
Dagestan dikenal dengan keragaman masyarakat etnisnya yang menghargai tradisi, adat, dan budaya. Keragaman tradisi Dagestan sungguh menakjubkan. Alex dan kedua orang kepercayaannya sampai berdecak kagum saat tetua adat menjelaskan beberapa kebiasaan dan adat-istiadat asli yang istimewa di hampir semua desa besar di pegunungan ini. Maklum mereka semua adalah orang-orang bebas yang jarang mematuhi hukum dan juga tidak pernah mengenal sosial yang lebih beradab.
Beberapa unsur ritual dan legenda di sana berasal dari berbagai peristiwa sejarah. Sebagian lainnya juga berasal dari masa ketika masyarakatnya masih mempraktikkan agama-agama yang lain dan memuja dewa-dewa yang berbeda. Hal ini dapat dianalisis melalui upacara pernikahan.
Tak heran, upacara pernikahan menjadi salah satu peristiwa yang paling penting di sana. Tidak hanya untuk pengantin baru dan keluarga mereka, tetapi juga bagi seluruh warga desa gunung tersebut. Adalah hal yang lazim, kala semua orang di desa pegunungan itu menghadiri sebuah pesta pernikahan. Bahkan semua kerabat dan teman yang tinggal di desa-desa pegunungan lain pun datang juga. Mereka melakukan perjalanan dari jauh untuk menyaksikan pernikahan keluarga, teman-teman, dan rekan-rekan mereka.
Masyarakat Dagestan biasanya merayakan pernikahan mereka pada paruh kedua musim panas atau awal musim gugur. Waktu ini dipilih karena semua sayuran dan buah-buahan yang mereka tanam, telah matang dan siap dipanen. Alasannya cukup simpel. Kadang-kadang ada lebih dari satu acara pernikahan di sebuah desa pegunungan. Kehidupan sehari-hari pun seakan terhenti. Semua orang diliputi suasana perayaan. Bengkel-bengkel ditutup, begitu pula kios-kios perajin. Semua orang di desa membantu mempersiapkan datangnya hari besar.
Para pemimpin desa juga harus mencurahkan beberapa hari untuk membagi-bagikan tanggung jawab kepada satu sama lain. Misalnya untuk mengirimkan undangan, membeli makanan, memilih musisi, untuk memutuskan tempat pernikahan dan untuk memilih urutan yang tepat dari semua tindakan tersebut. Setiap pernikahan Dagestan berlangsung selama minimal 3 hari dan ada prosedur khusus yang harus dipatuhi.
Alexander sebenarnya ingin mempercepat acara pernikahannya dengan Aisyah Putri Mohammad Yusuf karena rengekan yang tiada henti dari Nikita tetapi bagaimanapun juga ia harus mengikuti adat istiadat dari desa tersebut. Apalagi calon mempelai perempuan adalah putri dari seorang kepala suku Avar yang sangat disegani oleh masyarakat setempat.
Alexander mengumpulkan para laki-laki dari desa itu untuk ikut membantunya mempersiapkan sebuah pesta yang sangat meriah sesuai kebiasaan orang-orang di sana.
Hari ini para laki-laki yang lebih tua akan mendatangi rumah Mohammad Yusuf untuk melamar Aisyah secara resmi dengan membawa banyak hadiah sebagai buah tangan.
"Max dan kau Albert persiapkan hadiah yang kamu bawa dari kota untuk dibawa ke rumah mempelai perempuan." perintah Alex kepada kedua orang kepercayaannya.
"Siap boss!" ujar mereka berdua kompak dengan senyum bahagia.
"Dan ingat kerudung Haz yang harus kalian bawa, atau aku akan batal menikahi Aisyah." ujar Alex lagi yang langsung membuat keduanya tertawa.
"Rupanya kamu takut batal juga ya." timpal Maksim dengan menepuk bahu Alex. Daddy dari Nikita itu hanya mendengus kesal karena selalu digoda. Bagaimanapun juga ini adalah pernikahan pertamanya jadi ia cukup tegang dan berharap semua bisa lancar dan sukses. Hadiah kemarin yang sudah mereka bungkus dengan sangat cantik akhirnya mereka bawa untuk melamar secara resmi. Kemudian keesokan harinya barulah acara inti terlaksana.
Secara umum, pada hari pernikahan pengantin tak boleh terlibat dalam tarian dan kesenangan karena mereka harus menunjukkan kesopanan sekaligus kesedihan karena meninggalkan rumah orangtuanya. Juga, wajib bagi mereka untuk tetap diam. Menjelang akhir pesta, kerabat pengantin pria menguji kepribadian pengantin dengan mengajukan pertanyaan, atau meminta sang pengantin untuk membawakan mereka air. Biasanya, pengantin pria hanya berbicara atau memberi air jika sang kerabat menempatkan uang pada baki khusus. Pengantin perempuan kemudian mengambil uang yang dikumpulkan dan memberikannya kepada ibu mertuanya.
Setelah acara akad nikah selesai dan Alex sudah resmi menjadi suami Aisyah. Mereka berdua dilarang ikut menari pada perayaan kebahagian mereka. Mereka cukup jadi penonton.
Alex terpana ketika pertama kali melihat Aisyah yang sudah sah menjadi istrinya di dalam kamar pengantin.
"Masuklah nak Alex." perintah seorang perempuan tua yang ada di dalam kamar itu. Ia sudah menyajikan sepotong besar roti dengan garam, yang dilakukan ketika sanak keluarga menyambut pasangan yang baru menikah. Pertama-tama, ini merupakan simbol kemakmuran dan keramahan.
"Tuan Alex dan kau Aisyah, robek dan gigit roti ini dan siapa pun yang menggigit potongan yang lebih besar dipandang sebagai orang yang bertanggung jawab dalam pernikahan." Alex dan Aisyah berpandangan dan kemudian berlomba mengigit roti itu. Semua orang yang ada di dalam kamar itu bertepuk tangan karena Alex lah yang menggigit paling banyak.
Berikutnya ada tradisi lain dalam pernikahan orang Rusia adalah ketika para tamu berteriak, βgorkoβ (pahit). Pengantin harus berciuman saat mendengar teriakan, dan para tamu akan menghitung berapa lama mereka berciuman (semakin lama, semakin baik untuk pernikahan). Tetapi Aisyah menolak tradisi itu, ia tentu saja sangat malu berciuman di depan banyak orang.
Kali ini Alex diminta mengikuti tradisi berikutnya yaitu tradisi "membeli" pengantin wanita adalah hal yang umum di Rusia, tetapi kini hal itu kerap menjadi tradisi yang menyenangkan. Pengantin pria, pendamping pria dan kerabatnya biasanya memberikan uang kepada orangtua pengantin wanita agar sang pengantin perempuan boleh dibawa pergi.
Maksim sudah siap dengan tradisi seperti ini, ia membawa 100 juta Rubel sebagai mahar yang cukup besar untuk Aisyah.
Tradisi lain yang menarik adalah "tempat tidur pernikahan," di mana para tamu mengunjungi tempat suci malam pertama. Mereka menyentuh tempat tidur dan menaruh koin di piring khusus. Perempuan yang lebih tua mengajari pengantin bagaimana menyambut calon suaminya, dan untuk mendapatkan hak 'malam pertama' pengantin pria harus menyelesaikan tugas khusus untuk membuktikan bahwa dia cukup kuat dan cerdas.
Alex sekali lagi merasa dikerjai oleh para tamu. Ia ingin menolak menjawab beberapa pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan malam pertama tetapi ia dipaksa untuk menjawabnya sampai semua tamu terpana. Pasalnya ia sudah sangat berpengalaman dengan urusan seperti itu buktinya adalah ia bisa memiliki putri secantik Nikita, dan yang jadi malu sekarang adalah Aisyah. Otaknya jadi membayangkan hal-hal yang membuat keseluruhan kulitnya meremang.
"Ibu, boleh aku memanggilmu mommy?" pertanyaan Nikita berhasil membawanya ke dunia nyata. Ia pun tersenyum malu lalu menjawab,
"Panggil aku mommymu." jawab Aisyah sembari memeluk tubuh mungil putri Alexander Smith yang sekarang adalah suaminya.
"Yeay aku punya mommy!" teriak Nikita yang membuat semua orang tersenyum bahagia.
---Bersambung---
Akhirnya sah juga ya mereka. Mana nih dukungannya untuk Alex dan Aisyah menyambut malam pertama hehehehe.
Nikmati alurnya dan happy reading πππππ