
POV Alexander Smith
Aku menatap takjub dengan pandangan memuja sosok cantik dan indah di hadapanku ini. Sungguh, aku memuji kebesaran Tuhan karena telah menciptakan makhluk secantik ini. Belum lagi rasanya, yang selalu bisa membuatku lupa diri jika sedang tenggelam dalam pusaran pesonanya.
"Aisyah," aku panggil namanya pelan. Bagaimana aku bisa bertekuk lutut demi cintaku pada perempuan ini. Kini aku bisa merasakannya sekarang. Begitu aku tak bisa menatap dan memikirkan yang lain jika sosok cantik dengan penampilannya sekarang membuatku gila dalam palung nikmat yang tak berujung.
Perlahan kusentuh ia dengan bibirku, mulai dari kelopak matanya, pipinya dan sekali lagi di bibirnya yang sudah menjadi candu buatku. Kurasakan tangannya meremas tengkukku dan berakhir mengacak rambutku. Aku tahu ia selalu suka di bagian yang ini. Aku baru melepaskannya ketika ia mulai mendorongku pelan karena kehabisan nafas.
Tangan dan bibirku begitu sangat kompak sekarang, keduanya menyentuh bagian-bagian sensitif yang mampu membakar kami berdua hingga tak bersisa. Aku mengayuh dan mengajak ia untuk terbang sejauh mungkin dengan belain, cumbuan, dan pemujaan di setiap bibir dan tangan ini melakukan tugasnya. Hingga ketika aku dan ia sudah berada di puncak, aku ledakkan diriku di dalamnya dengan sebuah hentakan- hentakan keras yang mampu membuatnya berteriak berkali-kali memanggil namaku.
"Aisyah, aku mencintaimu sayang." ujarku kemudian kubiarkan ia istirahat. Aku beranjak meninggalkannya di sana setelah mengecup keningnya lembut. Kututupi tubuhnya yang polos dengan pakaian yang ia kenakan tadi.
Aku segera membersihkan diri kemudian melihat handphoneku yang sengaja kumatikan tadi. Ternyata Maksim sudah melakukan panggilan berkali-kali sekitar 30 menit yang lalu. Aku menatap sosok cantik yang tertidur di sofa itu dari jauh, Oh Ya ampun, maafkan aku sayang, aku baru sadar kalau aku melakukannya selama 2 jam. Pantas Aisyahku sudah tumbang sekarang.
Segera kupakai jaket kulitku dan tak lupa kubawa pistol kesayanganku. Aku akan menemui Alexey Geizer itu di markas kami. Sekali lagi kuhampiri istriku, aku menulis satu pesan padanya dan kuletakkan di sampingnya. Love you and wait for me for a moment.
Aku meninggalkannya di sana dengan memberikan perintah pada pelayan agar ia berjaga di depan pintu ruang kerjaku agar tidak ada seorangpun yang masuk ke dalam. Meskipun Nikita. Aku tak mau ada yang melihat Aisyahku dalam penampilan seperti itu. Cukup aku seorang yang bebas memandangnya seperti itu.
🍁
Alexey Geizer duduk di depanku dengan wajah yang sudah tak berbentuk. Aku tahu Maksim sudah memberinya sedikit pemanasan ringan.
"Nah Geizer, aku butuh kerjasama mu secepatnya." ujarku dengan pandangan mata tajam ke jantungnya.
"Apa kamu paham?" kulihat ia mengangguk. Ia tak punya pilihan lain sekarang.
"Keluargamu akan terjamin jika kamu mau berkata jujur di kantor polisi kalau kamulah dalang semua ini. Kamu harus mengembalikan nama baik dr. Omar." ujarku lagi sembari menyentuh luka di wajahnya sampai ia meringis.
"Tenang, kamu tak akan dipenjara. Aku akan mengganti dana yang sudah kamu korupsi itu dengan catatan, beritahu aku siapa yang menyuruhmu menjebak kakak iparku." ujung pistolku sudah berada di pelipisnya sekarang.
"Kakak ipar?" kudengar suaranya bergetar takut. Aku menyeringai kemudian mengangguk.
"Ya betul, dan sepertinya kamu salah orang Geizer. Kamu sekarang berhadapan denganku." kulihat ia mulai membuka mulutnya.
"Ia mantan gubernur Soviet. Calon senator dari partai bersatu." aku menarik kembali pistolku. Rupanya musuh kita sama tuan Omar.
"Hem, baiklah. Dirimu dan keluargamu selamat. Silahkan kamu ikut kami ke kantor Polisi sekarang." ujarku kemudian membawa pria tak berguna ini ke kantor polisi untuk bersaksi atas tuduhan kesalahan yang tidak dilakukan oleh Omar.
Omar menatapku dengan pandangan tak percaya, ketika kami semua berada di mobil untuk pulang ke rumah. Ia sekarang bebas dan akan dipulihkan nama baiknya pada menit itu juga melalui surat resmi dari Kantor Polisi.
"Terimakasih tuan Smith, kamu telah menolongku menghadapi ini semua." ujarnya dengan suara bergetar. Aku tahu ia mungkin terharu. Aku menepuk bahunya pelan. "Kita bersaudara, seiman dan juga saudara ipar. Kurasa itu memang tugasku agar istriku bisa tenang dan tidak bersedih." jawabku sembari mengingat apa yang aku lakukan tadi bersama adik perempuannya.
"Jadi? kamu sudah bertemu Aisyah?" tanyanya lagi wajah tak percaya.
"Ya, aku bertemu dengannya tak sengaja kemarin di kantor KBRI. Dan aku membawanya pulang ke rumahku."
"Maafkan aku tuan Smith karena sudah memisahkanmu dengan istrimu selama bertahun-tahun."
"Terima kasih tuan Smith, kamu sungguh berhati mulia." ujar Omar pelan. Kami pun berbincang cukup lama dan Omar menyarankan agar aku membawa Aisyah pulang ke Dagestan untuk bertemu dengan ayah agar orang tua itu merasa lega karena putrinya sekarang bahagia.
"Ya tentu saja, aku akan membawa Aisyah pulang setelah urusan pekerjaanku selesai di sini.
"Apa hubunganmu dengan mantan gubernur Dimitry Kremlin?" tanyaku pada Omar. Aku melihat Maksim menatapku dari kaca kecil di atas kepalanya.
"Dimitry Kremlin?" tanya Omar dengan wajah pucat.
"Iya, Dimitry Kremlin yang sengaja menyuap Alexey Geizer agar mau menjebakmu dalam kasus korupsi ini." jawabku sembari menatap matanya, mencari kejujuran di sana.
"Dimitry Kremlin pernah memintaku untuk menyembunyikan sebuah rahasia besar yang pernah aku saksikan sendiri antara ia dan seorang perempuan selingkuhannya. Ia membunuh perempuan itu dan memintaku membuat keterangan palsu kematian perempuan itu tetapi aku menolak dan mungkin waktu itu ia tersinggung dan berusaha menjatuhkan karirku melalui seorang Geizer.
Aku jadi paham sekarang. Dan kurasa sebentar lagi pria itu akan mendengar kabar buruk kalau aku Alexander Smith lawan politiknya yang telah mengeluarkan Omar dari penjara. Aku penasaran kira-kira bagaimana reaksinya nanti.
Setelah berkendara sekitar 30 menit kami akhirnya sampai di rumah. Kulihat Omar begitu takjub dengan pemandangan di rumah ku.
"Aku ingin bertemu Aisyah." ujarnya Kemudian melangkah masuk bersama Maksim dan Anna Peminov. Kudengar Maksim memperkenalkan Anna sebagai agen yang membantu Omar menemukan bukti kunci atas kasus Omar sedangkan aku meninggalkan mereka dan mencari Aisyah yang aku pastikan masih di dalam ruang kerjaku. Dan ternyata ia belum bangun juga padahal aku sudah meninggalkannya selama beberapa jam. Perlahan kukecup bibirnya lembut agar ia terbangun. Tetapi ia hanya melenguh dan melanjutkan tidurnya.
"Aisyah sayang, bangun ada kak Omar di depan mencarimu." Seketika ia langsung membuka mata indahnya.
"Kak Omar ada di sini?" tanyanya dengan ekspresi bingung khas bangun tidur.
"Iya, bukankah kamu sangat ingin bertemu dengannya?"
"Iya aku mau, tapi badanku serasa remuk. Aku tak bisa menggerakkan pahaku. Ini gemetar Alex." gerutunya manja. Aku kembali mengecup bibirnya karena gemas.
"Aku akan memandikan mu dengan air hangat. Pasti akan pulih kembali."
"Terima kasih Alex, aku mencintaimu." ujarnya malu-malu kemudian ia mulai membalas kecupanku. Dan kubalas lagi ia dengan hisapan-hisapan lembut di sumber minumku itu, yang putih dan sangat kencang. Bergantian kiri dan kanan.
Aku ternyata masih sangat haus padahal aku sudah meminum banyak tadi meskipun tak mengeluarkan air hingga ia mulai mendeesah nikmat aku baru sadar kalau Omar sang kakak ipar menanti kami di ruang tamu.
Aku segera membawanya ke kamar mandi agar ia cepat segar. Omar pasti tidak sabar menunggunya di luar.
---Bersambung--
Hai mana nih dukungannya untuk Babang Alex??? Like dan komen dong supaya aku semangat update nya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
Eh, ada rekomendasi novel yang bagus nih, bisa dijadikan bacaan sambil menunggu babang Alex selesai memandikan istrinya, hehehe.