Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 24 EMHD



"Kenapa bukan daddy yang menjemputku uncle Max?" gerutu Nikita saat Maksim dan Albert yang ditugaskan oleh Alex menjemput gadis kecil itu di rumah Paman Yusuf. Kedua orang itu saling berpandangan dan mengangkat bahu.


"Kamu tidak senang sayang kalau uncle yang menjemputmu?" Maksim membalas pertanyaan Nikita dengan pertanyaan lain. Ia tak tahu harus menjawab apa karena Alex tiba-tiba saja berubah aneh dan tidak mau ke rumah ini.


"Aku sangat senang uncle, tetapi kakek Yusuf ingin bertemu dengan daddy." jawab Nikita yang diiyakan oleh Mohammad Yusuf yang sedang berbaring di sebuah sofa panjang di ruang tamu itu. Rupanya orang tua ini masih belum pulih dari kecelakaan kemarin.


"Bagaimana kabar paman?" Maksim baru sadar kalau mereka berdua belum menyapa sang tuan rumah. Mereka tadi hanya disambut oleh bibi Sarah.


"Alhamdulillah, seperti yang kalian lihat. Baik dan sehat." jawab ayah dari Aisyah itu dengan wajah cerah.


"Sampaikan ucapan terimakasih ku pada tuan Alex atas kebaikan hatinya menolong putriku."


"Akan saya sampaikan paman." ujar Maksim dan Albert hampir bersamaan.


"Kami permisi paman, dan kami mau mengucapkan terima kasih untuk bibi Sarah yang sudah menjaga Nikita sampai pagi ini." ujar Maksim sembari memandang wajah bibi Sarah lembut. Ia seperti melihat sosok ibu pada diri perempuan paruh baya itu.


"Apa kalian akan pergi?" tanya paman Yusuf sembari menatap dua orang ini bergantian.


"Kami hanya akan ke Rumah sakit di kota untuk melakukan pemeriksaan pada Nikita."


"Oh baiklah. Kalau kalian kembali datanglah lagi ke rumah ini. Akan ada acara besar untuk Putriku Aisyah."


"Baiklah paman, tapi kami tidak bisa memastikannya hari ini."


"Tidak masalah nak. Berhati-hatilah nanti dalam perjalanan." ujar Mohammad Yusuf dengan senyum diwajahnya yang tampak cerah.


"Baik paman terimakasih." sekali lagi Albert dan Maksim menjawab bersamaan. Mereka berdua pun mendorong kursi roda Nikita keluar dari rumah itu diiringi oleh lambaian tangan Aisyah dari balik jendela besar yang terdapat dalam ruang tamu itu.


Berhentilah berharap Aisyah. Dia saja bahkan tak mau ke rumah ini untuk bertemu dirimu


Gadis itu menarik nafas berat untuk melonggarkan sedikit sesak di hatinya.


"Aisyah?" panggil Mohammad Yusuf kepada putrinya yang ternyata ada di belakang jendela sedang berdiri sejak tadi.


"Iyya ayah." jawab Aisyah cepat.


"Kemarilah anakku." gadis itu menurut dan menghampiri ayahnya yang sedang berbaring itu.


"Ceritakan pada ayah apa yang dilakukan penculik itu padamu dan siapa orangnya."


"Ayah aku baik-baik saja, tidak perlu menanyakan itu lagi." jawab Aisyah berusaha menolak menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Tapi ayah perlu tahu nak atau ayah akan memanggil teman tuan Alex itu siapa lagi namanya?"


"Tuan Maksim ayah."


"Oh iya itu maksud ayah. Saya akan menanyakan itu padanya.


"Ayah tidak perlulah seperti itu. Aku bilang semuanya baik-baik saja ayahku sayang."


"Entah kapan aku bisa bertemu tuan Alexander Smith dan memintanya menceritakan semuanya." ujar Mohammad Yusuf itu bermaksud menunggu reaksi putrinya.


"Ayah tidak percaya padaku dan lebih percaya pada pria asing itu?"


"Ayah tahu banyak yang kamu sembunyikan dari ayah, nak."


"Ayah, maafkan aku. Tapi sungguh aku baik-baik saja."


"Lalu untuk apa para bajingan itu menculikmu nak?" tanya ayahnya khawatir.


"Aku tidak tahu ayah, mungkin mereka hanya iseng saja."


"Astagfirullah. Semoga mereka semua mendapatkan hidayah dari Tuhan. Mereka banyak memakan korban nak. Ayah pikir ini bukan keisengan semata." pria tua itu nampak berpikir.


Mereka diserang oleh kelompok bersenjata pada saat melakukan ibadah sholat duhur di Masjid. Apakah ini ada hubungannya dengan para ******* itu yang biasa melakukan kejahatan dan pembantaian atas nama agama? Mohammad Yusuf menarik nafas panjang.


Islam datang ke tanah Dagestan sejak 1.000 tahun silam. Islam dibawa oleh pasukan asing dari Arab, Persia , Turki dan Mongol. Tokoh penting yang tidak bisa dilepaskan dari besarnya Islam di Dagestan adalah keberadaan para syamil, atau ulama mujahid


"Ayah sedang memikirkan apa?" tanya Aisyah saat melihat ayahnya lama terdiam.


"Ayah hanya berpikir apakah etnis kita mempunyai musuh. Padahal sejak ayah memimpin suku atau etnis Avar ini belum pernah kejadian seperti ini terjadi." kerutan di dahi Yusuf menandakan ia sedang berpikir keras.


Avar adalah etnis muslim terbesar di Dagestan. Jumlahnya mencapai 800 ribu jiwa dari 2,9 juta jiwa populasi di Dagestan.


"Ayah jangan berpikir macam-macam. Ingat kesehatan ayah." ujar Aisyah berusaha menenangkan kegalauan ayahnya akan peristiwa menakutkan kemarin yang pastinya akan menyisakan trauma berat di hati para warganya.


"Entahlah nak, ayah sekarang merasa takut dengan keberadaan tiga pria itu."


"Siapa maksud ayah?"


"Tuan Alexander Smith dan kedua temannya itu."


"Ada apa dengan mereka ayah?"


"Mereka membawa senjata api nak. Bukankah itu sangat mencurigakan?" Aisyah tiba-tiba merasa kegalauan ayahnya itu beralasan.


"Tapi mereka telah menolong kita semua kan." jawab Aisyah berusaha di pihak netral.


"Kamu lihat nak, kelompok penyerang itu mengenali tuan Alexander Smith itu. Dan mereka sepertinya adalah musuh lama yang kebetulan bertemu di sini." Aisyah terdiam. Ia membenarkan perkataan ayahnya itu.


Segala pikiran dan sak wasangka pun bermunculan di kepala kedua orang itu. Meskipun begitu Mohammad Yusuf masih terus berharap agar persangkaan buruknya pada Alexander Smith tidaklah benar.


Sementara itu di rumah Alexander yang hanya berjarak satu blok dari rumah Mohammad Yusuf. Terjadi sebuah kegaduhan karena Nikita masih merajuk pada Daddy nya.


"Kenapa bukan Daddy yang menjemput Niki!" tanya Nikita kesal.


"Itu karena Daddy sedang memasak makanan kesukaanmu, sayang."


"Daddy kan bisa menundanya."


"Aku takut Nikita ku ini kelaparan saat kembali dari rumah kakek Yusuf."


"Daddy hanya mencari alasan saja. Daddy kan tahu kalau Nikita tidak boleh pulang kalau ibu Aisya belum memberiku makan."


Deg


Alexander merasa alasannya betul-betul dibuat-buat sekarang.


"Ya sudah Daddy minta maaf. Kan uncle Max dan uncle Al sudah menjemputmu tadi dan kamu sudah selamat sampai di sini." ujar Alexander kemudian mencium kening putrinya lembut.


"Baiklah aku maafkan dirimu, dad. Tetapi lain kali Daddy harus sopan dengan menanyakan kabar kakek Yusuf yang sedang terluka." ujar Nikita sembari menggoyangkan jari telunjuknya.


"Okey, baiklah sayang. Lain kaki Daddy akan mampir dan membawakan masakan yang paling enak buatan Daddy.


"Aku mencintaimu dad."


"Aku juga sayang."


Mereka berdua akhirnya saling berpelukan dengan sayang hingga membuat Maksim dan Albert berpelukan juga dari jauh.


"Daddy kaki ku sakit sekali!" teriakan histeris Nikita membuat mereka menjadi panik.


"Albert. Kita berangkat sekarang!" teriak Alexander sembari melemparkan kunci Range Rover Evoque nya.


---Bersambung--


🍁🍁🍁


Tak bosan othor meminta dukungan para readers tersayang untuk menekan like, kirim komentar, dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍