Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 51 EMHD



Maksim menyambut Nikita di depan pintu dengan sebuah kue tart kecil bertuliskan Happy Birthday yang ke 8 tahun. Dengan menyanyikan lagu selamat ulang tahun yang dikenal semua orang di muka bumi ini ia berjongkok dan memberi ciuman dipipi gadis cilik itu dengan senyum merekah bahagia.


"Semoga kamu sehat selalu sayang." ujar Maksim dalam permintaannya.


"Terimakasih uncle Max. You are the best." ujar Nikita sembari tersenyum bahagia tetapi kemudian wajahnya berubah cemberut.


"Daddy pasti lupa lagi hari ulang tahunku." lanjutnya dengan bibir mengerucut sebal.


"Tidak sayang, Daddy tidak pernah lupa cuma ia tidak ingat saja hahahha." jawab Maksim mencoba bercanda asalkan si gadis cilik berambut pirang itu bisa bahagia lagi.


"Sama saja uncle, LUPA sama dengan TIDAK INGAT." protes Nikita dengan pandangan mata sengit. Ia sampai menekan kata Lupa dan Tidak ingat dengan suara agak keras. Maksim menyimpan kue tart kecil yang ada di tangannya kemudian menggendong Nikita masuk ke dalam kamarnya.


"Apa kamu tahu kenapa Daddy berusaha melupakan hari ulang tahunmu?" tanya Maksim dengan wajah serius. Ia tak mau perasaan putri kecil itu menyimpan sesuatu yang buruk pada daddy-nya sendiri yang akhir-akhir ini sangat sibuk. Nikita menggelengkan kepalanya hingga rambutnya yang dikucir kuda ikut bergoyang ke kiri dan ke kanan.


"Kenapa uncle?" tanya Nikita dengan wajah penasaran.


"Karena tanggal lahirmu sama dengan Mommy Aisyah." jawab Maksim sembari menatap dalam mata Nikita.


"Tapi kenapa?" tanya Nikita lagi bingung. Otaknya yang kecil tak bisa menangkap maksud orang dewasa seperti Maksim.


"Karena ia akan kembali teringat akan permintaanmu pada saat ulang tahunmu yang lalu sayang sama mommy Aisyah dan Daddy jadi bersedih deh." jawab Maksim berusaha memberi pemahaman.


"Tetapi Daddy selalu menyiapkan kado untukmu Nikita yang cantik." lanjut Maksim dengan wajah berbinar. Ia menunjukkan sebuah kotak kecil yang sudah dibungkus indah berwarna biru langit dengan hiasan pita yang sangat cantik di atasnya.


"Apa ini uncle?" tanya Nikita sembari menggoyang-goyang kotak itu berusaha menebak apa isinya.


"Buka saja." jawab Maksim dengan senyum tak lepas dari bibirnya. Nikita dengan semangat membuka kertas pembungkus kado itu dengan cara merobeknya. Dengan tatapan tak percaya ia mencium benda itu dengan wajah bahagia. Selembar surat izin untuk belajar seni di KBRI Indonesia.


"Terima kasih uncle Max." ujar Nikita kemudian memeluk Maksim erat. Pria muda itu bagaikan ayah kedua baginya.


"Berterimakasih lah pada Daddy mu. Ia yang mengurus semuanya." ujar Maksim dengan seutas senyum di wajahnya.


"Benarkah? kukira Daddy sekarang sangat sibuk hingga sering melupakan aku, tapi baiklah aku akan berterima kasih kepadanya nanti."


"Anak pintar." ujar Maksim kemudian melangkah keluar kamar tapi belumlah ia sampai di pintu, Nikita tiba-tiba menanyakan hal yang begitu horor baginya.


"Uncle, kapan kamu menikah?" Maksim merasa tenggorokannya tercekat dengan pertanyaan simpel itu. Ia pernah menyukai seorang perempuan desa Rakhata, yang ia temui di rumah paman Yusuf. Seorang guru yang sangat baik teman Aisyah, Maryam namanya.


Rasa cinta itu perlahan ia kubur dalam-dalam. Keadaan yang terjadi sekarang diluar perencanaannya padahal ia juga ingin memperistri gadis itu karena kebaikan hati dan kecantikannya. Aisyah yang belum juga ditemukan sampai sekarang tidak akan mungkin membuat mereka semua kembali ke Desa itu.


"Uncle akan menikah jika bertemu dengan seorang perempuan yang baik hati seperti dirimu, sayang." Nikita langsung tersenyum.


"Love you uncle. Semoga uncle segera bertemu gadis cantik yang baik hati ya, aamiin." ujar Nikita yang langsung mendapat pelukan sayang dari pria muda yang selalu setia bersamanya itu.


Malam itu Nikita, Maksim dan Albert menunggu kepulangan Alexander Smith dari kunjungannya ke beberapa tempat di Moskow. Menjadi calon senator Rusia pada pemilihan nanti membuatnya begitu sibuk. Biasanya Maksim dan Albert akan selalu ada bersamanya sebagai asisten dan bodyguard pribadi tetapi kali ini Alex meminta mereka menemani Nikita saja karena hari ini adalah hari ulang tahun putrinya itu. Ia tak mau gadis kecil itu merasa sendiri dan tak diperhatikan.


"Assalamualaikum." sapanya pada ketiga orang itu yang sedang sibuk menonton pertandingan bola di televisi. Nampak Alexander sangat lelah hari ini.


"Waalaikumussalam warahmatullah." jawab tiga orang itu kompak. Mereka semua memandang sosok tinggi besar dan juga tampan itu mendudukkan bokongnya di sofa single. Ia melonggarkan ikatan dasi yang terasa mencekik lehernya seharian ini.


"Daddy..." panggil Nikita kemudian langsung melompat ke pangkuan pria itu dengan wajah yang sangat gembira.


"Nikita ku sayang, How's your day?" tanya Alex sembari menciumi pipi Nikita yang begitu harum dengan wangi bedak baby.


"Great Daddy! Terima kasih atas kadonya. Aku suka sekali dad." ujar Nikita bersemangat. Kembali ia menciumi wajah Alex.


"Sama-sama sayang, yang penting kamu senang Daddy juga senang." ujar Alex kemudian menurunkan tubuh Nikita yang sudah besar itu dari pangkuannya. Ia memijat pangkal hidungnya kemudian bersandar di sandaran sofa. Ia rindu seseorang. Ia ingin ada yang menyambutnya seperti ini selain Nikita.


"Bos, kamu mau minum sesuatu?" tanya Albert yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya.


"Air putih saja, Al. Terima kasih." ujar Alex kemudian menutup matanya. Hari-hari sibuk ini hanya untuk mengalihkan hati dan pikirannya dari Aisyah yang serasa ingin membunuhnya pelan-pelan.


"Ini, silahkan diminum sekarang." ujar Albert sembari menyodorkan segelas air putih pada Alex. Pria itu langsung meminumnya sampai tandas. Kemudian menyimpan gelas itu di atas meja.


"Apa kalian sudah makan malam?" tanya Alex sembari mengedarkan pandangannya pada ketiga orang itu. Semuanya menggeleng.


"Kami menunggumu." jawab Maksim cepat. Ia sudah mempersiapkan makan malam yang lengkap di meja makan sebagai rangkaian acara ulang tahun Nikita hari ini.


"Kalau begitu ayo kita makan, aku sangat lapar dan juga ngantuk." ajak Alex kemudian membuka setelan jasnya dan berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Lengan kemejanya ia gulung sebatas siku karena tak mau sampai basah. Semua mengikuti sang kepala keluarga itu ke meja makan.


"Wah, ini makan malam terindah yang pernah kulihat." ujar Alex sambil tersenyum. Tampilan menu dan penataan meja tidak seperti biasanya yang biasa dilakukan oleh pelayan.


"Terima kasih pujiannya bos." jawab Albert tersenyum senang. Pasalnya ia dan Maksim serta dibantu Nikita lumayan mengacaukan dapur hari ini. Mereka bertiga belajar masak dari bantuan Mr. Google demi membuat ucapan terima kasih pada sang hot Daddy yang telah memberi kado istimewa untuk sang putri yang sudah lama diidamkannya.


"Masakan kalian enak. Mungkin lain kali kalian bisa buka restoran besar di Moskow." puji Alex sembari terus mengunyah makanan buatan mereka.


"Horey, aku bisa jadi chef sekarang." teriak Nikita senang. Semua ikut berbahagia hari itu. Mereka adalah keluarga yang rukun dengan satu perempuan cilik sebagai pelengkapnya. Tetapi meskipun begitu, selalu ada yang kosong di hati seorang Alexander Smith.


---Bersambung--


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini, Cukup like dan komen ya gaesss.


Tapi kalau ada hadiah bolehlah kirim untuk othor.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍