
POV Alexander Smith
Negara Meksiko adalah sebuah Konstitusi Republik federal di Amerika Utara.
Bagian Utara berbatasan dengan Amerika Serikat; bagian Selatan dan Barat berbatasan dengan Lautan Pasifik; sebelah Tenggara dengan Guetamala, Belize dan Laut karibia; dan bagian sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Meksiko.
Berbagai macam perasaan asing menyeruak dari dalam hatiku ketika kru penerbangan ini mengumumkan kalau pesawat yang kami tumpangi sudah akan tinggal landas di Bandar Udara Internasional Benito JuΓ‘rez.
Aku menghela nafas penuh syukur. Alhamdulillah akhirnya aku sampai juga di Kota ini, Meksiko.
Sebuah Kota yang sudah lama ingin aku datangi karena suatu hal.
Sejak beberapa hari yang lalu ketika aku tahu bahwa Antonio Cassano sedang berada di tempat ini.
Berbulan-bulan aku keluar masuk Club untuk mencari tahu dimana keberadaan Antonio dan jaringannya.
Bahkan aku mulai terlibat lagi dalam beberapa bisnis dan transaksi terlarang agar bisa tahu pergerakan pria yang juga sedang diburu oleh Komite Investigasi Rusia (MRS) dan juga Federal Bueriao Of Investigation (FBI) dari Amerika serikat.
Kedua Agen keamanan negara ini sudah bekerja sama ingin menangkap Antonio Cassano hidup atau mati dan akulah yang ditunjuk sebagai pionnya.
Aku tentu saja bersedia dan menyatakan diri sanggup agar Aku bisa menemukan istri dan juga putraku.
Diego mengambil koper yang ada ditanganku dan membawanya ke dalam bagasi Mobil.
"Anda siap berangkat tuan Smith?" tanya Diego kepadaku setelah semua barang bawaanku sudah masuk semua.
Pria yang merupakan agen rahasia FBI dan bertugas menemani aku itupun menampilkan senyum cerah diwajahnya.
"Siap, tentu saja," jawabku dengan senyum pula. Aku tahu pria itu ingin memberikan pelayanan yang sangat baik padaku.
"Kita akan tinggal dalam sebuah apartemen sederhana tuan Smith, anda tidak keberatan kan?" ujarnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan yang cukup lengang di depannya.
"Tidak masalah, yang penting kamu setia menemaniku kemanapun." ujarku dengan ekspresi yang sama dengannya.
"Kemanapun?"
"Iya, kemanapun." jawabku singkat.
"Hahahaha, aku juga punya seorang istri yang butuh perhatian. Tidak mungkin kita akan bersama selama sehari semalam."
"Ya ya ya, kalau begitu apa yang akan aku lakukan jika kamu tidak bersamaku, bukankah kamu ditugaskan untuk menjagaku setiap saat?" Aku memandangnya yang sedang sibuk mencari saluran berita di pesawat radio pada mobil ini.
"Akan aku bawakan gadis Meksiko ke apartemenmu sebentar malam," jawab Diego dengan mata berkedip lucu.
"Oh no, aku tidak suka gadis Meksiko. Aku lebih suka gadis dari negaraku sendiri."
"Aku ingin jalan-jalan dulu di kota ini. Aku rasanya ingin mengunjungi banyak tempat-tempat terbaik di Negaramu Diego."
"Baiklah kalau begitu, kita akan menghabiskan siang ini dengan mengunjungi banyak tempat menarik."
"Tapi, apa sebaiknya anda istrirahat terlebih dahulu tuan? bukankah perjalanan anda lewat udara tadi cukup membuat otot-ototmu perlu diistirahatkan sejenak?"
"Tidak Diego, Aku masih cukup kuat untuk berkeliling hari ini. Cepatlah bawa aku ke San Miguel de Allende." ujarku dengan senyum terkulum. Wajahnya Langsung berubah tak ceria lagi tapi aku tak peduli.
"Hah? kenapa kita harus kesana? itukan terlalu jauh. Karena kita harus bergeser ke Pegunungan Baijoyang yang terletak di Meksiko Tengah." Diego memandangku lekat-lekat.
Aku hanya tersenyum dan tak mendengarkan gerutuannya yang tak mau ke tempat itu.
"Aku ingin menjumpai sebuah kota bernama San Miguel de Allende yang berkaitan erat dengan sejarah negara ini, Diego. Suatu saat aku ingin berkunjung ke tempat itu dengan seseorang yang spesial."
Didirikan oleh tokoh penting dalam perang kemerdekaan Meksiko melawan Spanyol, San Miguel de Allende dipenuhi oleh bangunan-bangunan bergaya arsitektur kolonial yang berpadu dengan jalan-jalan berbatu besar.
Bangunan-bangunan inilah yang membuat San Miguel de Allende begitu menarik dan memanjakan mata dan menciptakan pemandangan yang begitu indah.
Ketika Diego memutar kendaraan ini mencari jalan ke arah Kota yang akan kami tuju, tiba-tiba handphoneku berbunyi dan kulihat nama Nikita, putriku yang memanggil.
Pasti ada hal penting hingga Nikita menelponku seperti ini. ujarku membatin sembari menatap layar handphoneku.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Diego dengan wajah bingung. Ia menatapku dengan intens.
"Putar balik, kita menuju tempat ini." jawabku setelah membuka maps yang baru dikirimkan oleh Nikita, karena aku tidak mengangkat panggilannya.
Aku belum mau mengatakan kalau aku sekarang ini ada di Meksiko. Berada di kota yang sama yang ia datangi bersama guru dan teman-temannya.
"Bagaimana dengan tempat yang ingin anda datangi tuan Smith? tidak jadi?" Diego menatapku ingin tahu dengan perubahan rencana yang tiba-tiba ini.
"Putriku juga berada di negara ini, dan sepertinya ia sedang dalam kesulitan sekarang." jawabku sembari melempar pandangan keluar jendela.
"Baiklah kita kesana." jawab Diego sembari mengikuti maps itu.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya. okey?
Nikmati alurnya dan happy reading πππππ
---Bersambung--