
POV Alexander Smith
Aku kembali mempunyai semangat baru untuk hidup ketika mendengar kata Dagestan dari Albert.
Aku ingin segera ke tempat itu dan bertemu dengan istriku, Aisyah yang sangat aku cintai dan juga Danil putraku.
Beberapa jam yang lalu aku merasa hidupku sudah tak berguna lagi. Mati adalah pilihanku saat itu.
Dan andai saja Maksim tidak ikut bersamaku dan menyadarkanku, Aku sudah menabrakkan mobil yang aku kendarai ke pembatas jalan karena rasa sesal yang aku rasakan.
Aisyah pergi karena sikapku yang buruk padanya akhir-akhir ini.
"Masih ada Nikita dan kami keluargamu Alex, jangan berpikir picik seperti itu."
"Aisyah dan Danil pasti kita temukan," ujar Maksim saat itu untuk menghiburku.
"Aku lebih baik mati saja, Max. Sepertinya kamu lebih pantas merawat Nikita daripada aku."
"Lihat, semua orang yang aku cintai pergi dariku karena aku memang tak layak. Aku egois." keluhku saat kami berdua berhasil lolos dari maut saat itu.
Maksim tak berhenti menghiburku dan memberiku semangat sampai kami tiba dirumah dengan tangan hampa karena tak berhasil membawa pulang ratu di dalam rumah besarku.
Omar memberiku pukulan adalah hal yang wajar, bahkan ketika ia membunuhku pun itu juga aku terima.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Tapi sungguh itu karena aku terlalu mencintai istriku, Aisyah.
Saat kecelakaan terjadi pada Nikita di Resort itu. Aku mulai menghindari Aisyah bukan karena aku marah padanya tetapi aku sedang ingin berlaku adil.
Perasaan bersalah pada Nikita dan juga Paula menghantuiku beberapa hari itu. Aku merasa tidak berhasil berbuat adil pada mereka.
Aisyah bagaikan canduku yang selalu membuatku gila dan tak berhenti menginginkannya.
Kenikmatan Tubuhnya membuatku selalu kebablasan ketika berdekatan dengannya.
Aku tidak tahu sihir apa yang diberikannya padaku tetapi itulah yang terjadi.
Berdekatan dengannya sedikit saja selalu membuatku terbakar hasrat yang sangat tinggi dan itu sangat berbahaya untukku karena aku bisa lupa segalanya.
Saat inipun saat aku mengingat dirinya, aku menyebut namanya, sesuatu dalam diriku berkedut dan ingin menenggelamkan diriku dengannya dalam pusaran nikmat tak bertepi.
Oh, Ya Tuhan apakah engkau menciptakan istriku sebagai pawang dalam hasrat dan gairahku yang begitu tinggi ini? hanya dia yang membuatku seperti ini.
Itulah kenapa aku usahakan menghindari perempuan yang aku sayangi itu agar aku bisa mengambil hati Nikita terlebih dahulu.
Gadis kecilku itu selalu protes dengan abaiku pada dirinya sampai kejadian buruk itu menjadi pelajaran yang membuatku tersentil cukup keras, bahwa aku selama ini menyakiti seorang gadis kecil yang juga butuh perhatian.
Sampai aku bisa mengembalikan kepercayaan Nikita padaku barulah kami saling mempunyai rencana untuk membuat kejutan ini.
Tapi inilah yang terjadi, aku sudah terlanjur membuat Aisyahku terluka dengan sikapku yang tak dewasa.
Dan sekarang disinilah aku dengan tampang yang sangat menyedihkan karena sakit dan rindu, dalam perjalanan menuju Dagestan dengan sebuah pesawat jet pribadi milikku.
Aku tidak melakukan apapun kecuali memikirkan kata-kata apa yang akan aku ucapkan jika bertemu dengan Aisyah dan Danil di sana.
Maaf? apa kata singkat itu lagi yang akan aku ucapkan setelah banyak membuat perempuan yang kucintai itu menderita dan bersedih?.
Atau aku mencintaimu? Ah kurasa Aisyah sangat tahu aku mencintainya dan takut kehilangannya.
Ah, kata-kata rayuan pasti akan keluar sendiri kalau kami bertemu nantinya. Aku jadi tersenyum-senyum sendiri membayangkan pertemuan kami yang pasti akan sangat mengejutkan baginya.
Untuk mengisi kebosanan karena tak ada Aisyah di sini bersamaku. Aku meraih notebook istriku yang pernah kuhadiahkan padanya beberapa saat yang lalu.
Benda inilah yang sempat tertinggal di atas pesawat yang kemudian diamankan oleh kru Garuda Airline itu.
Hem, tidak terkunci rupanya. Aku tahu Aisyahku kadang sedikit ceroboh dan mungkin itulah kenapa petugas maskapai menemukan benda ini di Pesawat dan tahu bahwa notebook ini adalah milikku.
Rupanya wallpaper benda elektronik ini berisikan gambar keluarga kecil kami dan bertuliskan Alexander Smith's family.
Perlahan kubuka apa saja yang ada di dalam sana.
Semuanya berisikan cerita-cerita manis kebersamaan kami selama beberapa tahun ini.
Mataku kemudian menyusuri recent file yang menunjukkan catatan yang baru ia tulis di sana.
Sehari yang lalu dan itu berarti bertepatan saat kami sedang dalam Pesawat terbang menuju Moskow.
Jariku dengan lincah membuka file itu dan mulai membacanya dalam hati.
Ada hal yang berbeda di dalam hari-hariku saat engkau semakin menjauh dariku. Duniaku hampa dan kurasakan berhenti berputar.
Kehampaan ini sungguh menyiksaku.
Engkau yang aku anggap sebagai kekasih hatiku, pelipur laraku, penghangat tubuhku kini telah berubah dan tak seperti dulu lagi.
Aku tidak tahu apa salahku hingga engkau perlakukan aku dan Danil sebegitu buruk. Sungguh ini melukai perasaanku.
Kalau engkau membenciku dan tak sayang lagi padaku cukup rasa itu untukku saja Alex, jangan tunjukkan pada putramu.
Ia masih kecil dan tak tahu apa-apa. Danil juga mempunyai hak seperti Nikita. Dia juga adalah darah dagingmu.
Saat ini Danil sedang demam. Suhu tubuhnya panas. Putramu merindukanmu dan menginginkan dekapanmu.
Tapi sudahlah, kami berdua adalah orang lain Dimatamu kan?
Aaaaa aku tak kuat menahan semua ini, aku membencimu Alexander Smith.
Alexku yang dulu tidak seperti ini. Meskipun ia tidak mencintaiku tetapi ia bisa menjaga perasaanku.
Aaaaaa
Dimana Alexku yang dulu yang selalu membisikkan kata cinta dan rindu.
Hilang sudah tanpa bekas, engkau sudah tak kukenali lagi. Apakah ini sifat aslimu???
Saat engkau menganggapku sebagai orang lain saat itulah aku merasa aku sudah tak punya lagi harapan untuk bertahan bersamamu.
Dianggap sebagai orang lain dalam keluarga sendiri adalah hal yang paling menyakitkan, sungguh sangat menyakitkan.
Astagfirullah, ampuni aku ya Allah karena sempat berpikir untuk mengakhiri hubungan ini.
Beruntunglah Allah menciptakan air mata yang selalu menemaniku menghadapi ini semua.
Tapi tak apa, aku dan Danil akan pergi. Kasih sayangmu berikan saja untuk Nikita putrimu.
Dan ya aku ingin berterima kasih pada putrimu itu karena pernah memintaku untuk menjadi Mommynya dan merasakan kebahagiaan bersama kalian.
Terimakasih atas semuanya. Benar kata ayah menikahlah dengan orang yang mengharapkanmu, dan sekarang aku sudah sadar bahwa aku dan Danil sudah tidak diharapkan lagi. Aku dan Danil akan pergi menjauh dari kalian.
Terimakasih, terimakasih karena pernah memberiku kesempatan untuk bersama denganmu Alexander Smith meskipun cuma sebentar.
Ya Allah, ternyata aku sudah sangat menyakitimu Aisyah. Hatiku menghangat setelah membaca curahan hati istriku ini.
Aku meraup wajahku kasar. Entah apa lagi yang harus aku lakukan untuk mengobati luka hatimu Aisyah.
Aku memeluk notebook itu dengan perasaan yang sungguh sakit dan sedih.
Aisyah, jadi kamu berencana meninggalkanku hah? hanya karena aku mengabaikanmu selama beberapa hari? Dan juga kamu membawa Danil bersamamu? kamu sangat kejam. Kamu ingin membunuhku pelan-pelan? iya???
Sampai ke ujung dunia pun akan kutemukan dirimu.
Aku tersedu sendiri dengan perasaan ini. Hingga Maksim memberi tahu bahwa pesawat akan segera mendarat di sebuah pangkalan udara di pegunungan Dagestan.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
Cup cup babang Alex jangan bersedih dong, othor kan ikut sedih juga, hiks.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍