Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 74 EMHD



POV Alexander Smith


Aku sekarang duduk di kursi kebesaran di ruang kerjaku. Rasanya aku sangat malas melakukan apa pun. Rinduku pada dua perempuan yang sangat aku sayangi itu bagaikan lava yang mendidih tapi tak punya arah untuk meleleh. Ingin meledak tapi tak tahu harus meledak di mana. Aku baru menyadari begitu kotor dan pekatnya masa laluku hingga akibatnya terasa dimasa sekarang.


Dari ekor mataku kulihat Maksim dan Albert muncul di depan pintu. Aku menunggu mereka memberikan kabar akan keberadaan Aisyah dan Nikita sekarang.


"Kami sudah mencari nyonya muda dan Niki tapi tidak menemukannya di manapun boss." ujar Maksim dengan nada pelan. Aku menatapnya tajam.


"Kalian tidak pernah becus mencari orang hilang, dan kamu Al, Apa saja yang kamu lakukan di sini, hah!" bentakku pada Albert yang berdiri menunduk.


"Kamu bahkan tidak tahu dimana istriku dan Nikita pergi, padahal aku percayakan mereka berdua kepadamu selama kami tidak ada." Albert tidak menjawab, kepalanya semakin menunduk karena takut. Aku yakin ia pasti sangat menyadari kesalahannya ini.


"Kalian keluar saja dari sini. Aku menunggu kabar baik 2 jam dari sekarang!" teriakku pada mereka sembari melempar apa saja yang ada di meja ku. Aku tidak bisa membayangkan kalau mereka berdua malah menjadi korban dari urusan politik kotor ini.


Entah kenapa wajah Dimitri Kremlin tiba-tiba berkelebat dalam bayanganku. Aku tahu cepat atau lambat ia pasti menuntut balas akan laporanku ke pihak berwajib akan kejahatannya pada Omar.


Kulihat pintu itu tertutup dari luar, itu berarti Maksim dan Albert sudah keluar dari ruangan ini.


Aku berdiri dari kursiku dan perlahan melangkah ke arah sebuah lemari besar dan tinggi terbuat dari kayu mahoni di sudut ruangan ini. Kubuka perlahan kuncinya. Di sana semua kenangan Paula Anderson, cinta pertamaku kusimpan dengan rapi. Kubuka beberapa album foto kami di sana, sejak aku mulai mengenalnya sampai ia melahirkan putriku Nikita.


"Pal, apakah kamu sudah memaafkanku?" tanyaku dengan suara rendah. Kuelus wajahnya dengan jari-jariku. Ia tersenyum di sana dengan binar bola mata hitam pekatnya. Hatiku menghangat seketika.


"Semoga kamu bahagia di sana. Putrimu Nikita sudah besar dan pintar sekarang. Ia selalu menyebutmu dalam do'a di setiap sholatnya." lanjutku dengan suara pelan kemudian menyimpan kembali album foto itu diposisi semula.


Paula Anderson tak pernah bisa kulupakan. Bagaimana pun juga ia adalah ibu dari Nikita. Seorang perempuan yang pernah memberikan aku kebahagiaan dan arti sebuah hubungan keluarga. Ia masih ada dan aman disudut hatiku yang paling dalam tetapi yang pasti porsinya tidak sebanyak Aisyah, istri sahku yang kuambil karena Allah.


Aisyah, kamu di mana sayang, bisikku dalam hati. Aku sungguh merindukanmu. Kembalilah padaku.


🍁


Maksim mencari tahu perempuan-perempuan seksih yang sempat viral bersama Alexander Smith calon senator yang digadang-gadang akan masuk dalam kandidat di Parlemen Rusia. Mereka semua sekarang sedang naik daun dan dalam pencarian diseluruh laman-laman gosip di dunia Maya.


Sebelum mereka melakukan jumpa pers mengakui kalau mereka semua pernah merasakan tidur di ranjang Alexander Smith. Maksim dan Albert sudah menculiknya dan membawanya ke sebuah pulau tak berpenghuni di Rusia.


"Katakan Nicole, siapa yang menyuruhmu mengangkat berita itu dan akhirnya menjadi topik skandal besar seorang Alexander Smith!" tanya Maksim sembari menempelkan moncong pistolnya di pelipis Nicole yang sudah memucat karena takut.


"Aku tak akan mengatakannya atau mereka akan menghabisi keluarga kami." Jawab Nicole dengan keringat yang memenuhi wajahnya yang memucat.


"Oh, begitu ya?" ujar Maksim kemudian menunjukkan rekaman video dimana semua keluarga gadis-gadis ini sudah berada dalam kuasa klan Smith.


"Mereka aman bersama kami Nicole." lanjut Maksim menyeringai. Ia menunggu perempuan itu membongkar semuanya sembari mengetuk-ngetukkan moncong revolvernya di atas meja. Dan akhirnya gadis itu membuka mulutnya.


"Mereka berjanji akan memberiku hadiah besar jika berani mengakui hubungan terlarang Tuan Smith dan kami semua." ujar Nicole dengan suara bergetar takut.


"2 milyar Rubel." jawab Nicole yang diangguki oleh Joan dan Patricia.


"Jumlah yang banyak juga hem. Dan aku baru sadar kalau kalian semua sangat rakus dan tamak. Padahal dulu kalian mendapatkan kompensasi yang sangat banyak setelah one night stand dengan Mr. Smith kan?" Maksim menatap mereka dengan pandangan merendahkan.


"Hanya semalam tetapi kalian berkicau seolah-olah jadi perempuan simpanan, hebat." ujar Maksim dengan bertepuk tangan. Ketiga perempuan seksih itu saling berpandangan dengan pandangan takut.


"Dapat ide darimana itu?" tanya Albert yang tertarik ikut menginterogasi biang kerusuhan ini karena ia yang dulu punya tugas untuk mendapatkan perempuan-perempuan nackal seperti mereka untuk bos mereka. Mereka bertiga diam lagi." "Nah, sekarang sebutkan siapa orangnya, Patricia, sayang?" tanya Albert sembari mendekatkan wajahnya pada Patricia, perempuan seksih berambut blonde itu.


"Dimitri Kremlin." jawab Patricia singkat.


"Hem, sudah kuduga." ujar Maksim sambil menyeringai.


"Nah, baiklah sayangku, kalian akan kami tinggalkan di sini sampai suasana kembali kondusif, tanpa alat komunikasi, mengerti kalian?" ketiga perempuan itu pun mengangguk patuh. Meskipun wajah mereka menunjukkan ketidaksetujuan tetapi mereka bisa apa.


"Tapi ada makanan kan, tuan Max?" tanya Joan hati-hati.


"Oh tentu saja Joan. Kami tak akan membuat kalian mati kelaparan di sini. Karena suatu waktu kesaksian kalian akan kami butuhkan." Mereka bertiga pun bernafas lega.


Maksim dan Albert segera keluar dari pulau tak berpenghuni itu dengan menggunakan jet pribadinya.


"Albert, pastikan masa lalumu dengan para gadis-gadis nackal itu bersih sebelum melamar Reisya." ujar Maksim tenang sembari menatap awan putih dari jendela kecil pesawat jet pribadi yang mereka tumpangi.


"Hey, memangnya cuma aku yang sering one night stand dengan para gadis nackal itu, hah?"


"Sepertinya sih iya. Aku masih perjaka ya Albert." jawab Maksim masih dengan wajah datarnya.


"Huh, aku tidak percaya." jawab Albert tak mau kalah.


"Lalu siapa yang kamu percaya hah?" tanya Maksim lagi.


"Aku hanya percaya Tuhan dan Aku berharap Reisya masih mau menerima ku saat tahu masa lalu ku yang buruk." ujar Albert dengan pandangan menerawang jauh.


"Dan aku berdoa semoga kamu nanti menikah dengan gadis perawan, hahahah." Maksim langsung mengaminkan ucapan Albert dengan wajah datarnya seperti biasa.


---Bersambung--


Mana nih dukungannya yang super kuenceng untuk karya receh ini. Like dan komentar sangat othor harapkan agar aku rajin update.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍