Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 134 EMHD



Rombongan keluarga besar Smith akhirnya berangkat ke Bandar Udara Internasional Sheremetyevo Alexander S Pushin dengan tujuan Indonesia.


Mereka akan melakukan perjalanan yang cukup lama dan panjang sekitar 10 jam 20 menit dengan kecepatan 900 km / jam. Mereka menggunakan pesawat komersil.


"Kamu nyaman kan, sayang?" tanya Maksim sembari memandang istrinya yang duduk disampingnya yang tak berhenti tersenyum.


Maryam nampak sangat bahagia karena Ini adalah perjalanan terjauh yang pernah dilakukannya dan juga tentunya karena bersama dengan orang yang sangat dicintainya.


"Nyaman Max, aku sangat senang sekali. Terimakasih." jawab Maryam sembari memandang lembut sang suami.


"Kamu suka naik pesawat?" tanya Maksim membalas tatapan sang istri.


"Iya Max, aku harap aku menikmatinya."


"Kalau kamu lelah, kamu harus istirahat. Kandunganmu sayang harus kamu jaga." ujar Maksim sembari mengelus lembut perut istrinya yang sudah menginjak bulan ke tujuh. Maryam tersenyum dan menyentuh tangan suaminya yang masih berada di perutnya.


"Terimakasih Max, aku mencintaimu." Maksim tersenyum kemudian mengecup lembut bibir istrinya.


"Demi Albert aku harus membawamu yang sedang hamil menaiki pesawat, aku selalu berdoa semoga kalian berdua sehat dan baik-baik saja."


"Iya Max, semoga kita semua selamat dan sehat sampai di negara Reisya,"


"Aamiin," jawab Maksim sembari meletakkan bantal kecil di belakang pinggang sang istri. Ia merasa sangat khawatir dengan perjalanan panjang ini karena kehamilan istrinya. Perlahan ia mengecup lembut perut sang istri yang sudah sangat membuncit itu.


"Kamu harus kuat ya sayang?" ujarnya diatas permukaan kulit perut perempuan yang sangat dicintainya itu. Maryam meremas rambut Maksim karena sedikit geli, suaminya itu malah menciumi perutnya setelah membuka kancing pakaiannya sedikit.


"Max, aku geli," Ujar Maryam menahan untuk tidak cekikikan di dalam pesawat yang belum juga terbang.


"Ada pramugari Max, aku malu," ujar Maryam sembari menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Maksim menghentikan aksinya dan kembali duduk dengan nyaman di kursinya seperti tidak terjadi apa-apa.


Tak lama kemudian seorang pramugari pesawat mulai mengumandangkan pengumuman atau Announcement bahwa pesawat yang mereka tumpangi akan segera lepas landas atau take off.


"Dear passengers, welcome to Yak- 40 flight from Moskow Flights to Indonesia will take us with in ten hours and twenty minutes, with a cruising altitude of Five thousand and six hundred and fourty two feet above sea level."


"Penumpang yang terhormat, selamat datang di Yak- 40 penerbangan dari penerbangan layang ke Indonesia akan membawa kita dalam sepuluh jam dan dua puluh menit, dengan jelajah ketinggian lima ribu dan enam ratus dan empat puluh dua kaki di atas permukaan laut."


"We need to inform you that Yak -40 flight is without cigarette smoke, before take off we invite you to hold the chair back, close and lock the small tables that are still open in front of you, tighten the seat belt, and open the window cover."


"Kami perlu memberitahu anda bahwa penerbangan Yak -40 tanpa asap rokok, sebelum lepas landas kami mengundang anda untuk menahan kursi, menutup dan mengunci meja kecil yang masih terbuka di depan anda, mengencangkan sabuk pengaman, dan membuka penutup jendela."


"On behalf of Yak-40 captain Vladimir Ivanov and all the crew on duty congratulated this flight, and thank you for your choice to fly with Yak-40."


"Atas nama Yak-40 kapten Vladimir Ivanov dan semua awak yang bertugas mengucapkan selamat atas penerbangan ini, dan terima kasih atas pilihan anda untuk terbang bersama Yak-40."


"Kita akan segera terbang, Max," bisik Maryam pelan sembari menutup matanya menikmati pesawat yang mereka tumpangi sudah mulai bergerak dan climbing atau terbang perlahan.


Maksim menyentuh tangan istrinya sambil berdoa dalam hati,


Ini bukanlah pertama kalinya Maksim menggunakan pesawat dalam setiap perjalanannya keluar negeri. Tetapi ini yang pertama baginya bersama Maryam yang sedang hamil besar. Ada banyak kekhawatiran dan kecemasan dalam hatinya melakukan perjalanan yang sangat jauh ini.


Hanya kepada Tuhan sang penguasa ia mengharapkan keselamatan untuk semua orang yang ada dalam pesawat ini.


Di sisi sayap kanan pesawat, Alexander Smith juga melakukan hal yang sama untuk Aisyah dan juga kedua putra putrinya. Untuk yang pertama kalinya ia benar-benar berdoa agar perjalanan ini menyenangkan bagi semua anggota keluarganya.


"Alex," panggil Aisyah pada suaminya yang menatapnya tanpa berkedip.


"Ada apa sayang?" tanya Alex sembari menyentuh tangan sang istri.


"Ada apa?"


"Tidak, aku hanya berdoa semoga kamu tidak mabuk lagi dan juga baby boy kita menikmati perjalanan ini," Alex mencium punggung tangan Aisyah lembut. Perempuan cantik itu hanya tersenyum.


"Insyaallah aku baik-baik saja, perjalanan darat dan udara rasanya berbeda. Ini seperti kita tidak merasakan sedang di atas pesawat." Aisyah tersenyum kemudian memperbaiki posisi tidur baby Zydan di atas boncher baby-nya.


"Aku harap Nikita juga mengalami hal yang sama," lanjut Aisyah sembari melirik kursi Nikita dan Albert yang tak jauh dari tempat duduknya.


"Anak itu selalu gampang menikmati apa saja yang ada di hadapannya, Alhamdulillah." ujar Alex memandang kearah kursi Albert dan Nikita. Kedua orang itu sibuk bercerita apa saja. Terkadang mereka tertawa sampai suara mereka kedengaran sampai kursi Daddy dan mommynya.


"Uncle Al, apa kata onty Reisya, kalau kita sudah hampir sampai di rumahnya?"


"Dia tidak bilang apa-apa, karena aku belum bilang padanya," jawab Albert santai.


"Hah?" Nikita melotot tak percaya. Ia sampai melepaskan seat beltnya dan menghadap ke wajah Albert dengan wajah serius.


"Kenapa uncle?"


"Ya, tidak apa-apa. Aku ingin membuat kejutan saja."


"Daddy! Mommy!" teriak Nikita ingin memberi tahu kabar yang begitu menggemparkan ini. Semua penumpang langsung menatapnya. Sedangkan seorang pramugari pun langsung mendatangi gadis kecil itu.


"Excuse me Miss. May I help you?" tanya sang pramugari cantik pada gadis kecil berambut pirang yang telah mengganggu kenyamanan penumpang yang lainnya itu.


"No, you may not, I just need my dad and mom, thank you Miss." jawab Nikita dengan tersenyum lebar.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


Mampir dulu dong dikarya teman othor nih dijamin bagus deh,