
Maryam mulai membuka buku yang berjudul Fikih Thaharah yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Ia menatap wajah Anna kemudian membuka dan mulai membaca isi dari buku itu.
Islam sangat memperhatikan umatnya agar senantiasa bersih dan suci, baik secara lahir (hissi) maupun batin (ma’nawi).
Dalam konsep Islam, bersuci dikenal dengan istilah taharah. Secara bahasa, taharah artinya bersih dan suci dari kotoran atau najis, baik yang bersifat hissi (yang dapat terlihat), seperti kencing atau lainnya, dan najis yang bersifat ma’nawi (yang tidak kelihatan zatnya), seperti aib dan maksiat.
Adapun menurut istilah, taharah artinya bersih dari najis, baik najis haqiqi, yaitu kotoran maupun najis hukmi.
Taharah amat penting dalam Islam. Baik taharah haqiqi, yaitu suci pakaian, badan, dan tempat shalat dari najis, maupun taharah hukmi, yaitu suci anggota wudhu dari hadas dan suci seluruh anggota lahir dari janabah (junub). Sebab, hal itu menjadi syarat sahnya shalat.
Buku yang ditulis Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ini memberikan penjelasan tentang taharah dan hal-hal yang terkait dengannya secara sistematis, rinci, serta dilengkapi dengan faidah (intisari) dari setiap pembahasannya. Selain menjelaskan makna hadis per kata atau per kalimat, penulis juga menjelaskan syarah hadis secara umum. Kemudian, ditutup dengan intisari dan faedah hukum yang diambil dari hadis.
Salah satu keindahan dalam agama Islam adalah Rasulullah SAW dan para sahabat tidak tabu membicarakan sesuatu yang sangat penting, khususnya terkait masalah hukum taharah, meskipun bagi sebagian orang ketika itu, hal-hal tersebut termasuk hal tabu untuk ditanyakan dan dibahas.
Misalnya, tentang mazi, mimpi basah bagi perempuan, mandi junub bagi pasangan suami istri yang melakukan hubungan suami istri tanpa disertai ejaakkulasi pihak suami, mandi junub bagi orang yang terluka parah, bersenang-senang dengan istri saat ia haid, dan apa yang harus dilakukan seorang suami bila seusai menggauli istrinya kemudian ia ingin mengulanginya lagi. Semua itu dibahas tuntas dalam buku ini.
Buku yang merupakan salah satu rangkaian jilid lengkap dari kitab Fath Dzi Al-Jalal wa Al-Ikram yang merupakan syarah dari kitab Bulughul Maram ini juga membahas berbagai hal lain seputar taharah.
Misalnya, hukum istri mandi dengan sisa air mandi suami dan suami mandi dengan sisa air mandi istri, sucinya kucing dan bekas air liurnya, sucinya air liur hewan yang bisa dimakan dagingnya, sucinya mani, hukum darah haid yang mengenai pakaian, hal-hal yang membatalkan wudhu, hukum menyentuh kemaluuan, serta batalnya wudhu karena muntah dan mimisan.
Selain itu, berwudhu karena memandikan mayat dan membawanya, bekam tidak membatalkan wudhu, tidur yang membatalkan wudhu, larangan berbicara saat buang hajat, apakah wanita menguraikan rambutnya saat mandi junub, larangan membaca Alquran bagi orang yang junub, hukum-hukum wanita yang mengalami istihadah, dan apa saja yang diharamkan bagi wanita nifas.
"Aku ingin belajar bersuci." ujar Anna saat melihat Maryam menutup buku itu dan mulai menatapnya kembali.
"Berwudhu? maksud kamu?" tanya Aisyah penasaran dengan sikap gadis itu yang tiba-tiba saja ingin belajar praktek bersuci setelah membaca buku dengan ketebalan 920 halaman itu. Ada rasa curiga di dalam hati Aisyah akan sikap Anna ini.
"Iya. Nyonya Smith. Aku ingin seperti kalian. Aku ingin tahu bagaimana cara bersuci itu." jawab Anna dengan senyum di wajahnya. Aisyah langsung memeluk tubuh gadis itu dengan rasa gembira.
"Selamat datang Anna, aku menyayangimu." ujar Aisyah terharu.
"Alhamdulillah ya Allah." ujar Maryam yang baru mulai mengerti apa yang sedang terjadi.
"Ayok Anna. Kita ke kamar mandi. Kita akan langsung praktek dengan berwudu terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan mandi besar." ajak Maryam dengan cepat. Ia yang akan menuntun Anna dan mengajarkannya cara berwudhu dan mandi besar mengingat kondisi perut Aisyah yang sudah semakin besar.
"Terima kasih nyonya Max. Aku yakin Maksim pasti sangat puas denganmu. Kamu cantik dan baik hati." ujar Anna saat mereka sedang berjalan ke arah kamar mandi.
"Jangan terlalu memuji Anna, kamu juga baik hati dan cantik. Aku yakin kamu akan mendapatkan calon suami yang hebat." jawab Maryam tersenyum.
"Semoga saja. Maryam. Aku hanya ingin belajar dan memperbaiki diri. Dan kuharap apa yang aku pilih ini adalah yang terbaik yang diberikan Tuhan padaku."
"Nah sekarang buka jaket mu itu, agar berwudhunya lebih nyaman." Anna pun membuka jaket dan celana panjangnya yang begitu ketat membungkus tubuhnya. Setelah itu ia diajarkan bagaimana berwudu dengan benar.
"Apakah kamu juga siap untuk mandi sekarang Anna? aku hanya akan memberitahu mu langkah-langkah dan urutan yang benar saat kita akan mandi besar. Apakah karena habis junub atau kamu memilih Islam sebagai keyakinanmu." Anna mengangguk setuju.
"Iya Maryam. Aku ingin mandi sekarang. Aku sudah yakin dengan keputusanku." jawab Anna tegas. Maryam tersenyum dan sekali lagi memuji kebesaran Tuhan.
"Apakah aku juga harus berkhitan seperti yang dilakukan Maksim dan Albert?" tanya Anna setelah selesai mandi. Rambutnya yang pendek ia gosok dengan handuk agar segera kering. Maryam tersenyum lalu menjawab,
"Khitan merupakan salah satu kebaikan syariah yang ditetapkan oleh Allah S.W.T. kepada para hamba-Nya. Allah SWT melengkapi segala kebaikan lahir dan batin mereka dengan khitan. Selain itu, khitan termasuk langkah-langkah kongkrit untuk mewujudkan kesehatan seksual dalam Islam."
"Khitan wajib bagi laki-laki dan kemuliaan bagi perempuan, bukan kewajiban lho Anna." Maryam menatap gadis itu yang sedang serius mendengarkan perkataannya.
"Para dokter menyatakan bahwa membiarkan klitoriss anak perempuan dapat menyebabkan penggumpalan sisa-sisa air kencing dan lainnya di sekeliling klitoriss tersebut sehingga rentan menimbulkan penyakit. Karena itu Syara' pun menjadikan khitan sebagai kesunnahan bagi perempuan. Rasulullah Saw bersabda: Khitan Sunnah bagi laki-laki dan kehormatan bagi perempuan." jelas Maryam dan membuat Anna manggut-manggut.
"Oh begitu ya? ah malu kalau harus di khitan sekarang." ujar Anna sambil menutup wajahnya dengan handuk. Aisyah dan Maryam tersenyum.
'Kamu menikah saja sama dokter bedah, supaya suamimu saja yang mengkhitanmu Anna. hihihi." ujar Aisyah cekikikan. Anna langsung membenamkan kepalanya di bantal. Malunya tak ketulungan karena tiba-tiba bayangan dokter Omar seketika berkelebat dalam otaknya yang kecil.
"Ayo kita sama-sama ke Masjid Agung Moskow, kita bawa Anna kesana untuk bersyahadat. Sekalian kita bisa hanging out, jalan-jalan di Red Square." ujar Aisyah dengan wajah gembira.
"Minta izin pada suami kita terlebih dahulu kalau mau keluar rumah." ujar Maryam memberi usul.
"Mereka pasti masih di dalam pesawat ke New York sekarang. Kita kan berangkat sama Anna penjaga kita. Iyyakan ?" Ujar Aisyah kemudian bersiap-siap.
"Apa kita harus menunggu Nikita pulang sekolah?" tanya Maryam lagi.
"Hari ini ia akan pulang lambat. Ada tugas yang akan ia kerjakan dengan temannya."
"Oke baiklah. Bersiaplah Anna."
Setelah mereka semua siap. Aisyah segera menghubungi Albert dan meminta pria itu menemui mereka di Masjid Agung Moskow. Sedangkan mereka bertiga akan diantar oleh sopir pribadi sekaligus bodyguard keluarga Smith.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍