Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 79 EMHD



Maksim masih betah di rumah Mohammad Yusuf pagi itu. Ia sibuk menikmati teh tarik yang disuguhkan oleh bibi Sarah sembari menunggu Nikita bersiap untuk ke sekolah. Selama berada di Rakhata gadis cilik itu menjadi siswa titipan di sekolah di desa itu.


Setelah hampir 1 pekan mengurang diri di kamar karena tak mau bertemu dengan Alex sang suami. Pagi ini emosi Aisyah semakin baik. Ia juga sudah nampak sehat meskipun masih sangat terlihat kurus.


"Max, kamu di sini?" tanya Aisyah sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Maksim tahu pasti nyonya muda Smith itu pasti sedang mencari keberadaan Alex yang selalu bersamanya.


"Mr. Smith sudah kembali ke rumah kalian setelah menyimpan sekeranjang buah ini untukmu. Ia ingin kamu memakan buah dan sayuran ini agar kamu dan bayimu sehat." ujar Maksim sambil tersenyum. Ia tahu Aisyah juga sangat membencinya karena ikut bekerjasama dengan suaminya menutupi informasi tentang perempuan yang ada di dalam berita itu.


Dan sekarang ia akan memberi tahu sebenarnya pada Aisyah agar hubungan mereka tidak lagi kaku seperti ini.


"Boleh aku bicara denganmu? sebentar saja sampai Nikita selesai bersiap." pinta Maksim dengan wajah memohon. Aisyah mengangguk kemudian duduk di depan Maksim. Ada meja besar yang menghalangi mereka berdua.


"Aku tahu engkau sangat marah pada Alex karena telah melihat berita itu. Dan aku harap engkau sudah membuka juga konfirmasinya pada laman yang sama." ujar Maksim menatap lurus ke arah Aisyah.yang sedang menunduk. Ia tahu Perempuan itu sedang menangis dari bahunya yang sedang bergetar.


"Tidak. Aku tidak mau lagi membuka berita sampah itu. Semuanya sudah jelas kan." jawab Aisyah sembari menyusut air matanya. Maksim menarik nafas berat karena ikut serta dalam permasalahan keluarga pimpinannya ini.


"Perempuan dalam foto yang engkau lihat sedang mesra bersama Alex adalah Paula Anderson, mamanya Nikita.


Selebihnya Alex tidak pernah membawa perempuan lain ke tempat umum atau diperkenalkan sebagai seseorang yang penting dalam hidupnya Alex." jelas Maksim yang langsung membuat Aisyah menatapnya tak percaya.


"Mamanya Nikita?"


"Iya, di dalam foto itu hanya Mamanya Nikita yang selalu ia bawa kemana-mana dan diperkenalkan sebagai istrinya." Aisyah terdiam dan merasakan sebuah perasaan aneh menyeruak dari dalam hatinya.


"Lalu bagaimana dengan perempuan yang lain yang mengaku adalah simpanannya Alex?" tanya Aisyah masih dengan tangis diwajahnya.


"Aku akui itu benar. Tapi itu adalah masa lalu sebelum ia bertemu dengan Paula Anderson yang sangat dicintainya." air mata Aisyah semakin meleleh dengan informasi yang disampaikan oleh Maksim.


Aisyah tidak tahu bagaimana lagi perasaannya sekarang. Rasa benci dan jijik pada suaminya masih juga menguasai hatinya. Rasa cemburunya pada Paula Anderson semakin bertambah saja.


"Uncle Max? kita berangkat sekarang?" tanya Nikita yang baru muncul di ruangan itu padahal Maksim belum selesai dengan informasinya.


"Hati-hati sayang, salam sama ibu Maryam ya?" ujar Aisyah kemudian mencium kening Nikita lembut. Maksim juga pamit dan segera mengantar gadis itu ke sekolah sebagai siswa titipan sementara karena statusnya belum jelas.


"Mommy jangan menangis lagi, kasihan adek bayi yang ada di perutmu. kata dokter mommy harus gembira, okey?" ujar Nikita dengan jari-jarinya bergerak menghapus air mata mommynya.


"Iya sayang, berangkat lah dan jadi anak pintar ya." Aisyah mengantar mereka ke depan pintu.


"Anna, kamu tidak ikut ke sekolah hari ini?" tanya perempuan itu kepada Anna Peminov yang hanya berdiri di depan beranda.


"Maksim melarangku ikut nyonya. Ia menyuruhku hanya menjagamu saja. "


"Oh, kalau begitu masuklah aku ingin bicara pribadi denganmu." ujar Aisyah kemudian melangkah terlebih dahulu ke kamarnya sedangkan Anna mengikutinya dari belakang.


Mohammad Yusuf yang secara kebetulan mendengar percakapan Maksim dan Aisyah tadi tampak begitu sedih atas apa yang menimpa putrinya itu. Ia baru tahu sekarang letak permasalahan rumah tangga putrinya. Sekarang ia tak tahu harus bagaimana. Ia hanya bisa terus berdoa semoga Tuhan memberi solusi terbaik atas masalah diantara mereka berdua.


"Iyya nyonya."


"Apa kamu sudah bekerja di sana sebelum Nikita lahir?"


"Tidak. Aku bekerja di sana saat umur Nikita sekitar 1 tahun."


"Berarti kamu pernah bertemu dengan mamanya Nikita?"


"Iyya nyonya. Nyonya Paula Anderson adalah perempuan yang sangat cantik dan juga penyabar. Aku kira tuan Smith pasti sangat mencintainya." ujar Anna dengan senyum di wajahnya. Bayangan kebahagiaan Alex saat bersama Paula kembali berkelebatan dalam ingatannya. Sedangkan wajah Aisyah langsung berubah semakin sendu. Hatinya merasa sangat cemburu.


"Mereka sangat bahagia sampai kecelakaan itu terjadi." lanjut Anna dengan pandangan menerawang jauh. Tiba-tiba raut mukanya berubah menjadi mendung. Sekelebatan bayangan hitam pada keluarga Smith saat itu membuatnya tiba-tiba mengeluarkan air matanya.


"Kecelakaan bagaimana, Anna!.Ceritakan dengan jelas." tanya Aisyah penasaran.


"Mereka berempat, tuan Smith bersama nyonya Paula dan juga Maksim serta Nikita kecil sedang pergi berlibur dan dalam perjalanan mereka mengalami kecelakaan hingga Nyonya Paula meninggal dan Nikita menjadi cacat."


"Ah, Innalilahi." ujar Aisyah dengan suara tercekat di tenggorokannya. Bulir bening yang tadi sudah sempat mengering kini kembali mengalir lagi bahkan semakin deras.


Ia merasa bersalah karena cemburu pada orang yang sudah tiada. Pada perempuan baik hati yang sudah mendonorkan matanya untuk seorang gadis cantik yang sangat disayanginya sekarang. Aisyah memeluk Anna dengan hati pilu.


"Aisyah," panggil bibi Sarah dari arah belakangnya. Perempuan paruh baya itu mengelus lembut punggung keponakannya.


"Bibi.. aku...hiks..." Aisyah melepaskan pelukannya pada Anna kemudian berbalik memeluk perempuan pengganti ibunya itu.


"Menangislah. Bibi ada disini bersamamu. Dan kamu Anna, tunggulah di luar." ujar Bibi Sarah yang selalu tidak merasa nyaman dengan gadis asing yang selalu mendampingi Aisyah itu. Anna pun menunduk dan keluar dari kamar itu.


"Bibi, apakah kamu sudah mendengar semuanya?" tanya Aisyah masih sesenggukan.


"Iya sayang, aku mendengar semuanya. Ternyata suamimu selama ini berada pada masa-masa yang sangat sulit karena kecelakaan itu." Bibi Sarah menghela nafas berat. Ia tahu bagaimana perasaan keponakannya sekarang.


"Istirahatlah, dan banyak mengingat Tuhan. Kamu sedang mengandung nak. Hatimu harus bahagia dan tenang." Bibi Sarah membawa Aisyah untuk berbaring di ranjangnya.


"Apa kamu mau makan buah? nak Alex tadi membawakannya untukmu." Aisyah seketika merasa hatinya menghangat. Ia pun tersenyum samar.


"Iyya Bibi. Aku sangat lapar dan aku ingin banyak makan hari ini." jawab Aisyah kemudian bangun. Ia ingin menghirup udara segar pagi ini.


Ia Ingin melihat bunga-bunga yang sedang bermekaran di taman samping rumahnya. Hatinya sudah agak ringan sekarang setelah mendengar semua informasi tentang masa lalu Alex dengan para perempuan itu. Meskipun begitu ia masih belum bisa memaafkan suaminya.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍