
Albert yang baru saja tiba dan sedang memarkirkan mobilnya di sekitar taman tempat perempuan-perempuan cantik itu berada tak sengaja melihat ada hal yang mencurigakan di kaca spionnya. Ia segera menelpon Anna dengan kode khusus pertanda bahaya.
"Anna lindungi nyonya muda. Ada bahaya di arah jam 9!" ia segera mengeluarkan revolver dan segera memeriksa kesediaan pelurunya.
Sedangkan Di jarak sekitar 20 meter dari sana, Anna mulai meraba Pistol di dalam jaket kulitnya. Ia menarik nafas panjang berusaha memutar tubuhnya pelan dan hati-hati ke arah jam 9 seperti yang dikatakan Albert.
Bangunan itu adalah State Historical Museum. Museum yang berlokasi di Red Square 1 ini didirikan tahun 1872 dan memiliki lebih dari satu juta artefak. Menjadi salah satu sarana untuk mempromosikan sejarah dan warisan Rusia. Bangunan ini sangat khas dengan warna merahnya.
Ia segera memakai kacamatanya yang mempunyai kelebihan sebagai teropong jarak jauh. Dan benar saja seorang pria sedang mengarahkan senjata Laras panjangnya ke arah mereka bertiga. Anna menutup matanya berpikir bagaimana caranya mengamankan dua istri dari Bos dan sahabatnya ini tanpa menimbulkan kepanikan.
Anna memandang berkeliling dan melihat bangunan BOLSHOI THEATER.
BOLSHOI THEATER Merupakan teater yang pertama kali dibuka dan digunakan untuk pertunjukan balet dan opera. Lokasinya di Theater Square 1. Interior teater ini sangat indah, bahkan menyerupai istana. Terdapat tur untuk keliling teater dengan pemandu dalam bahasa Rusia dan Inggris yang dimulai pukul 12.15 pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Untuk mendapatkan tiket harus antre langsung, tidak bisa beli online dengan jumlah peserta dibatasi (20 orang).
"Hum nyonya Smith, sambil menunggu Albert bagaimana kalau kita ke Bolshoi THEATER?" sarannya dengan suara tak sabar. Ia harus mengamankan dua perempuan cantik ini sesegera mungkin.
"Kita kan sudah janjian di sini Ann? lihat kakiku sudah mulai membengkak karena lelah berjalan." timpal Aisyah dengan wajah lelahnya. Maryam mengiyakan. Ia juga sudah sangat lelah berjalan keliling Red Square ditambah masuk ke Mall Gum.
"Tapi ini ini penting nyonya, anda harus..."
Bush
"Aaaaakh!" seorang pejalan kaki yang kebetulan lewat di depan Aisyah langsung terkapar jatuh di depan mereka bertiga, ia mengeluarkan darah yang sangat banyak dari dadanya. Anna segera mendorong Maryam agar segera tiarap kemudian ia mencoba menarik tangan Aisyah agar berdiri dan berpindah tempat. Tubuh Aisyah yang sedang hamil besar sangat tidak memungkinkan dirinya untuk memaksanya bergerak cepat.
Prang
Sekali lagi gelas es krim yang ada di atas meja yang mereka tempati tadi pecah berdenting karena sebuah timah panas yang menembusnya.Tak ada bunyi tembakan. Pasti si sniper sedang memasang peredam suara pada senjatanya.
"Apa itu Anna?" tanya Aisyah panik. Anna mengarahkan pistolnya ke arah sniper yang sedang berlindung di balik kaca jendela State Historical Museum.
Bush
Jendela itu pecah, tetapi sepertinya tidak mengenai lawan. Karena berikutnya Anna yang jatuh dan roboh ke tanah.
"Aaaaakh!" teriaknya tertahan sambil menahan darah yang mengalir dari dada bagian atasnya. Matanya awas memandang Aisyah dan Maryam yang semakin tidak mengerti apa yang terjadi. Hingga seseorang yang ia harapkan jadi penyelamat datang.
"Dokter Omar, bawa nyonya cepat pergi dari sini. Aaaaakh!" desis Anna kesakitan. Darahnya semakin banyak keluar tetapi dari dalam jaketnya sehingga tidak kentara.
"Anna! ada apa ini?" teriak Aisyah panik. 2 orang terkapar di hadapannya tapi ia tidak mengerti apa yang terjadi.
"Cepat dokter bawa Mereka pergi dari sini!" teriak Anna keras.
Bush
Sekali lagi tembakan itu datang dan memantul di sandaran kursi besi yang mereka tadi duduki. Barulah mereka sadar kalau ada penembak jitu yang sedang mengincar nyawa mereka.
"Anna aku akan segera kembali." ujar Omar dan segera mengevakuasi dua perempuan yang masih dalam mode bingung dan takut itu. Ia segera membawanya ke mobilnya yang tak jauh dari tempat kejadian naas tersebut.
Anna membaringkan badannya yang sudah hampir kehabisan darah itu dan menghadapkan wajahnya ke atas langit Moskow sore itu. Ia menyebut nama Tuhannya sambil menitikkan air matanya.
10 menit yang lalu, Albert berlari dengan cepat memasuki bangunan State Historical Museum. Ia sempat ditahan di depan pintu masuk karena tidak membawa tiket. Akhirnya ia mengeluarkan semua isi dompetnya untuk dijadikan jaminan agar ia bisa masuk tanpa prosedur yang berbelit-belit.
Ia sungguh tak punya waktu. Firasatnya mengatakan kalau sniper itu mengincar keluarga Smith.
Ia membuka pintu ruangan tempat sniper itu berada. Pelan sekali ia masuk sampai si penembak jitu itu tidak menyadari kedatangannya.
Ia benar-benar menyaksikan seorang pria bertopeng sedang mengarahkan moncong senapannya kearah taman di sekitar Red Square dimana ada keluarga Smith di sana sedang duduk menikmati es krim.
Dengan mata kepalanya ia menyaksikan satu tembakan itu menjatuhkan seseorang yang sedang berjalan di depan Aisyah.
Tanpa permisi lagi ia menarik pelatuk revolvernya dan menembak pas di punggung pria itu yang ia yakini akan tembus pas dijantung sniper itu.
Bush
Bersamaan ia menembak, saat itu pula peluru itu menembus dada Anna di ujung sana. Meskipun sudah tertembak sniper bertopeng itu belum menyerah.Ia terus melancarkan tembakan ke arah target dan mengenai sandaran kursi yang terbuat dari besi itu. Kemudian ia berbalik menatap Albert dan tumbang dengan seringaian di wajahnya.
Albert maju menghampirinya dengan revolver masih di tangannya.
"Siapa kamu!" bentaknya sembari menendang tubuh yang masih bernyawa itu. Pria itu hanya tersenyum dibalik topengnya kemudian terkulai lemas. Albert menarik nafas berat karena telah menghilangkan lagi nyawa orang. Ia kemudian menyimpan kembali senjatanya kedalam saku dalam jaketnya.
Albert segera menelpon polisi untuk mengamankan kekacauan yang di buat oleh sniper asing itu. Ia keluar dari sana dengan langkah cepat. Ia harus kembali ke Red Square dan berharap para perempuan itu tidak apa-apa.
Albert sampai bersamaan dengan Omar.
"Anna!" teriak mereka berdua bersamaan. Gadis tomboi itu tidak bereaksi. Tubuhnya lemas tak berdaya sedangkan seorang korban yang jatuh sebelum dia, mengucapkan sesuatu dengan suara lemah.
"Tolong gadis ini, ia telah mengeluarkan peluru dari tubuhku tetapi ia sekarang sudah hampir kehabisan darah." ujar pria asing itu dengan wajah pucat. Albert memastikan bahwa keduanya harus dibawa ke Rumah Sakit segera.
Omar mengangkat tubuh Anna yang dari tangan kanannya sebuah pisau kecil berlumuran darah jatuh berdenting di aspal jalanan itu. Ia yakin pisau itu yang Anna gunakan untuk mencungkil peluru dari tubuh korban yang lainnya.
"Anna, kamu harus bangun!" teriak Omar sembari membawa lari tubuh lemas itu ke arah mobilnya. Sedangkan Albert mengangkat tubuh pria asing yang jadi korban lainnya ke arah mobilnya sendiri. Mereka akan bertemu di Rumah Sakit.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍