlari dan mau menyeberang jalan seperti itu, nak?" tanya Miss. Annette padanya gadis kecil itu.
"Aku melihat mommy dan adikku Ma'am. Mereka berdua sudah lama menghilang." jawab Nikita dengan wajah tertunduk lemas.
"Kita naik Bus dulu ya? mungkin saja kamu salah lihat sayang, Ini kan Meksiko bukan Rusia."
"Baiklah Miss," ujar Nikita kemudian memasuki Bus untuk rombongan mereka dengan pikiran masih ada pada mobil mewah berwarna silver itu.
Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah Hotel tempat mereka akan tinggal selama beberapa hari ini.
"Niki, kamu jangan bersedih, kamu harus semangat. Mommy dan adikmu pasti akan segera ditemukan," hibur Elif ketika mereka sudah sampai di dalam kamar mereka.
Nikita menarik nafasnya berat. Dengan melihat kedua orang yang sangat dirindukannya itu, perasaan bersalahnya kembali muncul.
"Aku yang menyebabkan mereka pergi dan tak mau lagi kembali, Elif, hiks." ujar Nikita sembari menghapus airmatanya yang tiba-tiba saja menganak sungai.
"Kenapa bisa seperti itu? apa kamu berbuat nakal dan tidak mendengarkan kata-kata mommymu?" Nikita tidak menjawab tetapi malah semakin menangis.
"Niki ceritakan padaku apa yang terjadi sampai kamu terpukul seperti ini."
"Mommy Aisyah sangat baik padaku tapi aku cemburu padanya karena telah mengambil perhatian Daddy dariku Elif, hiks."
"Aku mengambil kembali Daddy darinya, dan aku sangat sedih akan hal itu. Mommy pasti sangat marah padaku hingga ia membawa Danil bersamanya meninggalkan kami, hiks." jelas Nikita kemudian memeluk Elif karena tak kuat menahan rasa bersalah ini.
"Ah, tidak mungkin mommymu marah, dulu kamu sering bercerita kalau ia sangat baik hati dan tidak pernah marah padamu kan?" Nikita mengangguk.
"Selama ini mommy tidak pernah marah padaku tapi aku jadi anak yang jahat Elif, aku cemburu padanya, hiks."
"Aku bahkan cemburu pada adik Danil juga, huaaaa Elif, apa mungkin mommy akan memaafkanku?" Nikita menghapus airmatanya meraih handphonenya.
"Aku rindu mereka Elif, Daddy juga sekarang membenciku, ia tak pernah lagi menemaniku, aku anak yang jahat ya?"
"Tidak Niki, tidak ada orang tua yang membenci anak-anaknya. Itu kata ibuku." ujar Elif terus menghibur sahabatnya itu.
"Niki, boleh aku lihat foto Mommymu?" Nikita mengangguk kemudian membuka galeri handphonenya dimana ada banyak kumpulan fotonya bersama Aisyah sejak ia masih kecil.
"Foto ini dua tahun lalu,"
"Dan ini sewaktu aku masih kecil."
"Dan ini Adek Danil saat masih berusia 2 bulan."
"Aku merindukan mereka Elif, lihat mommyku sangat cantik kan?"
"Iya, mommymu tampak sangat baik hati dan penyayang. Pasti ia juga merindukanmu."
"Semoga saja Elif, semoga kami masih bisa bertemu."
"Aaamiin."
Drrrt
Drrrt
"Elif, Daddyku menelpon," ujar Nikita saat melihat panggilan telepon dari sang Daddy.
"Ya Daddy?"
"Kamu dimana sekarang Niki?" tanya Alex dari seberang sana.
"Aku sudah ada di hotel sekarang bersama teman-temanku."
"Apa nama hotelnya sayang?"
"Hotel Xxx."
"Tunggu Daddy di sana, 15 menit lagi daddy sampai."
"Iya Dad," jawab Nikita cepat. Gadis itu menghapus airmatanya dan segera meminta Elif untuk menemaninya ke Lobby.
"Ayo, Elif kita ke Lobby sekarang. Daddyku akan segera sampai di sini. Dan Akan aku ceritakan kalau mommy dan adek Danil ada di sini." ujar Nikita dengan penuh semangat.
Hatinya kembali ceria karena ia yakin Daddynya akan menemukan mommy dan adek Danil untuknya.
Mereka pun berangkat ke lobby dengan langkah ringan.
Tak lama kemudian Alex masuk ke Lobby hotel itu dengan langkah cepat.
"Daddy!" Nikita langsung lari dan menghambur ke pelukan pria tampan itu. Beberapa tamu hotel itu menyaksikan adegan dramatis itu dengan rasa bahagia dan juga haru.
"Nikita, apa kamu baik-baik saja sayang?" tanya Alex dengan perasaan khawatir.
"Kenapa kamu menelponku seperti itu tadi, Daddy sangat khawatir padamu."
"Aku melihat mommy dan adek Danil tadi di jalan Daddy." jawab Nikita yang langsung membuat Alex tersentak.
Itu artinya mereka ada disekitar daerah ini. ujar Alex membatin.
"Apa mommy bersama dengan seseorang sayang?" tanya Alex dengan suara pelan. Ia membawa putrinya itu ke sebuah tempat yang cukup sepi di dalam lobby itu.
"Aku panggil Elif dulu Dad, temanku itu ikut bersamaku Dad." ujar Nikita karena daddynya mengambilnya seakan-akan melupakan Elif sendiri di tempat itu.
"Oh iya maafkan aku Niki, Daddy tidak melihat temanmu. Mana dia?"
"Itu Dad, Elif, kemarilah, aku akan memperkenalkanmu dengan Daddyku." Nikita melambaikan tangannya ke arah sahabatnya yang masih berdiri di tempat mereka tadi.
"Hai, Uncle aku Elif Kaya, senang berjumpa denganmu."
"Hai Elif, senang juga berjumpa denganmu." mereka berdua bersalaman dengan wajah ceria.
"Nah, Niki ceritakan apa yang kamu lihat sayang."
Niki menarik nafasnya dan mulai ingin bercerita...
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍