
Alex dan Omar tampak terkejut dengan apa yang mereka berdua saksikan dengan mata kepala mereka sendiri.
"Kemarilah kalian berdua. Lihat siapa yang bibi gendong ini." ujar bibi Sarah dengan senyum bahagia diwajahnya. Ditangannya terdapat seorang bayi mungil yang sangat tampan dengan selimut berwarna biru melilit rapat ditubuhnya.
"MasyaAllah, Allahu Akbar. Ini bayiku bibi?" tanya Alex dengan mata berkaca-kaca karena haru dan bahagia. Bibi Sarah mengangguk dengan senyum cerah diwajahnya yang sudah tampak semakin menua. Alex memandang sang bayi dan menciumi pipinya lembut. Ia seperti dihadiahi banyak kejutan yang sangat membahagiakan di seperti malam itu.
Sedangkan Omar matanya tak lepas pada sosok yang sedang duduk diatas ranjang Aisyah sang adik. Anna Peminov ada di sana sedang memberikan perawatan pada perempuan cantik yang baru saja melahirkan seorang bayi.
"Ada yang bisa jelaskan bagaimana ini bisa seperti ini dan secepat ini?" tanya Omar tanpa mengalihkan tatapannya pada Anna yang masih sibuk membersihkan sisa persalinan sang adik.
"Anna membantuku melahirkan kak." jawab Aisyah dengan wajah yang masih nampak lelah, tetapi jelas sekali aura kelegaan dan kebahagiaan ada di sana.
"MasyaAllah. Terima kasih banyak Anna." jawab Alex yang sudah berada di samping istrinya itu. Ia mengecup kening istrinya lembut.
"Terima kasih banyak sayang, kamu sudah berhasil melahirkan putraku yang sangat tampan." sekali lagi ia mengecup bibir sang istri di depan semua orang.
"Kamu perempuan hebat Aisyah, tapi bagaimana mungkin prosesnya secepat ini sayang?" wajah Alex berubah-ubah, antara kagum, dan tidak percaya. Ia merasa hanya meninggalkan istrinya tadi sekitar 10 atau 15 menit dan semuanya sudah terjadi.
"Sewaktu kamu pergi meminta pertolongan, Anna tiba-tiba muncul dari pintu itu Alex." ujar Aisyah sembari menunjuk pintu penghubung antara kamarnya dan kamar Nikita.
"Aku ingin mendengar cerita ini dari nona Anna Peminov sendiri." timpal Omar yang sedari tadi menatap Anna yang sibuk keluar membersihkan kamar itu.
"Anna duduklah dan ceritakan apa yang terjadi." ujar Aisyah pada gadis yang sedang membawa selimut yang sudah terkena noda darah itu.
"Letakkan saja kain kotor itu Anna, akan ada pelayan yang akan membersihkannya." lanjut Aisyah karena sepertinya Anna sedang berusaha sibuk sendiri. Ia bahkan terus menunduk.
"Sejak Nyonya pergi dari kamar Nikita, aku tidak bisa tidur nyenyak, jadi aku bangun saja dan mencari sebuah buku untuk dibaca. Setelah aku bosan membaca, entah kenapa kakiku malah melangkah ke pintu penghubung itu dan membukanya sedikit." "Maafkan aku tuan dan nyonya, aku lancang." Anna semakin menunduk dengan tangan meremas selimut yang masih ada dipangkuannya.
"Lalu apa yang kamu lihat Anna?" tanya Alex khawatir. Ia takut kalau Anna mungkin melihat saat ia sedang berada di puncak bersama istrinya secara live.
"Aku melihat nyonya sedang sendiri di kamar yah luas ini. Ia sedang berteriak kesakitan dan meminta tolong, jadi aku masuk saja kesini lewat pintu itu. Aku membantu nyonya yang melahirkan sangat mudah." jelas Anna dengan tarikan nafas lega.
"Anna ternyata hebat, Alex. Bibi saja baru sampai di sini saat bayi ini sudah lahir." ujar bibi Sarah menimpali, kemudian ia melanjutkan dengan pertanyaan, "Apa kamu pernah belajar jadi bidan sebelum ini Anna?"
Anna tersenyum lalu menjawab, "Tidak bibi, aku hanya pernah membaca buku tentang persalinan dan juga aku sudah biasa dengan hal-hal yang berbau genting seperti ini." Bibi Sarah tersenyum kemudian menyentuh bahu gadis itu.
"Terima kasih Anna, kami berhutang budi padamu. Nah sekarang Alex waktunya bagimu untuk mengazani putramu yang tampan ini." ujar Bibi Sarah sembari menyerahkan bayi mungil itu kepangkuan sang daddy.
"Boleh aku mandi dulu bibi?" tanya Alex sembari menerima bayi itu.
"Tidak perlu mandi nak, kalau cuma mengazani bayi sendiri." jawab bibi Sarah dengan wajah bingung apalagi sekarang waktu dini hari. Ia merasa terlalu riskan untuk mandi diwaktu seperti ini.
"Mandilah dulu biar aku yang menggendong putramu." ujar Omar yang mengerti keadaan Alex sang adik ipar. Alex sudah memberitahunya kalau ia baru mengunjungi sang istri dan belum sempat mandi junub.
"Terimakasih kak." ujar Alex dan menyerahkan bayi yang sedang tertidur itu kedalam gendongan Omar. pria beranak dua itupun segera ke kamar mandi setelah mengecup lembut bibir istrinya. Sedangkan Omar berusaha menahan Anna yang sepertinya ingin kembali ke kamar Nikita.
"Terima kasih banyak Anna, kamu hebat." ujar Omar sembari duduk dihadapan gadis itu. Ia sudah menyimpan bayi mungil putra Aisyah itu disamping mommynya.
"Sama-sama dokter. Dan berhentilah mengucapkan itu terus. Aku jadi seperti pahlawan saja padahal kan nyonya Smith yang sangat pintar. Ia gampang sekali melahirkan, bahkan mungkin aku tidak adapun nyonya akan melahirkan dengan selamat." ujar Anna panjang lebar hingga membuat Omar tersenyum. Rasa suka dan sayangnya pada gadis ini semakin bertambah saja.
"Anna, kamu terlalu memuji." jawab Aisyah tersenyum dan mengangkat jempolnya juga keatas.
"Pasti ada rahasianya, iyyakan dokter?" ujar Anna dan memandang Omar yang sedari tadi menatapnya tak berkedip.
"Ada, itu sudah pasti. Nanti aku beritahu kalau kamu sangat penasaran." jawab Omar tersenyum.
Deg
Kembali jantung gadis itu berdetak semakin kencang. Hanya karena senyum dan tatapan dokter Omar padanya, ia jadi lupa diri. Mereka tersentak dari aksi tatap-tatapan itu ketika mendengar Alex mengazani sang putra yang baru lahir.
Disunnahkan bagi orangtua untuk mengazani telinga bayinya begitu ia lahir. Perintah ini didasarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Rafi'i yang artinya, Saya melihat Rasulullah Saw azan layaknya azan shalat di telinga Hasan bin Ali ketika Fatimah melahirkannya.
Mengazani bayi yang baru lahir memiliki maksud agar suara pertama kali yang menggetarkan gendang telinga manusia baru ini adalah kalimat-kalimatNya yang mengandung makna kebesaran dan keagungan-Nya dan syahadat menjadi hal pertama yang memasukkannya ke dalam lingkaran Islam.
Meskipun tidak dirasa, manfaat lainnya dari mengazani bayi adalah hengkangnya setan (yang konon menyeliputi setiap bayi yang lahir di dunia) begitu mendengar kalimat adzan.
"Aku akan memanggil ayah kemari. Ia pasti akan sangat senang karena cucu pertamanya sudah lahir." ujar Omar kemudian keluar dari kamar itu untuk memanggil sang Ayah.
0ekkkk
Oeeeek
Bayi kecil itu baru menangis dengan suara melengking kencang memenuhi kamar yang luas itu.
"Bayimu pasti lapar, sayang," ujar bibi Sarah dan membawanya ke samping Aisyah yang sedang meminum segelas susu putih untuk memulihkan kembali tenaganya.
"Iya bibi, semoga aku sudah mempunyai asi." jawab Aisyah sembari meraih tubuh mungil sang Putra.
Oeeeek
Oeeeek
Oeeeek
---Bersambung--
Alhamdulillah, akhirnya sang bayi yang sudah lama dinanti sudah lahir ke dunia ini. Mana nih ucapan selamatnya untuk keluarga babang Alex.
Like dan komentar ya, ada bunga atau vote othor tunggu di persimpangan jalan , hehehe.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
Eits, sembari menunggu sibayi tampan mi"mik cucu, kepoin yuks, novel teman akoh, dijamin oke punya.