
Paula Anderson?
Nikita mirip Paula Anderson?
Tinggal di Moskow?
Putri William Anderson?
Alex, Maksim, dan Albert saling berpandangan dengan pikiran dan pertanyaan yang sama di kepala mereka.
"Daddy, apa kamu mengenal perempuan yang bernama Paula Anderson?" tanya Nikita sembari menatap Alex yang tiba-tiba diam mematung.
Alex tidak menjawab. Ia hanya menatap Nikita dan juga pria tua itu bergantian.
"Daddy?" Alex tersentak kemudian meraih Nikita kedalam pelukannya.
"Ayo kita pulang, mommy dan juga adik-adikmu menunggu kita sayang," ujar Alex kemudian mengajak putrinya itu untuk pulang. Ada rasa takut dan juga khawatir menyeruak dari dalam hatinya.
Maksim dan Albert tahu keresahan dan kekhawatiran Alex sehingga mereka mengajak Omar untuk meninggalkan ruangan itu dengan segera.
Mereka bahkan sudah tak berniat untuk menghajar dan juga melaporkan Crisstoffer Anderson ke kantor polisi sebagai penculik dari putri kesayangan mereka.
"Kakek Will, sepertinya aku harus pulang ke rumahku sekarang. Jaga kesehatan ya, dan juga jangan lupa untuk selalu sholat." ujar Nikita kemudian memeluk pria tua itu.
Ia heran pada dirinya sendiri yang tiba-tiba mau memeluk pria itu yang jelas-jelas tidak punya hubungan darah dengannya.
"Aku akan merindukanmu kakek," ujar Nikita kemudian meninggalkan pria tua itu yang diam-diam menghapus air matanya. Ia tak punya hak untuk menahan gadis itu lebih lama tinggal di sana. karena orang tuanya sudah datang menjemputnya.
"Niki, maukah kamu menelponku nanti saat kamu tiba di negaramu?" tanya William Anderson dengan wajah sedihnya. Ia seperti seorang pria yang tak mau berpisah dengan kekasihnya.
"Tentu saja kakek, aku akan mencatat nomor teleponmu dan akan menghubungimu setiap saat." Wiliam tersenyum kemudian memerintahkan kepada Andreas untuk mencatat nomor telepon yang bisa dihubungi gadis itu nanti.
Nikita pun mengambil kertas dari paman Andreas dan menatap Crisstoffer Anderson yang juga sedang menatapnya dengan pandangan sinis dengan bibir mencibir.
Gadis itu ingin meminta kembali handphonenya pada pria itu tapi rasa benci dan jijik lebih berkuasa di dalam hatinya. Ia tak sudi bicara maupun bertemu dengan pria brengsek itu lagi. Pria yang telah mencuri ciuman pertamanya dan juga sering melecehkannya.
Tak lama pun mereka semua pergi dari sana dan akan segera kembali ke Dagestan.
"Criss, aku mau tes DNA gadis itu sekarang juga!" titah William Anderson pada cucu laki-lakinya yang masih diam membeku sejak kepergian Nikita dan keluarganya.
"Criss! Cepat kerjakan!" seru William Anderson dengan suara menggelar. Pria itu lupa kalau sedang sakit jika berhubungan dengan sesuatu yang mengganjal pikirannya.
"Untuk apa kakek?" tanya Crisstoffer dengan tubuh masih linglung. Ia seolah tidak menapaki bumi. Rasanya ia bagaikan sedang bermimpi.
Kepergian Nikita secara tiba-tiba membuat dirinya langsung merasa tidak nyaman. Ia merasa kehilangan.
"Aku curiga ada yang mereka sembunyikan. Dan sekarang aku yakin kalau Nikita adalah cucuku, tetapi aku harus punya bukti kuat. Criss, kamu dengar kakekmu ini hah?!"
Mata tuanya tidak bisa ditipu oleh ekspresi yang ditampilkan oleh keluarga Nikita.
William Anderson adalah mantan bandit, otak pencurian, perampokan, serta penipuan. Ia tahu betul gerak-gerik yang mencurigakan dari keluarga Smith sejak ia menyebut nama Paula, putrinya.
"Criss! Kamu cuma punya waktu 24 jam. Buktikan segera kalau Nikita adalah putri dari Paula, bibimu."
Crisstoffer memandang wajah Kakeknya yang nampak serius dengan keinginannya. Pria tua itu bahkan lupa kalau ia sedang sakit parah dan butuh istrinya.
"Keluarga mereka berbahaya kek, aku sungguh tidak mau terlibat lagi masalah dengan mereka." ujar dokter muda itu bermaksud membatalkan niat kakeknya.
"Criss, apa yang kamu pikirkan, sejak kapan kamu takut pada peluru dan juga pukulan. Kamu cucuku. Dan aku yakin Nikita itu adalah putri bibimu, Kita punya hubungan darah yang sangat dekat. Aku suka gadis itu. Dan aku ingin ia tinggal bersama kita di sini." jelas William berkeras dengan keinginannya.
"Tidak mungkin kakek, kalaupun betul gadis itu cucumu, keluarganya di Moskow tidak mungkin mau menyerahkannya padamu kek," jawab Crisstoffer dengan pandangan kosong.
"Kamu tidak kenal aku ya, Criss? Meskipun aku sudah tua tapi keinginanku harus aku dapatkan. Aku ingin menghabiskan masa tuaku bersama denganmu dan Nikita."
Crisstoffer Anderson menarik nafas panjang kemudian meringis. Merasakan kembali rasa sakit dari sisa-sisa pukulan keluarga gadis itu.
"Baiklah kek, aku akan mengikuti lagi kemauanmu kali ini," jawab Crisstoffer pada akhirnya.
Ia akan melakukan tes DNA pada gadis itu. Asam deoksiribonukleat, atau DNA, adalah materi genetik yang diwarisi dari pihak ibu dan ayah.
"Paternitas" mengacu pada kebapakan. Tes DNA paternitas menggunakan DNA, yang biasanya diambil dari usapan pipi bagian dalam, untuk menentukan apakah seorang pria adalah ayah biologis (kandung) dari anak tersebut.
Crisstoffer memandang Andreas yang selama beberapa hari ini berinteraksi dengan Nikita Smith.
"Apa paman Andreas tahu apa yang aku butuhkan sekarang?" tanyanya pada asisten kakeknya itu. Andreas tersenyum. Ia pun mengganguk dan mengambil beberapa hal yang berhubungan dengan gadis cantik yang telah pergi itu.
"Wow, ternyata paman sudah mempersiapkan ini semua?" dokter muda itu takjub dengan apa yang ia lihat di depan matanya.
Halaian rambut dan juga setitik darah di dalam plastik kecil serta beberapa benda yang sudah disentuh oleh gadis itu.
"Sejak pertama bertemu dengan gadis cantik itu, tuan Anderson sudah mencurigai sesuatu jadi pelan-pelan kami mengambil hal-hal yang mungkin akan kami butuhkan nantinya jika saja ada sesuatu yang terjadi. Dan betul saja, orang tuanya datang menjemputnya, tuan." jelas Andreas dengan senyum diwajahnya.
"Kenapa aku bisa terlewat ya paman?" tanya Crisstoffer masih dengan wajah takjubnya dengan bukti-bukti yang sudah dikumpulkan oleh asisten pribadi kakeknya itu.
"Itu karena anda sibuk dengan perasaan yang lain pada gadis itu," jawab Andreas dengan senyum samar di bibirnya dan langsung membuat Crisstoffer tercekat kaget.
Pria itu tak menyangka kalau perasaannya pada gadis itu sudah bisa ditebak oleh paman Andreas.
"Criss, jangan terlalu lama berpikir!" seru William Anderson dengan tegas.
"Sekarang cepat ke Laboratorium dan berikan aku jawaban yang menyenangkan hatiku. Setelah itu kita akan berangkat ke Moskow. Aku tahu mereka pasti menyembunyikan Paula di rumah mereka."
"Baiklah kakek," jawab Crisstoffer kemudian mengambil semua bukti-bukti itu dan berlalu dari hadapan kakeknya. Ia akan menguji sampel genetik itu dan menyandingkannya dengan gen sang kakek.
"Aku ingin bertemu Paula putriku," ujar William Anderson sembari menyusut airmatanya.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍