
Alexander Smith mengeratkan rahangnya mendengar pengakuan Sanchez setelah dan dibuat menderita oleh Guideline.
Perempuan cantik itu menarik ulur dirinya dengan sebuah irama yang cukup memabukkan dan membuatnya frustasi.
Pria muda itu memohon dengan sangat untuk menyentuh gadis cantik itu untuk melepaskan hasratnya yang sudah memuncak.
Sedang tubuhnya diikat disetiap tepian ranjang hingga ia mengerang kesakitan atas gairah yang minta dipuaskan.
"Katakan Sanchez kemana kamu membawa Seorang perempuan bersama bayinya seminggu yang lalu dari bandara internasional Sheremetyevo?"
"Tolong aaah lepaskan aku dulu. Aaaakh aku ingin Guideline, kumohon tuan Smith,,," pinta Sanchez dengan erangan yang menyayat hati. Ia terus memberontak dan memandang gadis Meksiko yang sangat cantik itu.
Rasanya ia ingin terbang dan menerkam perempuan itu dan menjadikannya miliknya sekarang juga.
"Kumohon tuan Smith, berikan Guideline padaku baru aku menceritakan semuanya, tolong aaaaakh uuuh," Sanchez memohon dengan erangan nikmat hanya karena menatap tubuh perempuan itu dihadapannya.
"Tidak semudah itu Sanchez," ujar Alex sembari menekan tangan pria yang terikat itu dengan ujung sepatunya.
"Ayo cepat katakan, brengsek! siapa yang menyuruhmu membawa istriku pergi dari sana, Hah!?" Alex sudah tak sabar bermain-main dengan pria itu.
"Antonio Cassano. Dia menyuruhku membawa perempuan itu ke dalam mobilnya. Sekarang lepaskan aku tuan Smith."
"Antonio Cassano?" Alex terdiam dan mulai berpikir.
"Dimana dia membawa istriku Sanchez?!" geram Alex sembari meraih rahang pria tak berdaya itu hingga mau menatapnya.
"Aku tidak tahu. Aku hanya melakukan perintahnya sampai di situ setelah itu aku tak tahu kemana lagi dia pergi. Kami berpisah di perbatasan kota Moskow."
Bugh
Alex memberikan tendangan yang sangat kuat pada rahang pria itu sampai terdengar bunyi patah disana. Pria itu tak bergerak lagi.
"Sial, ada dendam apa Antonio Cassano padaku hingga ia berani membawa Aisyah dan putraku." geram Alex kemudian meninggalkan tempat itu.
Guideline mengekor dibelakang Alex dengan wajah datar. Ekspresi menggoda tadi sudah hilang berganti dengan wajah dingin dan datar khas agen klan Smith.
"Aku pergi Guideline, dan pastikan ada informasi penting tentang Antonio Cassano itu." ujar Alex sambil terus memikirkan tentang sosok pria penculik istrinya itu.
Antonio Cassano, apa aku pernah bertemu dengan orang itu sebelumnya?
🍁
"Daddy, akhirnya kamu pulang juga, dimana mommy dan adek Danil?" tanya Nikita saat Alex baru saja memasuki kamar putrinya itu. Hampir sepekan Alex baru muncul di Rumah besarnya.
"Mommy sedang berlibur di tempat yang jauh sayang, Daddy hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk menjemputnya."
"Daddy janji?" tanya Nikita dengan mata berkaca-kaca. Alex mengangguk meskipun hatinya meragukan itu. Sampai detik ini ia belum juga mengetahui siapa Antonio Cassano itu.
"Daddy? apa mungkin mommy marah pada kita?" tanya Nikita lagi saat Alex hanya diam dan menatap langit-langit kamarnya.
"Tidak sayang, mommy tidak marah sama kita, ia hanya ingin berjauhan dengan Daddy sebentar saja," jawab Alex kemudian mencium seluruh wajah Nikita putrinya.
"Tidurlah," lanjutnya sembari mengatur bantal dan juga selimut untuk putrinya itu.
"Apakah Daddy akan menemaniku tidur?" tanya Nikita lagi.
"Iya sayang, Daddy tak akan kemana-mana, Daddy akan tidur di sini bersamamu." Gadis berusia 10 tahun itu pun menarik selimutnya dan mulai memejamkan matanya.
"Eh Daddy kata mommy, sebelum tidur kita harus baca do'a dulu."
"Iya sayang, berdoalah, minta pada Tuhan agar mommy dan adek Danil baik-baik saja."
"Iya Dad," Nikita pun mulai membaca doa dan tak lama kemudian terdengar dengkuran halusnya. Alex menarik nafas panjang berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Aisyah kemana kamu sayang, kamu tega sekali padaku dan Nikita," ujar Alex pelan.
Kerinduannya kini semakin menjadi-jadi.
Akhirnya ia bangun dan melangkah ke dalam kamar utama, tempatnya dan Aisyah selama ini.
Di tempat tidur itu masih terdapat tulisan ucapan selamat ulang Aisyah yang belum dibersihkan oleh pelayan.
Alex memerintahkan semuanya masih sama sampai Aisyah kembali dan melihat sendiri begitu ia sangat mencintai perempuan itu dan mengharapkan kepulangannya.
Alex membuka lemari pakaian sang istri dan mengambil beberapa pakaian itu keluar. Ia menciumnya dan memeluknya seakan itu tubuh Aisyah tercinta.
"Aku takut kehilanganmu Aisyah, kamu mau membunuhku pelan-pelan ya?"
"Kembalilah, hukum aku dengan cara yang lain tapi jangan seperti ini," Alex terus bermonolog dengan dirinya sendiri sembari memeluk pakaian-pakaian itu.
Sampai pagi ternyata ia tertidur di kamar itu dengan tangan masih memeluk pakaian Istrinya.
"Daddy bangun, uncle Al mencarimu," Nikita mencium pipi Alex dan membisikkan sesuatu.
"Hem, ada apa sayang?" tanya Alex sembari mengumpulkan nyawanya. Ia mulai meregangkan otot-ototnya dan kemudian bangun.
"Kamu sudah bangun? maaf ya Daddy tertidur di sini dan meninggalkanmu sendiri."
"Tidak apa Dad, Aku tahu kamu merindukan mommy seperti aku." Alex langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sholatlah dulu Dad baru temui uncle Al, sepertinya ada hal penting."
"Baiklah sayang, kembalilah ke kamarmu, Daddy nanti menemuinya."
"Okey dad,"
Albert memandang Alex yang berjalan ke arahnya dengan senyum diwajahnya. Ia senang sekali karena akhirnya kakaknya itu sudah berada di rumah ini dengan keadaan baik-baik saja meskipun penampakannya sangat kacau dengan bulu-bulu halus diwajahnya yang tak pernah dicukur.
"Kak," ujar Albert dan langsung berdiri memeluk tubuh tinggi besar itu.
"Oh aku lupa memberitahumu kalau Maryam sudah melahirkan di Dagestan."
"Ah iya Maksim sudah menghubungiku, aku senang mendengarnya."
"Aku dengar kamu menemukan Sanchez Kak?"
"Ya, dan ia memberi satu petunjuk, Antonio Cassano adalah pelakunya." jawab Alex sembari mengeratkan rahangnya.
"Antonio Cassano, sepertinya itu nama yang pernah kudengar kak," ujar Albert dengan wajah mengernyit ikut berpikir.
"Dimana Al?" Aku sampai sekarang belum pernah ingat pernah mengenal orang itu.
"Dia mafia narkoba dari Meksiko."
"Kalau itu aku kenal, Antonio Fiore, aku pernah bertemu dengannya beberapa kali dulu, sudah lama sekali sewaktu Paula masih hidup."
"Itulah orangnya, sekarang ia mengubah nama belakangnya sejak menguasai daerah barat."
"Oh Sial! cari tahu dimana dia sekarang!"
"Baik kak, aku pastikan secepatnya kita akan tahu dimana ia berada sekarang ini, dan apa motifnya mengambil Aisyah dan juga Danil," janji Albert dengan semangat diwajahnya.
"Terimakasih banyak Al, kamu mau menemaniku menghadapi ini semua," ujar Alex sembari memeluk tubuh Albert.
"Sama-sama Kak, aku adikmu dan juga bawahanmu di klan ini, aku akan siapkan diriku untuk membantumu."
"Daddy, Aku mau ke tempat ini, boleh?" tiba-tiba Nikita menjeda percakapan mereka dengan menunjuk satu tempat wisata yang terkenal di sebuah negara.
"Kamu dapat ini darimana sayang?" tanya Alex dan membawa gadis itu ke atas pangkuannya.
"Niki kamu sudah berat sekali sayang."
"Iya Dad, aku juga sudah besar. Eh teman-teman kelasku akan mengadakan liburan musim panas di negara ini, kita nanti kesana ya?" lanjut Nikita dengan rencana yang baru ia dapat setelah menerima gambar-gambar dari teman sekelasnya.
"Boleh juga sayang, kalau mommy dan adik Danil sudah kembali."
Mata Nikita kembali berkaca-kaca. Ia langsung memeluk Daddynya dan menangis.
"Maafkan aku Dad, ini semua gara-gara aku kan? hingga Mommy pergi?
"Maafkan aku huaaa," Nikita meraung dengan keras, anak itu hanya berpura-pura tak tahu kalau masalah besar ini berawal dari dirinya sendiri.
"Maafkan aku dad,"
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍