
Maksim benar -benar memperlakukan Maryam sangat halus dan lembut bagai sebuah porselen antik yang mudah pecah. Ia menyentuh kulit perempuan itu dengan kecupan-kecupan kecil yang mampu membuat keseluruhan tubuh sang istri meremang.
"Max," bibir Maryam bergetar menyebut nama suaminya yang sedang mengenali setiap inci tubuhnya dengan menggunakan jari dan bibirnya. Maryam seakan-akan pecah dan ikut melebur dalam arus kuat yang dihantarkan oleh sang dominan.
Ia mengalah dan sungguh tak mampu melawan. Semua ia serahkan pada sang kekasih hati yang sudah lama dinanti. Hingga arus itu semakin kuat dan membuatnya semakin tak berdaya.
Semuanya begitu indah dan nikmat meskipun ia harus berjuang menahan rasa yang seakan mengoyak pertahanannya hingga tak terasa air matanya mengalir diantara rasa bahagia yang ia rasakan. Maksim membawanya menggapai sesuatu yang sangat indah yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.
"Maryam..." Sang dominan menatapnya tak percaya. Ia hanya menutup matanya dan mengangguk. Mengizinkan sang suami melanjutkan apa yang sedang ia mulai.
Mereka berdua larut dalam kasih dan cinta yang saling berbalas. Terbang semakin tinggi menggapai nikmat yang tak berujung. Semakin ke atas semakin tinggi dan akhirnya mereka jatuh terhempas dengan senyum puas.
Mereka berdua tak menghiraukan keramaian pesta di luar sana. Karena mereka juga sedang berdendang dalam irama yang sangat memabukkan.
"Istirahatlah." ujar Maksim kemudian mencium keningnya lembut. Maryam hanya tersenyum dengan pandangan mata sayu karena kelelahan.
"Kamu berhutang satu penjelasan padaku, Maryam." lanjut Maksim kemudian meraih handuk putih yang tersampir di samping ranjangnya. Perempuan cantik itu tidak menjawab, pandangannya hanya tertuju pada sosok tinggi tegap yang telah membuatnya merasakan indahnya mereguk kenikmatan dunia.
Maksim berlalu dari hadapannya dan melangkah ke kamar mandi. Suara air dari dalam sana menunjukkan kalau sang suami sedang mandi. Beberapa menit berikutnya ia keluar sambil menggosok rambutnya dengan handuk kecil. Maryam masih merekam pemandangan itu. Senyum lembut menghiasi bibirnya yang tak lagi murni. Bibir yang sudah dilahap habis oleh sang suami.
"Kenapa kamu masih memandangku seperti itu Hem? seperti baru kali ini kamu melihat yang seperti ini." ujar Maksim sambil memakai kembali pakaiannya. Ia kembali menghampiri istrinya yang masih berbaring di ranjang dengan sehelai selimut menutupi tubuhnya.
"Kamu sangat indah Maryam, teramat indah. Terima kasih Kamu menjaganya untukku." Maksim mengecup lembut bibir Istrinya. Kemudian ia keluar untuk melanjutkan pesta yang masih berlangsung. Maryam meraba bibirnya dengan jari-jarinya. Menutup matanya dengan senyum bahagia.
Ia pernah menikah dengan seorang pemuda yang mengaku sangat mencintai dan mengharapkannya dari dulu.
4 Tahun yang lalu pria itu datang melamarnya dan orang tuanya menerimanya karena sosok pria itu sangat baik hati dan juga taat beragama. Ia tak punya alasan untuk menolak karena pria yang ia harapkan tak pernah memberinya janji atau apapun itu namanya yang membuatnya punya alasan untuk menunggu.
Rupanya sosok pria muda itu menikahinya hanya untuk menyempurnakan separuh agamanya karena ia sedang sakit parah dan tak pernah menyentuhnya sedikit pun sampai ia meninggal.
Tak terasa Maryam meneteskan air matanya menyebut kebesaran nama Tuhan, yang telah mengatur takdirnya seindah ini. Ia berharap Maksim akan selalu memperlakukannya dengan manis seperti beberapa jam yang lalu.
🍁
"Darimana saja kamu Max? semua tamu menunggumu di sini. Kamu tahu? 2 jam kamu menghilang bagai di telan bumi." ujar Albert menggerutu kesal. Omar mengangguk mengiyakan.
"Mereka semua menjadikan kami bulan-bulanan menghadapi mereka yang ingin adu minum." ujar Omar dengan wajah tak kalah kesalnya.
"Aku minta maaf, aku habis mengisi energiku. Tunjukkan padaku siapa yang ingin menantang kalian minum." ujar Maksim dengan senyum di wajahnya. Ia benar-benar memilik energi double sekarang. Mengetahui kalau Maryam masih sangat suci dan begitu memukau rasanya membuatnya ingin berteriak bahagia.
"Halah, kamu lihat sekarang jam berapa? mereka semua sudah pulang dan tinggallah kami yang masih bujang ini menjadi bagian bersih-bersih." ujar Albert masih dengan wajah kesalnya. Matanya memandang keseluruhan halaman yang dipenuhi sampah sisa-sisa pesta. Maksim tak bisa menahan tawanya.
"Ayok, aku akan menemanimu membersihkan semua ini." ujar Maksim sembari mencari sapu dan tempat sampah. Albert dan Omar menatapnya tak percaya.
"Kalau aku nanti menikah, aku tak akan meninggalkan istriku sedetik saja. Aku akan membawanya terbang tinggi ke awan sampai ia minta pulang sendiri, awwww." ucapan Albert tidak selesai karena sebuah botol bekas kosong sudah mendarat cantik di kepalanya.
"Kamu yang melakukannya Max?" tanya Albert mendelik kesal.
"Aku yang melakukannya mulut besar." jawab Alex yang berdiri di beranda dengan berkacak pinggang.
"Cepat bersihkan lalu istirahat. Kamu ribut sekali." lanjut Alex dengan pandangan tajamnya.
"Maaf bos. Akan aku bersihkan semuanya." ujar Albert kemudian segera menyapu tempat itu.
"Aku akan membantumu Al." ujar Anna yang juga tiba-tiba muncul di tempat itu.
"Kamu belum tidur, Anna?" tanya Maksim sambil mengambil sampah di tangan Anna.
"Aku tidak bisa tidur, Max. Aku harus menghabiskan malam ini bersama kalian sebelum aku pulang besok pagi ke Moskow." jawab Anna dengan tangan yang begitu lincah memindahkan sampah-sampah plastik ke dalam wadah besar di sudut halaman.
Omar ikut membantu tanpa melepaskan pandangannya pada kelincahan gadis tomboi itu yang lari ke sana kemari mengambil sampah.
"Akhirnya selesai." ujar Anna kemudian berbaring di rerumputan dan menengadahkan pandangannya ke atas ke arah langit Rakhata.
"Kamu benar-benar mau pulang Anna?" tanya Maksim yang ikut berbaring di samping Anna. Omar yang ada di sana langsung menarik tubuh Maksim agar menjauh dari tubuh Anna.
"Hei kenapa denganmu dokter?" tanya Maksim dengan tersenyum samar.
"Jangan sampai muncul fitnah. Kamu baru saja menikah, apa kata orang dan juga istrimu kalau melihat kalian seperti ini. Tidak ada yang tahu di sini bagaimana hubunganmu dengan Anna, yang mereka tahu. Mereka percaya akan apa yang mereka lihat." jelas Omar sembari menatap Anna yang juga sedang menatapnya.
"Apa tidak ada alasan yang lain, dokter?" tanya Maksim berusaha meraba perasaan dokter itu pada Anna.
"Tidak. Hanya itu." jawab Omar singkat. Maksim tersenyum kemudian menatap Anna Peminov yang tiba-tiba berwajah sendu.
"Pergilah Anna, ibumu juga menelponku tadi. Katanya ia ingin sekali menikahkanmu dengan Pelip putra uncle Sam. Dan kurasa pria itu juga menyukaimu." ujar Maksim dengan suara agak keras karena posisinya sekarang cukup berjarak dari Anna setelah Omar memindahkannya tadi.
"Hem, iyya. Kurasa pagi-pagi sekali kalian harus mengantarkan aku ke terminal untuk mengambil bus." jawab Anna kemudian berdiri. Ia berniat untuk tidur meskipun matanya sangat tidak mengantuk.
"Selamat malam semuanya." ujarnya dengan langkah semakin menjauh.
---Bersambung--
Mana nih dukungannya untuk karya receh ini. Like dan komentarnya dong supaya aku semangat lagi updatenya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍