Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 45 EMHD



POV Alexander Smith


Aku berjalan sambil merapatkan punggungku ke dinding dingin Museum itu. Terkadang aku dan Maksim saling berganti posisi untuk saling melindungi. Senjata api raging Blue ku selalu setia di kedua tanganku siap membidik ketika ada gerakan mencurigakan di depan sana.


Kurang lebih 20 langkah lagi posisi GPS pada gelang Nikita kami jangkau hingga bunyi tembakan kembali berbunyi disertai suara tangis para anak sekolah yang histeris ketakutan.


Aku melambaikan tangan pada Maksim agar ia mencari posisi berlawanan denganku. Sedangkan Albert tetap kusuruh siaga di depan pintu. Kami terus merangsek maju sembari memasang telinga akan pergerakan di dalam sana. Sepi. Hingga posisi kami sekitar 5 langkah lagi menuju pintu utama Armoury Chamber.


Tiba-tiba pintu utama terbuka dan Nikita keluar dengan luka parah di lutut nya beserta seorang pria tinggi bermasker menatapku tajam sambil menodongkan moncong pistol nya di kepala gadis kecilku.


"Welcome back Mr.Smith!" ujarnya menyeringai. Aku tak bisa melihat wajahnya tapi suaranya aku hafal betul. Gordon, putra Brown Smith. Pria yang sudah lama mengincar nyawaku. Yang selalu cemburu akan kepemimpinan ku di klan Smith.


"Lepaskan anak itu!" ujarku dingin. Aku berharap Nikita tidak memanggilku Daddy agar Gordon tidak merasa di atas angin. Dan sepertinya Nikita paham maksudku ia diam saja sambil meringis menahan luka di kakinya yang semakin mengeluarkan darah segar.


"Aku sudah lama menunggumu kembali, Mr. Smith. Bermain-main denganmu sebentar saja tidak masalah kan?" ujarnya lagi dengan seringaian menyebalkan.


"Apa mau mu!" tanyaku lagi sambil menodongkan raging blue ku ke arahnya.


"Aku ingin mengambil mahkota kaisar itu tapi aku ingin kamulah yang akan dituduh sebagai pelakunya hahahah." tegasnya sambil menekan moncong pistolnya dipelipis Nikita. Gadis kecilku kembali mengernyit sakit. Aku semakin geram di buatnya.


"Baik, aku setuju tapi lepaskan semua Sandra." ujar ku mencoba bernegosiasi.


"Hahahaha, jangan membuat penawaran Mr.Smith, karena aku sangat tidak suka." jawabnya dengan pandangan tajam ke arahku. Mataku bergerak cepat ke arah belakang Gordon. Kulihat posisi Maksim sudah sangat cocok membidik dari belakang. Aku memberinya kode agar kami tidak terlalu lama bertele-tele dan menghabiskan banyak waktu dengan seorang pecundang semacam Gordon and the gank. Bush!!!


Aku seperti melihat kecepatan peluru Maksim dalam sepersekian detik menembus punggung Gordon dan segera kutambah dengan menarik pelatuk raging blue ku untuk membidik jantungnya. Darah segar mengalir dari depan dan belakangnya tanpa perlawanan.


Bush!!!


Gordon tumbang dalam hitungan detik tetapi sempat melepaskan tembakan ke atas sebagai tanda bagi anggotanya untuk melakukan perlawanan. Rupanya ia masih punya nyali ditengah kematian yang merenggutnya. Aku sangat mengenal kode itu. Makanya dengan cepat aku melompat dan merebut Nikita dengan posisi tubuh melayang di udara sembari melepaskan banyak tembakan beruntun pada mereka yang sedang berjaga di depan pintu. Aku melempar tubuh kecil Nikita ke arah Albert agar ia meletakkan putriku itu di tempat yang aman.


Hap


Albert menangkap tubuh Nikita dengan sangat gesit. Ia memang paling jago dalam hal seperti itu.


Maksim meringsek ke dalam Armoury Chamber dimana teriakan dan tangisan histeris para Sandra membuat suasana semakin kacau. Semua sandra mulai berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Mereka berlari dan mencari tempat aman untuk mereka di tengah aksi tembak-tembakan kami dan para perampok itu. Mataku awas menatap sekeliling mencari sosok Aisyahku tapi tak kutemukan hingga Maksim berteriak.


"Boss, arah jam sembilan!" Dengan mengunakan kakiku sebuah senjata tak bertuan melayang ke arah yang Maksim maksud hingga mengenai kepala si sniper sialan itu,


Pletak


Karena itu ia malah melepaskan pelurunya salah sasaran dan mengenai sebuah pintu kaca yang ada di sampingku.


Wush


Duarrr


"Aaaakh!"


Telingaku mendengar sebuah teriakan tertahan dari balik pintu kaca yang sudah pecah dari seseorang yang kemungkinan terkena peluru nyasar itu. Aku seperti mengenal suara itu tetapi sayangnya perhatianku kembali teralihkan oleh tembakan beruntun yang menyerangku kembali hingga aku meringankan tubuhku untuk menghindari serangan itu dan segera berlari keluar bersama Maksim agar para perampok itu memburu kami keluar dan meninggalkan para Sandra yang kemungkinan akan menjadi korban berikutnya.


Tujuanku tercapai mereka mengikuti kami keluar sehingga aksi saling menembak yang semakin sengit itu terjadi di halaman Museum.


Bush!!


Satu lagi anggota Gordon tumbang oleh tangan Albert. Aku mengangkat jempolku padanya. Albert membalas dengan mengedipkan matanya.


Hingga menit berikutnya tak ada lagi suara peluru dan tarikan pelatuk yang terdengar. Sepi. Semua anggota Gordon tumbang di tangan kami bertiga. Semua pengunjung museum satu persatu keluar dari persembunyian mereka dengan tangis bahagia. Begitu banyak korban di sana. Polisi dan tim 911 datang untuk menyisir dan mengamankan lokasi. Ambulans dan tim dokter dari Moskow berdatangan mengevakuasi korban dan pelaku perampokan. Mereka meminta kesaksianku kemudian berterima kasih karena sudah menghabisi mereka semua.


"Daddy!" teriak Nikita diantara keramaian orang-orang yang berlalu lalang. Aku segera memeluk dan menciumnya penuh kasih sayang. Aku bersyukur Putri kecilku itu selamat meskipun kakinya terluka cukup parah.


"Dimana mommy?" tanyanya setelah suasana sudah mulai kondusif. Semua anak-anak sekolah di evakuasi ke tempat yang lebih aman agar mereka tidak mengalami trauma karena ketakutan. Sedangkan semua korban jiwa dan luka dibawa ke Rumah Sakit di Moskow untuk diberikan pertolongan secepatnya.


Deg


Aku baru sadar kalau sedari tadi tidak melihat Aisyah. Aku segera berlari meninggalkan Nikita dan masuk ke Armoury Chamber kembali yang sudah dipasangi Police Line.


"Dimana Sandera yang lain!" teriakku kepada polisi yang berjaga di sana.


"Semua sudah dievakuasi ke Rumah Sakit." jawabnya datar.


"Dimana perempuan muda usia dua puluh tahun memakai hijab itu?" tanyaku tak sabar.


"Kami sudah menyisir tempat ini dan tidak ada lagi yang tersisa. Silahkan cari di rumah sakit."


"Terima kasih." Aku segera kembali ke tempat dimana Nikita, Maksim, dan Albert menungguku dan mengajak mereka untuk mencari Aisyah di Rumah Sakit.


Perjalanan ke rumah sakit begitu sangat lama. Aku sungguh tak sabar melihat kondisi Aisyahku. Dan ketika mobil telah sampai di depan Rumah Sakit, aku langsung melompat dan menuju Emergency Room mencari pasien korban perampokan bersenjata atas nama Aisyah tapi ternyata tidak ada. Aku sudah seperti orang gila menanyai semua dokter yang ada tetapi semuanya menjawab bahwa tidak ada korban dengan ciri-ciri seperti itu.


Aku meminta Nikita juga diberikan pengobatan pada kakinya sembari menunggu informasi terakhir tentang jumlah korban dan data-datanya. Sampai tengah malam Aisyah belum juga ditemukan.


"Ya Allah." aku meraup wajahku kasar. "Aisyah kamu dimana?" aku menatap jam dinding di rumah sakit itu yang sudah menunjukkan dini hari.


---Bersambung--


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini...Like dan komentar dong...


Bunga mana bunga...


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍