
Omar tersenyum senang saat bertemu dengan Alex dan Nikita di lorong menuju kamarnya. Ia bersyukur gadis kecil itu sudah tidak merajuk dan kembali ceria seperti sedia kala.
"Nikita sayang, kamu mau kemana bersama Daddy?" sapa Omar pada gadis kecil yang sedang berada dalam gendongan Alex.
"Aku tidak akan kemana-mana uncle, aku hanya akan bersama dengan daddy sepanjang hari ini. Jangan mengganggu kami ya uncle hihihi," jawab Nikita cekikikan kemudian mencium pipi Daddynya dengan sayang.
"Tentu tidak sayang, nikmati harimu Nikita, dan ya jangan lupa minum susumu ya."
"Iyya uncle, bye. Dan uncle juga ingat harus menjaga onty Anna, ia masih sakit kan?"
"Ah iya, aku akan menjaganya karena sebentar lagi ia akan mempunyai adek bayi,"
"Tidak uncle, aku tidak suka ada adek bayi! Kalian nanti akan melupakanku seperti Daddy."
Deg
Alex dan Omar saling berpandangan. Rupanya selama ini Nikita tidak menyukai kalau ia mempunyai adik.
"Tapi kenapa sayang, bukankah adik Danil adalah adik yang lucu? dan juga bisa menjadi temanmu nantinya." Omar tak habis pikir dengan perilaku Nikita yang jadi suka memberontak seperti itu.
"Aku tetap tak suka, kalian orang dewasa selalu memberi alasan membuat adek bayi dan akhirnya mengabaikan aku, pokoknya aku tidak suka." jawab Nikita dengan pandangan mata tajam.
"Niki tak baik berkata begitu sayang," tegur Alex dengan suara lembut.
"Tidak! Apa Daddy ingin meninggalkan aku lagi karena mau buat adek bayi?" tantang Nikita mulai kesal.
Selama ini ia masih bisa bersabar dengan alasan-alasan orang dewasa itu tetapi sekarang ia sudah lelah diabaikan apalagi oleh Daddy dan Mommynya sendiri.
"Tidak Sayang, ayok sebaiknya kita masuk kamar dan kita bermain bersama, bagaimana?" bujuk Alex agar Nikita tidak merajuk dan akhirnya menangis lagi.
Entah apa yang terjadi pada anak ini hingga menjadi anak yang sangat sensitif dan mudah marah.
"Baiklah aku akan ke kamar menemui onty Anna," pamit Omar dan segera berlalu dari hadapan anak dan ayah itu.
Alex pun memanggil salah satu karyawan di Resort itu dan meminta kunci salah satu kamar yang akan ia tempati bersama sang putri sampai mereka kembali ke Moskow beberapa hari ini.
Sepanjang hari itu Alex menghabiskan waktunya bersama Nikita. Mereka bermain dan bercanda bersama sampai lupa keluar dari kamar hingga keesokan harinya.
Makan dan minum pun ia pesan lewat Heru saja.
Sedangkan Aisyah masih merasakan kesedihan yang semakin dalam dihatinya.
Suaminya bahkan tak pulang ke kamarnya dan tidur di tempat lain bersama Nikita.
Malam yang panjang dan penuh kesedihan itu ia lalui sendiri. Hingga 2 hari berikutnya Alex tak pernah datang menemuinya.
Akhirnya ia hanya berada di dalam kamar saja bersama dengan Danil sedangkan makanan dan kebutuhan yang lainnya akan ia pesan pada Heru atau karyawan lainnya kalau ia butuh.
Omar kadang datang berkunjung ke kamarnya untuk menanyakan kabarnya karena tak pernah muncul untuk makan bersama tetapi ia selalu bisa mencari alasan kalau sedang tidak sehat dan lebih nyaman berada dikamar saja.
Maryam dan Reisya pun datang mencarinya tetapi ia dengan sangat pintar menutupi perasaannya.
Meskipun ia sendiri ragu apakah semua orang akan percaya pada apa yang ia katakan sedangkan Alex dan Nikita benar-benar menghabiskan waktu berdua dan menepati janjinya untuk naik perahu bersama tanpa dirinya.
"Apa aku yang salah?" tanya Aisyah pada dirinya sendiri. Ia lalu menciumi wajah Danil sang putra dengan tangis yang tak berhenti dari kelopak matanya.
"Apa benar aku merebut semua perhatian Alex dari Nikita sampai aku tak menyisakannya sedikitpun?" ia terus bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Danil dan aku yang salah karena sangat rakus, hiks." perempuan itu menangis tersedu-sedu dengan hati yang sangat terluka.
"Oh ayah aku rindu padamu..." tangisnya lagi dan lagi. Dan bahkan Danil pun seperti nya tahu perasaan sedih dari mommynya.
Ia juga ikut menangis dan memeluk Aisyah. Putra kecilnya itu bahkan sudah pintar menghapus air mata dari perempuan cantik itu.
Tok
Tok
Tok
Aisyah segera mencuci wajahnya agar tidak terlalu tampak menyedihkan,
"Itu pasti Alex," ujarnya sembari berjalan ke arah pintu.
Langkahnya begitu ringan karena bahagia. Ia menatap dirinya di cermin dan merasakan matanya yang sudah nampak seperti mata panda.
Berhari-hari menangisi hubungannya yang semakin menjauh dengan Alex dan Nikita membuatnya semakin lemah dan tak bersemangat.
"Maaf Nyonya, tuan Alex meminta anda untuk segera bersiap karena kalian akan segera kembali ke Moskow siang ini." ujar Heru dengan wajah menunduk.
"Ap apa? kita akan kembali Ke Moskow? lalu dimana Alex?" tanya Aisyah tidak percaya dengan apa yang ada di hadapan sekarang ini.
Alex bahkan menyuruh orang lain untuk memberitahunya akan informasi sepenting ini.
"Tuan Alex sedang bersama nona Nikita ke Mall terdekat untuk berbelanja beberapa barang yang akan dibawa ke Moskow." jawab Heru masih dengan wajah menunduk.
Pria itu sendiri tak bisa melihat nyonya yang baik hati ini bersedih. Ia tahu banyak hal kalau keluarga dari Smith tertua ini sedang tidak baik-baik saja.
"Baiklah Heru, aku akan segera bersiap.Terima Kasih ya." ujar Aisyah dan segera menutup pintu kamarnya kemudian melanjutkan tangisnya.
"Alex? ada apa denganmu?" ia bersandar di balik pintu itu dengan hati hancur.
"Ayah aku rindu padamu...hiks." ia terus menangis sampai ia ingat bahwa ia harus kuat demi Danil. Dengan langkah cepat ia segera memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper besarnya termasuk pakaian Alex dan juga Nikita.
"Ya, baiklah Alex, aku siap untuk ini semua. Dan aku pastikan kamu akan menyesalinya." ujarnya sembari terus mengepak barang-barangnya tetapi dengan air mata yang terus mengalir tiada henti.
Setelah itu ia mandi bersama dengan Danil kemudian berpakaian. Ia keluar dari kamar dengan menggunakan kaca mata hitam untuk menutupi matanya yang bengkak.
Ia ingin mengisi nutrisi dalam tubuhnya. Ia memesan makanan yang banyak dan enak. Ia ingin makan dengan nikmat sebelum meninggalkan tempat itu dan kembali ke negaranya.
"Wah apa kamu akan menghabiskan semuanya Aisyah?" tanya Omar yang tiba-tiba muncul di depannya.
"Iya Kak, aku akan makan yang banyak, bukankah kita akan melalui ribuan pulau dan juga pegunungan? aku takut tak kuat dan kelaparan di pesawat."
"Hahahaha, bukankah di pesawat kita akan diberikan makanan?"
"Iya kak, tapi makanan di sini enak, aku tidak tahu apakah masih akan menginjakkan kaki di tempat yang sangat berkesan dan memberiku banyak hal di sini."
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
Banyak makan Aisyah, kamu harus kuat dan memberi pelajaran untuk suamimu itu.