Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 177 EMHD



Setelah meminta izin pada Miss Annete kalau mereka berempat masih akan tinggal di Meksiko untuk beberapa hari kedepan, Alex segera check out dari kamar Nikita dan Elif.


Pria itu segera memilih kamar Presidential Suite untuk mereka gunakan berempat, yang lebih besar dan luas serta memiliki fasilitas lengkap dan mewah.


Alex juga meminta Diego agen FBI itu untuk membawa barang-barang pribadinya dari apartemen sederhana di tengah kota Meksiko ke kamar di hotel yang mereka tempati saat ini.


Dan adalagi yang mereka lakukan hari itu juga, adalah mendatangi Mansion mewah milik Antonio Cassano untuk mengambil dokumen-dokumen dan juga pakaian yang dimiliki Aisyah dan juga Danil.


"Maafkan kami Nyonya, tapi kami ingin memberi tahu bahwa Mansion ini sebenarnya adalah milik anda." ujar Bibi Rossy kepala pelayan di Mansion itu.


"Apa maksudmu bibi?" tanya Aisyah tidak paham dengan apa yang dibicarakan oleh perempuan tua berwajah lembut itu.


"Tuan Antonio Cassano sudah berpesan pada saya jika nanti terjadi hal yang tidak diinginkan padanya suatu waktu, saya bisa memberitahu anda kalau Mansion ini sudah diubah menjadi milik anda, nyonya,"


"Dan Mengenai sertifikatnya itu juga sudah dirubah atas nama anda nyonya." Aisyah dan Alex langsung saling berpandangan.


"Tidak bibi, aku tidak akan tinggal di sini karena aku mempunyai keluarga sendiri di Rusia, dan lihatlah mereka adalah keluargaku." jawab Aisyah sembari menunjuk Alex dan juga Nikita yang berada disampingnya.


"Kalau bisa aku ingin menyerahkan Mansion ini pada bibi saja, tinggallah di sini dengan tenang bersama dengan semua keluarga bibi."


"Terimakasih banyak nyonya, anda baik sekali.Tapi maukah anda tinggal sementara waktu di mansion ini selama Surat-surat pengalihan nama itu selesai?"


"Oh tidak bibi, aku tidak bisa. Biar kami tinggal di Hotel saja. Dan tolong hubungi pengacara tuan Cassano agar urusan segera beres dan selesai karena kami tidak mempunyai banyak waktu tinggal di negara ini." jelas Aisyah dengan sangat gamblang pada kepala pelayan itu.


Ia sudah mempunyai banyak harta dari suaminya. Ia tak butuh lagi dengan sesuatu yang mungkin akan menimbulkan masalah baru di keluarganya nanti.


"Baik nyonya, akan saya urus secepatnya."


"Iya Bibi, kami akan segera kembali ke Hotel, permisi," Aisyah beserta suami dan anaknya kemudian segera pergi dari Mansion yang mempunyai banyak kenangan dan pembelajarannya bagi dirinya itu.


🍁


Aisyah sangat gembira melihat putra pertama Maryam sudah besar dan juga tampak sehat.


"Maryam, selamat ya, kamu sudah memiliki putra yang sangat tampan." Ujar Aisyah pada layar kamera di hadapannya.


"Tak kusangka aku pergi lumayan lama, ya?"


Rupanya mereka sedang melakukan panggilan video dengan menggunakan handphone Nikita.


"Sehari setelah kamu pergi dari rumah, aku melahirkan di Dagestan karena kami semua mencari mu di sana?"


"Oh ya? aku jadi rindu pada ayahku. Bagaimana kabarnya Maryam?" tanya Aisyah dengan mata berkaca-kaca karena sedih dan rindu.


"Ayahmu selalu menanyakanmu Aisyah, setelah dari Meksiko segeralah menemui beliau, ia selalu menanyakan kabarmu padaku."


"Astagfirullah, aku rindu sekali pada Ayah," ujar Aisyah kemudian menangis sesenggukan. Hatinya bagai diremas karena sedih dan juga rindu.


"Iya, Aisyah, segeralah kembali." ujar Maryam yang kemudian digantikan oleh gambar Maksim yang muncul dalam panggilan video itu.


Maksim tersenyum mendengar kabar kalau Aisyah dan Danil sudah ditemukan.


Pria itu ikut berbahagia akan kebahagiaan Alex dan Nikita yang nampak sangat menikmati kehangatan pertemuan mereka di Negara orang.


"Kami akan pulang setelah beberapa hari, jadi jangan rindukan kami ya," ujar Alex yang juga tiba-tiba muncul dari arah samping Aisyah. Pria itu memeluk Aisyah dan Danil dalam panggilan Video itu.


"Ish, kamu terlalu percaya diri Alex, kami di sini tidak ada yang merindukanmu," cibir Maksim sembari memeluk Maryam dan juga baby boynya di depan kamera.


"Hah? Kamu berani Max bicara seperti itu?!" mata Alex melotot tak percaya dengan ucapan Maksim yang begitu menohok perasaannya.


"Iya, memangnya kenapa? kami memang tidak merindukan kalian hanya saja sangat menanti kepulangan kalian ke rumah ini." jawab Maksim dengan senyum diwajahnya.


Ia langsung mematikan sambungan video itu sepihak berpura-pura kesal.


"Jangan berkata seperti itu Alex, perkataan adalah do'a meskipun itu hanya bercanda sekalipun." tegur Aisyah sembari menyentuh wajah suaminya yang masih tampak membiru sisa berduel dengan Antonio Cassano.


"Maaf sayang, Astagfirullah, tidak akan kuulangi lagi." ujar Alex dengan senyum meringis.


"Apa saja yang dilakukan Antonio Cassano itu padamu?" Aisyah baru memperhatikan lekat-lekat luka-luka yang ada diwajah suaminya.


Tubuhnya seketika merinding membayangkan bagaimana aksi duel mereka berdua yang mengakibatkan pria penculik dirinya itu terluka parah dan akhirnya meninggal.


"Tidak perlu diingat lagi sayang, yang penting kamu sudah ada di sini bersamaku, dan ia juga sudah mendapatkan ganjaran dari segala perbuatannya."


"Ah iya, cuma ada yang ingin aku tanyakan padamu, apa benar kamu pernah mengambil kekasihnya?"


"Itu tidak benar sayang, pria itu pembohong kelas kakap, aku samasekali tak pernah mengambil milik orang lain."


"Dan bagaimana dengan Paula Anderson? ia selalu menyebut nama itu ketika sedang marah."


"Marah? Apa ia pernah berlaku kasar padamu sayang?"


"Ah tidak, pria itu tidak pernah kasar padaku Alex. Dia pria yang baik." jawab Aisyah sembari mengingat kebaikan pria penculik itu.


"Kamu memuji pria itu dihadapanku sayang?" tanya Alex dengan wajah kecewa. Ia berdiri dari duduknya dan berniat meninggalkan istrinya itu.


"Tidak, bukan maksudku seperti itu Alex," jawab Aisyah sembari menarik lengan suaminya untuk duduk kembali disampingnya.


"Aaaakh," tiba-tiba Alex menjerit tertahan. Lengannya yang ditarik oleh Aisyah tiba-tiba mengeluarkan darah segar.


"Ada apa Alex? lenganmu berdarah." ujar Aisyah dengan wajah penuh kekhawatiran. Perempuan cantik itu langsung membuka kemeja suaminya dan mendapati luka jahitan yang terbuka dan mengeluarkan darah segar.


"Ya Allah, ini bekas apa Alex?"


"Tembakan dari orang yang kamu bilang baik itu, yang tidak pernah kasar padamu, yang selama ini memperlakukanmu dengan sangat baik," jelas Alex dengan menggerutu kesal.


"Ya ampun kamu cemburu?"


"Ya, Aku sangat cemburu, paham kamu?" Aisyah tersenyum.


Ia sangat ingin melihat suaminya itu cemburu padanya.


Karena selama ini hanya ia yang selalu cemburu dengan perempuan-perempuan yang pernah dekat dengan suaminya termasuk Paula Anderson mommynya Nikita.


Perempuan itu kemudian meninggalkan Alex yang masih bersungut-sungut cemburu. Ia mencari kain untuk menahan agar darah itu berhenti mengalir.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang tuan Smith," ujar Aisyah dengan wajah khawatir.


"Setelah luka ini sembuh kita pulang ke Dagestan ya, aku rindu sekali pada ayah," ujar Aisyah yang sibuk membersihkan noda darah pada lengan suaminya.


Deg


"Bagaimana kalau ayah memisahkan kita Aisyah?"


----Bersambung---


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍